Apa yang Dilihat dari Salib

42

Oleh Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar
Ketua LTN NU Kota Bandung

Dua sisi yang perlu kita cermati dari jawaban Ust. Abdul Shomad (UAS) dari video ceramahnya yang dilaporkan ke polisi: Substansi jawaban dan cara, gaya dan retorika ketika menjawab.

Dalam forum tanya jawab yang sangat terbatas, fatwa (opini hukum) diberikan secara instan, singkat dan padat tanpa menyertakan dalil dan proses ushul fiqih yang melahirkan fatwa tersebut. Yang penting penanya merasa terjawab. Memang inilah kelemahan forum tanya jawab di majlis-majlis ta’lim untuk umum. Meski demikian, ustadz yang menjadi narasumber tetap dituntut untuk menjawab dengan akurat.

Satu pertanyaan mempunyai seribu satu jawaban. Jika narasumber seorang pakar maka ia akan menjawab sesuai dengan kondisi penanya. Dalam kitab Fadhilatul A’mal yang menjadi rujukan Jama’ah Tabligh, banyak sekali jawaban Rasulullah Saw tentang satu pertanyaan, amal apakah yang paling baik? Rasulullah Saw menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda. Kepada satu sahabat dijawabnya, shalat sebagai amal terbaik. Kepada sahabat yang lain dijawabnya; Dzikir, sedekah, shalawat, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, dll. Ternyata Rasulullah Saw menjawab sesuai kondisi sang penanya.

UAS menjawab dengan perspektif Islam ketika ditanya tentang melihat salib. Beliau berhak atas perspektifnya walaupun berbeda dengan keyakinan umat Kristen. Dan sudah pasti umat Kristen juga berhak atas keyakinannya. Ada jin di salib, apakah menempel atau masuk melebur dalam salib, tidak dijelaskan oleh UAS. Hadits yang menerangkan hal tersebut tidak dikutip. Mungkin karena forumnya sangat terbatas sehingga jawaban UAS sangat dangkal. Yang jelas jawaban UAS ditujukan untuk penanya muslim. Itu satu di antara seribu satu jawaban tentang melihat salib.

Berinteraksi dengan umat Kristen pengalaman kita semua. Tidak terkecuali saya pribadi. Di Pangkalpinang prosentase warga Tionghoa lumayan banyak. Sebagian dari mereka beragama Kristen. Mereka teman sebangku satu sekolah dan teman sepermainan. Biasa saja. Saya ke masjid mereka ke gereja. Waktu hari raya saling berkunjung.

Di Bandung saya pernah bekerja sebagai Mang Galon. Konsumen kami ada yang beragama Kristen. Saya masuk rumah sampai dapur mengantar air galon. Saya sering melihat salib. Juga pernah mengantar air minum kemasan gelas ke gereja untuk acara kebaktian. Hubungan dengan konsumen non muslim (beragama Kristen) baik-baik saja. Saling tolong-menolong.

Jika bulan puasa, ada di antara mereka yang memberi makanan untuk berbuka. Tapi saya berikan ke teman di toko yang tidak puasa. Menjelang Idul Fitri ada yang memberi sarung. Ketika hari Minggu mereka ke gereja. Pagi-pagi pesan air, tetap diantar meski mereka tidak di rumah dan belum bayar. Menunggu mereka pulang dari gereja. Semua rukun.

Sama seperti UAS, sebagai muslim saya meyakini konsepsi dan persepsi Islam tentang Allah Swt, Nabi Isa (Yesus), salib dan Maryam (Maria). Namun saya punya perspektif lain tentang melihat salib. Salib bagi umat Kristen sependek pengetahuan saya adalah simbol/lambang yang memuat makna-makna keyakinan yang keyakinan tersebut berbeda dengan keyakinan saya.

Dalam hati saya, “Allah Swt kok Maha Baik. Semua dikasih rezeki. Semua diberi nikmat. Air minum galon dianter. Padahal mereka berbeda persepsi dengan saya tentang Allah Swt.” Makanya saya kalau melihat salib, bertasbih membaca subhanallahi wa bihamdihi subhanallahil ‘adzhim. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persepsikan. Maha Terpuji Allah yang tetap mencurahkan rezeki dan kenikmatan kepada mereka. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persepsikan. Maha Agung Allah atas kebaikan-Nya.

Saya mengkhayal seumpama saya yang ditanya jamaah, apa yang dilihat dari salib? Maka akan saya jawab, ada kasih (Rahman) Allah Swt. Lalu saya uraikan latar belakang filosofi tasawufnya. Saya tidak akan menjawab ada jin. Karena jawaban seperti itu tidak terlalu berpengaruh kepada keruhanian sang penanya. Jawaban yang tidak bermanfaat bagi kebermaknaan kehidupan beragama. Dan saya tidak akan menjawab dengan rasa bahasa, bahasa tubuh, mimik muka, intonasi yang terkesan mentertawakan (melecehkan) bernuansa lucu-lucuan yang berpotensi menyinggung perasaan umat Kristen.

Dialog, diskusi dan debat dengan umat Kristen pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw dengan rombongan keuskupan Najran dan Ja’far bin Abi Thalib dengan Raja Najasyi. Rasulullah Saw dan Ja’far menyampaikan persepsi Islam tentang Allah, Nabi Isa (Yesus) dan Maryam (Maria) apa adanya tanpa melukai perasaan umat Kristen. Karena dakwah Islam yang sebenarnya itu mengajak bukan mengejek.

Bandung, 21 Agustus 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here