21.1 C
Bandung
Thursday, May 26, 2022

Sebuah perkumpulan yang tak memiliki media, sama dengan perkumpulan buta tuli - KH Abdul Wahab Chasbullah

Must read

Ust Saeful Falah : Isra Mi’raj adalah Wasilah Seorang Muslim Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan

Abdul Mun’im Hasan – Acara peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Untuk santriwan dan santriwati bertempat di Masjid Jami Al-Hamidiyah dengan mengusung tema ‘Dengan Memperingati Isra Mi’raj dapat Meningkatkan Kualitas Ketaatan dan Merawat kebhinekaan’. (12/03) Sabtu.

Sambutan pertama oleh KH Abdul Rasyid, Lc
Mewakili Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah. Bahwa acara peringatan ini seyogyanya dilaksanakan pada bulan Rajab lalu, dan walau bulan Rajab telah berlalu namun tidak surut dari kita untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

“Peringatan ini, kita dapat meningkatkan keimanan dan kita sebagai bangsa yang majemuk ini haruslah menyadari bahwa sebagai umat Nabi Muhammad dapat merawat, menjaga kebhinekaan di NKRI tercinta, karena Nabi adalah manusia yang mengajarkan kita sama-sama makhluk Allah Ta’ala,” Ucap Kiai lulusan Jami’ah Irakiyah dan yang aktif di MUI Kota Depok Bidang Dakwah.

Kali ini kita laksanakan secara tatap muka, sudah tidak online, tapi tetap ada recordnya sehingga orang lain dapat mengambil manfaatnya dari peringatan Isra Mi’raj di Pesantren Al-Hamidiyah.

“Alhamdulillah hari ini kita semua berkumpul bersama di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah pada acara yang penuh berkah, acara Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw, semua santri sudah kembali ke Pesantren sehingga kita dapat melaksanakan peringatan ini, walau pun kita sudah memasuki bulan Sya’ban,” Ucap Wakil Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Bidang Kepesantrenan dan Asrama menutup sambutannya.

Ust Faisal sebagai MC memandu acara Isra Mi’raj dan mempersilahkan kepada Penceramah Ust Saeful Falah yang merupakan Alumni MAK Pesantren Al-Hamdiyah pada tahun 2005. untuk menyampaikan Mauidhoh Hasanah.

Penceramah memulai dengan kalimat
الهي انت مقصودى ورضاك مطلوبي اعطني محبتك و معرفتك
Kemudian mengucapkan salam Kepada para hadirin dan hadirat sekalian, memuji kepada Allah SWT dan bershalawat kepada Junjungan Nabi Muhammad Saw. Dilanjutkan dengan mengirimkan bacaan surat Al-Fatihah, Berharap Allah Ta’ala mengirimkan cahaya rahmat dan magfirahnya kepada Al-Magfurlah KH Achmad Sjaichu.

Ust Saeful Falah menyatakan bahwa
Modal yang paling utama adalah Iman.
Suatu waktu ada seekor lalat, si lalat ini tebang dan tanpa sengaja si lalat masuk ke pesawat terbang, keburu di tutup pramugari, dan terjebaklah si lalat di pesawat yang terbang dari Jakarta ke Hongkong dan balik lagi ke Jakarta. Ketika kembali dan terbuka pesawatnya maka si lalat Keluar dan bertemu temannya, si lalat bercerita saya habis terbang ke Hongkong. Lalu Apa kata temennya, bohong kamu. Dan mustahil, si lalat cerita bahwasanya Saya bukan terbang tapi Saya diterbangkan dengan pesawat. Ohh ternyata seperti itu.

Lalu Ust Saeful Falah mengajak para santri membaca Ayat Al-Isra’ ayat pertama

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Al-Isra` : 1)

“Nabi Muhammad SAW, tidak berjalan tapi diperjalankan oleh Allah SWT.
Percis si lalat yang diterbangkan dengan pesawat terbang tadi,” Tegasnya

Diperjalankan oleh Allah Jasadan (جسدا) wa Ruuhan (روحا) dan pada kalimat
Li abdihi (لعبده) dengan hambanya, bahwa manusia itu tidak hanya tubuh fisik biologis.

Maka kalimat itu diawali dengan subhana (سبحان) Kemaha Kuasa Allah, kehebatan Allah, Kebesaran Allah Ta’ala yang
Menunjukan peristiwa amat luar biasa.

Lailan (ليلا), tanwin disitu artinya bukan sekedar malam tapi sedikit dari waktu malam, maknanya singkat (malam tapi tidak sepanjang malam).

Intermezo bahwa saat jadi Santri tahun 2003. Terdapat di Perputakaan yang saat itu tepatnya disini, Masjid waktu itu dilantai dua dan lantai satu adalah Perpus. Kitab babon (tebel) besar, yang tidak banyak dimiliki oleh alim ulama lain, ada syekh dari Al-Azhar
Kata beliau KH Achmad Sjaichu Haza rojulun kabir (هذا رجل كبير) ‘ini orang besar’ dari mana taunya, dari koleksinya (Kitab, punya Pesantren, suka baca, suka belajar) dan ditemukan banyak catatan kaki dipinggirnya.

“Maka koleksilah sesuatu yang mengantarkan pada kemanfaatan, (Al-Qur’an, Kutubut Turots) Kiai Sjaichu merupakan tokoh besar, baca biografi, ziarahi, Al-Magfurlah adalah orang Sholih, dan doa ketika berziarah di makam orang Sholih adalah Mustajab/dikabulkan (الدعاء عند قبر الصالحين مستجاب) ” Tegasnya.

Acara peringatan Isra Mi’raj dimulai dengan pembacaan Maulid Simtud Duror dan beberapa Shalawat diiringi hadrah, turut hadir pada acara ini KH Abdul Rasyid,Lc Ust Ahmad Ridwan (LBMNU Jaktim), Ust. Syifa Zakaria (Alumni PKPNU Segmen Pesantren), Ust Mukhlis (Ketua Panitia Isra Mi’raj), Ust Abdul Fatah Al-Hafidz (Kader LDNU Pusat), Ust Faisal, Ust Yunus (IT Kajis) Ust Tanzih (IT Kajis), Ustazah Fitri, Ustazah Cucu, Ustazah Umi Shofi (Koord Putri) dan para santriwan/santriwati Pesantren Al-Hamidiyah, Ust Mun’im. Mengakhiri acara peringatan Isra Mi’raj dengan pembacaan doa Tawasul kepada Nabi Agung yang diisra’kan oleh Dzat yang Maha Suci Allah SWT.

Pewarta : Abdul Mun’im Hasan

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article