The news is by your side.

Beda Tarawih di Indonesia, Maroko, dan Yaman

Jakarta, NU Online

Shalat tarawih menjadi salah satu kesunahan utama dalam mengisi bulan Ramadhan mengingat hanya ada di bulan suci ini saja. Meskipun ulama sepakat akan sunahnya, tetapi tidak ada kesepakatan di kalangan ulama perihal jumlah rakaatnya. Hal tersebut sudah maklum di seluruh umat Islam, hatta orang awam sekalipun.

Perbedaan itu tidak saja terjadi di Indonesia. Masyarakat Timur Tengah juga mengalami hal yang sama. Kakak beradik yang tengah studi di dua negara berbeda ini, misalnya.

Ro’fat Hamzi, sang kakak,menuturkan bahwa jumlah rakaat shalat tarawih di Tarim, Hadramaut, Yaman adalah 20 rakaat. “Seperti di pesantren di Indonesia, shalat tarawih 20 rakaat,” katanya kepada NU Online pada Selasa (21/5).

Lebih lanjut, Hamzie menjelaskan bahwa masyarakat Yaman dan beberapa mahasiswa asal Indonesia bahkan melakukan tarawihnya 100 rakaat selama satu malam karena mengikuti tarawih di lima masjid berbeda. Mereka berkeliling dari satu masjid ke masjid lain.

“Biasanya sih ada mahasiswa yang sering begitu,” kata mahasiswa Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadramaut, Yaman itu.

Perihal tarawih keliling itu, Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) Universitas Al-Ahgaff, kata Hamzie, berinisiatif menyusun jadwal tarawih setiap masjid di seantero Kota Tarim. “Karena Tarim itu masjidnya banyak,” katanya.

Namun, bacaan Al-Qur’an di sana, lanjutnya, berbeda dengan di Indonesia. Jika umumnya masyarakat Indonesia menggunakan riwayat Hafsh dari Imam ‘Ashim, masyarakat Tarim umumnya menggunakan bacaan Al-Qur’an riwayat Ad-Duri dari Abu Amr.

Berbeda dengan adiknya, Safrie Ilman yang tengah studi di Maroko. Ia menuturkan bahwa di tempatnya, tarawih dilakukan 16 rakaat. Selepas Isya, ia melaksanakan tarawih delapan rakaat dan delapan rakaat lagi sebelum sahur.

“Imamnya diambil dari santri-santri muassasah sendiri, juga orang-orang tetangga muassasah,” kata pelajar Madrasah al-Fath Khos li Ta’lim al-‘Atiq, Aioun, Maroko itu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap dua rakaat, imam berganti. Selama delapan rakaat itu, bacaan surat setelah surat Al-Fatihah satu hizb.

“Jadi satu hizb buat tarawih delapan rakaat setelah Isya, dan satu hizb lagi buat tarawih delapan rakaat sebelum Subuh,” ujarnya.

Lamanya tarawih di Maroko juga karena imam menggunakan qiraat Imam Nafi’ riwayat Warsy yang banyak terdapat bacaan mad lazimnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Sumber : NU Online

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.