The news is by your side.

Waspada, Akademisi di Kampus Negeri Terpapar Hoaks

Banjar, NU Online

Bahaya hoaks ternyata juga menimpa sejumlah akademisi di jajaran struktural perguruan tinggi negeri. Jika akademisinya tak bisa membedakan antara fakta dengan hoaks, bagaimana dengan mahasiswanya. Ini patut menjadi renungan bersama. Seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan tinggi di Indonesia harus waspada.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris Umum PWNU Sulawesi Selatan, H Taufik Sanusi, dalam sidang Komisi Rekomendasi yang digelar di lantai 2 gedung rektorat lama STAIMA Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2).

“Sekelas rektor di sebuah kampus negeri di Makassar kok bisa terpapar hoaks soal ideologi komunis. Jadi, beliau percaya bahwa Presiden Jokowi itu keturunan PKI,” ujarnya di hadapan peserta sidang yang diikuti mayoritas perwakilan PWNU se-Indonesia.

Dalam forum tersebut, Taufik menanyakan kemungkinan bisa tidaknya PBNU duduk bersama para menteri terkait untuk membahas masalah hoaks tersebut. Ia berharap, untuk akademisi NU di level pimpinan setingkat rektor, idealnya direkomendasikan oleh PCNU dan PWNU setempat.

“Selama ini mereka menggunakan koneksi di Jakarta. Kalau bisa, saya berharap jangan lagi ada rekomendasi personal. Jadi, harus dari bawah rekomnya. Rekomendasi struktural namanya,” tandas Taufik.

Menurut dia, kader NU harus menggunakan kekuasaan yang dimiliki baik di eksekutif maupun legislatif  untuk mengkader Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah. “Nah, saya kira perlu ada rekomendasi terstruktur terkait pengkaderan ini,” tegasnya.

Ia teringat pesan Gus Dur di suatu kesempatan, bahwa NU ini mahal harganya. “Jika ingin NU maju, harus turut berjuang di NU,” tambah Taufik.

Senada dengan Taufik, delegasi PWNU Aceh Aminullah Ja’far menyoroti tentang penguatan kader di daerah minoritas NU. Aceh diakuinya minim NU struktural. Namun, secara amaliah dan ibadah bisa jadi lebih mantap daripada NU di Jawa.

“Advokasi ini dilakukan melalui kerjasama dengan BIN atau BAIS. Jadi, jika sudah hafidz tidak perlu tes lagi untuk menjadi ASN, misalnya. Ini salah satu advokasi intelegensi ideologi,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Aunullah A’la dari GP Ansor menyoroti rekomendasi eksternal terkait Wawasan Islam Nusantara sebagai Solusi Perdamaian Dunia. “Perlu kiranya kita mendorong pemerintah untuk memiliki agenda jelas mensukseskan agenda itu,” kata dia.

Delegasi Muslimat NU, Naimah Fathoni, secara garis besar mendukung usulan para delegasi PWNU. “Termasuk di masjid, yang kurang itu dakwah bil hal. Intinya, perlu penguatan dakwah model ini,” pungkasnya. (Musthofa Asrori)

Sumber : NU Online

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.