Allah, Malaikat, dan Nabi Bershalawat kepada Pembaca Shalawat

19

Ada banyak keistimewaan dan fadhilah dalam membaca shalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Menurut Syekh Abdullah Sirajudin Al-Husaini di dalam kitab As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam ada banyak keutamaan dan keistimewaan membaca shalawat di mana pena tak akan mampu menuliskannya dan buku tak akan bisa mengungkapkannya. Berkaitan dengan topik bahasan tulisan ini ada 3 (tiga) keutamaan shalawat yang disebut oleh Al-Husaini yang menunjukkan bahwa orang yang bershalawat kepada Nabi pada hakikatnya ia bershalawat untuk dirinya sendiri. Ketiga keutamaan dan keistimewaan itu adalah:

Pertama, orang yang bershalawat sekali kepada Nabi akan dishalawati oleh Allah sepuluh kali.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam An-Nasai Rasulullah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Kedua, orang yang betshalawat kepada Nabi akan dishalawati oleh beliau. Rasulullah akan membalas shalawatnya orang yang bershalawat kepadanya.

Sahabat Anas meriwayatkan sebuah hadits di mana Rasulullah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ بَلَغَتْنِي صَلَاتُهُ وَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ سِوَى ذَلِكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku maka shalawatnya sampai kepadaku dan aku bershalawat kepadanya dan ditulis baginya selain itu sepuluh kebaikan.” (HR. Thabrani)

Ketiga, orang yang bershalawat kepada Nabi akan dishalawati oleh para malaikat.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dituturkan bahwa Abdullah bin Amr pernah berkata:

مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ وَمَلَائِكَتُهُ سَبْعِينَ صَلَاةً

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sekali maka Allah dan para malaikatnya bershalawat kepadanya tujuh puluh kali.” (Abdullah Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, [Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990], hal. 97-98)

Dari ketiga keutamaan shalawat di atas menujukkan bahwa orang yang membaca shalawat maka ia akan dishalawati oleh Allah, Rasulullah dan para malaikat. Shalawat yang dibacanya untuk Rasulullah akan berbalas shalawat untuk dirinya. Lebih dari itu satu shalawat yang ia baca untuk Rasulullah bahkan berbalas sepuluh sampai tujuh puluh shalawat untuk dirinya sendiri.

Bila shalawat bermakna rahmat maka orang yang membaca shalawat pada hakekatnya sedang memohon rahmat Allah untuk dirinya sendiri jauh lebih banyak dari rahmat yang ia mohonkan untuk Rasulullah. Semakin banyak ia bershalawat maka akan semakin banyak dan berlimpah pula rahmat Allah yang dianugerahkan kepadanya. Bisa dibayangkan, betapa dalam keadaan yang sangat baik orang yang membiasakan diri memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Bila demikian adanya maka perintah Allah kepada orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi sesungguhnya bukan saja untuk mewajibkan mereka memenuhi hak-hak Rasulullah dengan bershalawat namun juga sebagai sarana bagi mereka untuk mendapatkan limpahan kebaikan dan keberkahan, juga dengan shalawat.

Adalah sebuah keistimewaan luar biasa ketika seorang hamba dishalawati oleh para malaikat, Rasulullah dan lebih-lebih oleh Allah. Ketika seorang hamba mendapatkan shalawat dari Allah maka ia telah mendapatkan keistimewaan yang luar biasa yang patut disyukuri. Mengapa demikian?

Sebuah ilustrasi sederhana. Pernahkah Anda mendapat hadiah dari seorang kekasih yang Anda cinta? Pernahkah Anda mendapat hadiah dari seorang pejabat penting, seorang yang tinggi kedudukan dan sangat dihormati oleh masyarakat karena kebaikannya? Bagaimana perasaan Anda ketika mendapatkan hadiah dari orang-orang seperti itu? Tidakkah Anda merasa tersanjung dan bangga mendapatkannya?

Bisa jadi mendapatkan hadiah adalah hal yang biasa dan lumrah bagi setiap orang yang menerimanya. Tapi mendapatkan hadiah dari orang-orang istimewa adalah satu keistimewaan tersendiri. Bukan karena rupa hadiahnya yang membuat si penerima tersanjung dan bangga, tapi siapa pemberinya yang membuat hadiah itu menjadi lebih istimewa.

Alhasil, bila menerima hadiah dari orang-orang istimewa adalah sebuah keistimewaan, lalu bagaimana bila pemberi hadiah itu adalah Allah Tuhan semesta yang maha segalanya? Bagaimana pula istimewanya bila seorang menerima hadiah shalawat dari para malaikat, makhluk Allah yang hanya melakukan ketaatan saja? Juga, bagaimana senang dan bahagianya orang yang dishalawati oleh Rasulullah, mengingat bershalawatnya beliau kepada orang yang membaca shalawat menunjukkan bahwa beliau mengenali orang tersebut. Tidakkah bangga bila dikenali oleh Rasulullah?

Maka tidaklah heran mereka yang benar-benar memahami hal ini selalu membiasakan diri membaca beribu shalawat kepada Nabi di siang dan malam hari. Bagaimana dengan Anda, sudahkah banyak bershalawat hari ini? Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ Muhammad.

Wallâhu a’lam.

(Yazid Muttaqin)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here