Tantangan Dakwah Pesantren di Era Disrupsi

28

Oleh: Fahri Rizal

Dewasa ini, disadari atau tidak peradaban manusia telah berangsur berubah. Realita kehidupan manusia telah masuk era revolusi teknologi yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan antar sesama. Dalam skala ruang lingkup dan kompleksitasnya, transformasi yang sedang terjadi sekarang mengalami pergeseran gaya hidup dari sebelumnya. Kemajuan bidang informasi komunikasi dan bioteknologi hingga teknik material mengalami percepatan luar biasa dan membawa perubahan radikal di semua dimensi kehidupan. Kondisi ini menggiring kita agar segera menyesuaikan diri dalam menghadapi era modern yang semakin berubah ini. Khususnya dalam hal ini, pesantren dan santri. 

Salah satu hal yang menonjol pada revolusi ini adalah konektivitas. Kemunculan internet membawa perubahan berarti bagi kehidupan manusia. Terlepas dari dampak negatif  yang ditimbulkan. Semua perangkat sekarang hampir sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Dengan internet semuanya seakan menjadi mudah dan instan. Dan memang begitu, sesuatu yang instan cenderung lebih diminati oleh kebanyakan manusia zaman sekarang. 

Kalau di zaman dulu ketika seseorang ingin membaca atau mencari referensi harus memerlukan berbagai kitab atau buku, kini di era digital dengan hanya membuka aplikasi Maktabah Syameela atau menuliskan kata kunci yang menjadi pokok permasalahan di Google, tanpa membutuhkan waktu lama, semua informasi yang kita butuhkan akan muncul di layar monitor kita, dengan berbagai model dan sumbernya.

Dengan semakin derasnya arus informasi dan komunikasi yang tak terbatas, maka dakwah pesantren pun harus pula berbenah. Pesantren yang notabene sebagai kawah candradimuka pendakwah Islam mempunyai kewajiban untuk segera menyesuaikan diri dalam menghadapi era yang semakin berubah ini. Era disrupsi tidak boleh dihadapi kaum santri dengan ketakutan dengan berbagai mitosnya. Kaidah Al-akhdu bil jadiid al-ashlah harus menjadi prinsip seorang santri. 

Jangan sampai karena kelambanan pesantren dalam menyikapi kemajuan-kemajuan zaman justru menjadi bumerang bagi pesantren itu sendiri, ketika hanya mencetak lulusan yang kuper dan gagap ketika terjun di masyarakat. Tidak bisa menyesuaikan diri dalam kehidupan bermasyarakat modern. Padahal, kiprah santri sebagai ujung tombak, pengawal ilmu agama dan  akhlak sangat dibutuhkan. Santrilah yang mestinya memegang kendali pengetahuan agama di dunia nyata maupun maya. Karena jika tidak, maka medan dakwah akan semakin suram karena diisi oleh mereka ustadz-ustadz yang baru belajar agama, pengharap popularitas dan berdakwah dengan serampangan. Dengan berbekal pengetahuan yang minim mereka dengan mudah memvonis dan menghukumi adat istiadat atau pandangan seseorang dalam beribadah sebagai sebuah kesesatan, bidah atau kemusyrikan. 

Dalam masa yang sedemikian dinamis, santri seharusnya juga memiliki keahlian dalam berdakwah. Santri harus mulai menguasai media dakwah. Jika zaman dulu, santri diajari pidato atau khitobah agar kelak dapat berbicara di masyarakat, kini santri juga perlu memiliki skill yang mumpuni dalam bidang tulis menulis, membuat video pendek, hingga membuat unggahan dan bentuk tulisan di media sosial untuk merespon isu-isu terkini. Santri tidak boleh kudet tentang dunia teknologi dan media sosial. Santri juga harus bisa berdakwah dengan cara tulis menulis, sinematografi, fotografi, membuat video pendek atau caption menarik. Kesemuanya tentu atas dasar usaha dalam meyampaikan dan menyeru kebaikan atau dakwah islami. Bukankah berlaku kaidah dalam berdakwah, Khatibun nas ‘ala qodri uqulihim. Bahwa hendaknya dakwah itu menyesuaikan dengan keadaan orang yang kita dakwahi. Belajar dari strategi dakwah yang dilakukan oleh para wali songo dulu, bagaimana media wayang dijadikan sebagai solusi atau alternatif dalam menyampaikan pesan-pesan risalah nabi. Demikian itu, karena wayang pada masa  itu merupakan sesuatu yang disukai oleh masyarakat. Pun sekarang harusnya dakwah santri harus merambah di Youtube, Snapchat, Instagram, Twitter, Facebook, Telegram dan media-media sosial lainnya yang banyak digandrungi oleh masyarakat zaman sekarang.

Lagi-lagi pesantren sebagai lembaga pengembangan dakwah, tidak lagi hanya bertumpu pada satu cara-cara lama seperti ceramah sebagai satu-satunya teknik dominan dalam menyampaikan materi dakwah dan pembelajaran. Bukan saja jangkauan segmen pendengarnya yang terbatas oleh ruang dan waktu tetapi terkait juga fleksibilitas akses terhadap materi dakwah. Media dakwah dengan basis teknologi mutlak dibutuhkan. Karena realitas masyarakat millennial lebih suka mengakses ceramah, tausyiah dan materi dakwah melalui media sosial. Selain mudah, bisa juga dilakukan dimanapaun dan kapanpun mereka menginginkannya, maka tanpa disadari perlahan tapi pasti media sosial telah banyak memberi pengaruh besar dalam pemahaman agama di masyarakat terutama anak muda ‘zaman now’.

Akhir kata, sudah saatnya santri mengubah mindset lama. Bersikukuh dengan cara dan sistem lama tanpa menghiraukan perkembangan zaman, akan menjadikan aktivitas dakwah kian terpuruk dan tertinggal. Hakikat dari dakwah itu sendiri akan tidak tersampaikan secara kaffah. Kita harus melakukan apa yang dinamakan Self-Driving agar mampu melakukan inovasi-inovasi terobosan terbaru  sesuai dengan tuntutan era modern sekarang. Belajar dari dakwah para Wali Songo, bahwa dakwah harus sesuai dengan zamannya. Karena zaman tidak bisa kita atur atau pungkiri, sedangkan dakwah merupakan sebuah kewajiban bagi setiap insan terkhusus orang yang memiliki kemampuan dan ahli dalam bidang agama. Teriring doa semoga Allah Swt menolong dan memberi petunjuk atas hamba-hamba-Nya yang senantiasa mau dan terus berjuang untuk menyebarkan agama-Nya dalam keadaan apapun dan sampai kapanpun. Aamiin.

Penulis adalah Mahasiswa Indonesia S1 di Fakultas Syariah Imam Shafei College, Kota Mukalla, Provinsi Hadhramaut, Republik Yaman.

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here