The news is by your side.

Apa yang Harus Dilakukan LDNU?

Apalagi di Kabupaten Cirebon. Kabupaten yang dikelilingi Pesantren-pesantren besar di antaranya Pesantren Babakan, Ciwaringin, Pesantren Kempek, Pesantren Gedongan, Buntet Pesantren dan masih banyak lagi. Jangankan di Bandung, kami di Cirebon juga seperti keteteran melihat gerakan-gerakan yang mengarah pada indoktrinasi ideologi radikal. Untungnya PCNU Kabupaten Cirebon yang digawangi KH. Wawan Arwani Amin dan KH. Azis Hakim Syaerozie betul-betul memahami kondisi ini, sehingga kemudian Banom dan Lembaga di PCNU semuanya digerakkan untuk turun langsung menjaga masyarakat dari berbagai gangguan.

Saya sendiri berbekal belajar di Pesantren, di Perguruan Tinggi, di Jaringan Islam liberal, bersama saudara-saudara kita yang non Muslim, komunitas Ahmadiyah, Syiah dan terakhir mencoba “belajar merunduk” bersama teman-teman hijrah-radikal selama lebih kurang 2 tahun 4 bulan, saya merasa dakwah NU harus diperbaharui dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Tradisi yang lama tetap dilestarikan, hanya saja inovasi harus diinisiasi dan diwujudkan. Dakwah NU, hari ini tidak bisa hanya mengandalkan ceramah. Kita harus lebih berani dan pro aktif melakukan dakwah-dakwah yang menyeluruh.

Akhirnya saya mengungkapkan bahwa kalau dakwah NU mesti kontekstual dan konkrit. Kita mesti mengupayakan dakwah yang merangkul, bukan memukul. Kepada teman-teman hijrah-radikal sekalipun. Saya titip agar para dai NU tidak lagi “menyerang” dan menyalahkan dakwah-dakwah Ormas dan kelompok lain di luar NU. Selama saya belajar di berbagai tempat dan kesempatan itu, saya selalu meyakini bahwa Islam ala NU adalah Islam rahmatan lil’alamin yang paling sesuai dengan konteks Indonesia. Mengapa? Dakwah ala NU adalah dakwah bersanad yang sanadnya menyambung dengan para ulama Nusantara, para Walisongo sampai Rasulullah saw. Inilah berkah dakwah NU.

LDNU harus membekali para dainya dengan kemampuan public speaking dan manajemen organisasi yang lebih baik. Mengapa dakwah teman-teman hijrah-radikal bisa viral dan garang? Kuncinya para dai mereka mempunyai kemampuan public speaking yang “menyihir” dan dakwah pemberdayaan (sedekah dan infak jemaah digunakan untuk pemberdayaan umat di berbagai bidang: pendidikan, ekonomi, kesehatan, dll). Mereka juga menggenjot dakwah kolaboratif, saling menguatkan dan saling membela. Contoh ketika mereka menyelenggarakan Hijrah-Fest. Mereka menjejerkan dai-dai andalan, para jemaah mendaftar (berapapun biayanya), sambil menginap, jemaah yang mempunyai anak, ada penitipan anak khusus beserta fasilitas lengkapnya, berikut membangun kekuatan ekonomi komunitas (berjualan gamis, cadar dan lain sebagainya).

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.