Aku Lahir dari Rahim Muslimat

Aku lahir dari rahim Muslimat. Mungkin begitulah yang bisa aku klaim. Ibuku seorang pejuang Muslimat NU di daerah Blora, Jawa Tengah. Di luar jam kerjanya sebagai guru SD, semasa hidupnya, ibuku menghabiskan siang hingga sore untuk Muslimat. Dengan sepeda motor bututnya, ia menyapa dari desa ke desa, dari pengajian ke pengajian.
Penghasilan kecil sebagai guru SD saat itu tak menyurutkan nyalinya. Begitu juga ketika harus menjadi single parent karena Abah wafat, bukannya surut, aktivitasnya dengan Muslimat NU semakin padat.
Muslimat NU adalah salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama yang paling sibuk berkegiatan. Organisasi ini juga sejak dahulu paling kuat menunjukkan otonominya.
Tak salah bila ia tampil begitu independen dan mandiri. Jangan tanya butuh uang berapa kepada Muslimat ketika akan berkegiatan. It’s not a big deal for them, guys!! Ada asupan dana atau tidak mereka selalu berkegiatan. Mereka terbiasa dengan ‘urunan’ atau iuran untuk urusan apa pun.
Setahuku, Muslimat NU ini sangat kuat karena dari akarnya memang dikelola oleh perempuan-perempuan tangguh yang mencintai organisasi, masyarakat dan kiainya. Apa pun siap dikorbankan.
Organisasi ini juga terkenal sangat andap-asor dan tawadlu’ sehingga nyaris tidak pernah terdengar konflik kepemimpinan di tingkat elite. Ingatanku masih sangat lekat ketika Ibuku cerita bahwa ia lega karena sebentar lagi akan konferensi Muslimat sehingga ia bisa melepaskan jabatan ketua yang sudah diemban selama 2 periode.
Tetapi, yang terjadi kemudian berbeda. Beliau dipilih lagi setelah tidak ada yang mau menggantikan posisinya sebagai ketua PAC Muslimat. Aku tahu dari nada suaranya di balik telepon ia agak risau, mungkin karena berharap akan ada yang menggantikannya.
Tapi, itulah tradisi Muslimat NU, selama pemimpin masih mampu ya yang lain akan tawadlu’ dan no more conversation on succession, “biar tidak menjadi kurang adab,” begitulah kira-kira.
Hingga masuk ke liang lahat, Ibuku masih menjabat sebagai ketua Muslimat NU. Warisannya pun masih terasa hingga kini. Sudah 9 tahun pulang ke rahmatullah namun setiap tahun Ibu-ibu Muslimat masih memperingati kematiannya dengan menggelar haul dan pengajian, oh ya dengan dana iuran mereka sendiri.
Selamat Hari Lahir Muslimat…
Ah…aku jadi kangen ibu..
Alfatihah…
(Irham Ali)
Sumber : NU Online
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



