Bangkitnya Fatayat NU Banjaran di Bumi Kabupaten Bandung

92

Kecamatan Banjaran sebelumnya tidak pernah terdengar yang namanya Fatayat NU. Bahkan mungkin terdengar asing ditelinga masyarakat. Namun beberapa bulan ini dengan pakaian khas nya yang berwarna hijau mulai mewarnai kecamatan Banjaran.

Kiprah nya di NU Banjaran mungkin masih belia, namun semangat untuk menyebarkan paham ajaran Ahlussunnah wal jama’ah dalam wadah NU seakan tak akan mati. Kesiapannya dalam mensukseskan acara NU pun bisa dikatakan luar biasa. Ini dibuktikan seperti halnya kemarin hari minggu tanggal 21 juli 2019, dalam acara temu alumni Fatayat NU kab. Bandung di Kantor PCNU kab. Bandung yang terletak di daerah Ciparay. Fatayat NU Banjaran menerima mandat sebagai panitia acara pukul 07.00 sedangkan acara dimulai 08.00. Hal itu diterima dan acara pun alhamdulillah sukses.

Namun ada hal yang unik dari acara temu alumni Fatayat NU kemarin, yaitu adanya pembacaan kitab Safinatunnaja karangan Syekh Nawawi al-Bantani. Bagi penulis ini adalah hal unik, karena biasanya dalam acara temu alumni, yang ada adalah bercerita tentang masa lalu, tanya keadaan masing-masing orang. Namun ini, diisi dengan mengaji kitab kuning. Kitab ini dibacakan oleh teteh Wardah Fauziyyah salah satu alumni Ponpes Lirboyo Kediri. Salah seorang kader Fatayat NU Banjaran.

Setelah melihat kesigapan para kader fatayat NU. Penulis teringat dengan peran Fatayat NU dalam menjaga keamanan dan keutuhan NKRI sekitar tahun 60 an. Peran mereka dan jasa mereka luar biasa untuk negeri ini. Fatayat NU terlibat dalam latihan-latihan militer sebagai sukarelawan pengamanan negara. Peran yang sangat tidak biasa untuk kaum wanita.

Hari ini peran mereka bukanlah latihan militer untuk menjaga keamanan negara. Namun peran mereka adalah menjaga bangsa ini dari paham-paham yang merusak persatuan dan kesatuan. Salah satu nya adalah pemberdayaan dan pengenalan kitab kuning kepada masyarakat. Karya-karya ulama-ulama terdahulu.

Hal itu untuk menangkis kedok semboyan “Kembali kepada al-Quran dan al-Hadits” karena semboyan itu hakikatnya adalah untuk menghilangkan peran ulama dan menjauhkan masyarakat dari ulama.

Sebuah tantangan yang tidak mudah mungkin, namun apabila kita cermati setiap perubahan zaman maka tantangannya pun akan berbeda. Penulis yakin Fatayat NU disetiap generasinya dicipta untuk tantangan zamannya.

Semangat yang luar biasa para kader Fatayat NU semoga menjadi pendorong bagi kader NU lainnya untuk aktif dan mengambil perannya masing-masing. Karena pensinergian setiap kader NU akan mudah menangkis paham-paham yang dapat merusak kesatuan bangsa ini.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here