Al-Maun dan Pemuda

23

Al-Maun dan PemudaBeberapa hari kemarin Banser PAC. Sindang di intruksikan oleh MWCNU. Sindang dan Indramayu untuk ikut serta mengkondisikan kepanitian peduli yatim/piatu dan dhuafa pada sabtu (15/9) bertempat di BPR. Karya Remaja Indramayu, walaupun di sela waktu yang sempit, ketua MWCNU. Sindang Ustadz Moh. Abdul Djalil menjelaskan tentang keterkaitan pemuda dan surat al-maun.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
(2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3)

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Iklan Layanan Masyarakat

Setelah motifasi di sampaikan dan keyakinan dalam membangun yatim/piatu serta memberi sesuatu terhadap fakir miskin adalah keberkahan, maka bertambahlah ghiroh kader Banser PAC. Sindang dalam ikut serta pada ranah pembangunan sosial kemasyarakatan.

Dalam motifasinya ustadz Abdul Djalil menambahkan bahwa memahami konteks pembangunan pasti ada sebuah hambatan, karena membangun sama artinya dengan bergerak, sedangkan bergerak adalah syarat mutlak untuk menjadi manfaat “Jika di cermati berdasarkan dawuh Mbah Sahal Mahfudz, bergerak adalah syarat di atas semua perjuangan, maka jika kita ingin menjadi orang yang baik-baik maka kita hanya cukup diam, namun jika kita ingin menjadi orang yang bermanfaat maka syaratnya adalah bergerak” jelasnya.

Dawuh tersebut menurut ketua MWCNU. Indramayu ustadz H. Harto Prayitno, adalah sebuah pengkomperasian dari hadits Khoirunnas angfa’uhum linnas “Sebaik-baik di antara manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”, maka jika kita hayati apa yang ada pada wejangan tersebut, akan dapat kita temukan bahwa sebenarnya apa yang di lakukan oleh sahabat – sahabat Banser tentang usahanya dalam membangun keadilan sosial adalah sebuah hal yang patut di lakukan secara kontinue di tengah-tengah masyarakat ” ucapnya.

Ustadz. Harto juga menambahkan dawuh guru bangsa Gusdur bahwa “Jika apa yang kita lakukan adalah sebuah kebaikan, maka orang tidak akan bertanya apa suku bangsa dan agama kita” karena sejatinya esensi (isi) dari agama adalah kebaikan, dan kebaikan akan di benarkan berdasarkan akhlak dan isi kepala masing-masing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here