Ceng Mujib: NU Tetap Komitmen Indonesia sebagai Darussalam

146

Ceng Mujib: NU Tetap Komitmen Indonesia sebagai Darussalam

Pengajian Bulanan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut di Pondok Pesantren Salaman (Fauzan III) teguhkan Komitmen Indonesia sebagai Darussalam. (16/10)

Pengajian bulanan tersebut dihadiri oleh Ketua dan jajaran pengurus MWC NU Sukaresmi, PRNU se-Kec. Sukaresmi, jajaran pengurus Banom dan lembaga NU serta ribuan warga Nahdliyin Kec. Sukaresmi.

Iklan Layanan Masyarakat

“Mengingat maraknya isu-isu hoaks dan juga propaganda terkait pendangkalan agama melalui media, maka kita harus tetap berpegang teguh dalam menjalankan agama sesuai dengan prinsip-prinsip madzhab yang dianutnya.” tutur Pangresa Aceng Mujib dalam ceramahnya.

Pangresa Ceng Mujib menyampaikan bahwa “warga Nahdliyin harus tetap berpegang teguh bahwa Indonesia sebagai Negara berlandaskan ideologi Pancasila, karena Pancasila sudah tidak bisa ditawar lagi untuk dirubah, apalagi d ganti. Karena ulama NU pada tahun 1936 telah menetapkan Indonesia sebagai Darussalam yakni negara keselamatan bagi seluruh rakyat yang hidup dan tinggal didalamnya. Jauh sebelum Indonesia merdeka.” Pungkasnya

Pangresa Ceng Mujib juga menekanan “……warga NU wajib mempertahankan Indonesia sampai titik nadir, itu terbukti ketika tiga bulan Indonesia baru merdeka tentara sekutu akan merebut kembali Indonesia dengan paksa, sehingga Presiden Soekarno meminta arahan kepada Hadratusysyaikh KH. Hasyim Asyari melalui Bung Tomo untuk memberi petunjuk terkait membela tanah air hukumnya apa. dari hal tersebut, munculah fatwa membela tanah air adalah jihad fisabilillah sehingga dikenal dengan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Sehingga hari itu dikenal dengan Hari Santri Nasional (HSN) sebagai bukti santri Indonesia ikut andil dalam menjaga dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.” tuturnya.

Sebelum menutup ceramahnya, Pangresa Ceng Mujib menyampaikan bahwa “Jika ada isu Banser menolak bendera HTI yang berlapadz لااله الا الله, yang ditolak bukan lafadznya, namun pehamanan radikalismenya yang ditolak, bahkan sejak dulu NU menolak DI/TII karena pemahaman mereka yang radikal. kan lucu jika kita menolak kalimah tauhid padahal tiap hari kita sendiri selalu berdzikir mengucapkan kalimah tersebut.” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here