Diskusi Pergunu Depok, antara Gus Dur dan Hari Santri Nasional

16

Diskusi Pergunu Depok, antara Gus Dur dan Hari Santri NasionalSiapa yang tidak kenal dengan Guru Bangsa kita ini, ia adalah salah satu ulama terbesar di Indonesia yang merupakan cucu pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama KH Hasyim As’ari. Sikap kontroversial dan nyelenehnya adalah ciri khas beliau. Namun, bagaimanapun ia tetap  dicintai masyarakat banyak karena sikapnya dalam membela kaum minoritas dan kaum kecil.

Dibalik sikap nyelenehnya beliau mampu menelurkan tokoh-tokoh besar baik secara langsung maupun tidak antara lain: KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siradj, Mathori Abdul Jalil, Muhammad As Hikam, Alwi Shihab, Choirul Anam, Saifullah Yusuf, A Muhaimin Iskandar, Mahfud MD dan Khofifah Indar Parawansa seperti yang dikutip dalam bukunya Hanif Dhakiri 41 Warisan kebesaran Gusdur.

Dalam hal ini Pergunu mengadakan diskusi dengan mengangkat tema “Cara Mencetak Tokoh Besar Dalam Pendidikan Gus Dur” tepatnya di Quadran Cafe, Jl Margonda Raya No. 200, Kota Depok.

Iklan Layanan Masyarakat

Tampak hadir dalam diskusi tersebut Abdullah Nur Wakil Ketua PC Pergunu Depok, Heru aktifis PMII, Galih anggita Pergunu dan Hakim dari Peace Leader Indonesia serta pegiat kajian Islam.

Pergunu salah satu lembaga yang dimiliki NU ini giat blusukan ke sekolah-sekolah ataupun pondok-pondok pesantren untuk mengisi seminar dan workshop sekaligus Road Show membahas isu pendidikan dan Perdamaian, yang sejak awal sinergi dengan Peace Leader Indonesia, yaitu sebuah gerakan Keberagaman yang dimotori oleh para anak-anak muda yang sudah tersebar di beberapa kota di Indonesia.

Diskusi ini dimulai siang Hari, pukul 12.00 wib, setelah hadir meramaikan Kirab Pawai Santri dalam menyemarakkan Hari Santri Nasional tak jauh dari lokasi diskusi.

Sebagai pengurus Pergunu, maka semestinya mengambil teladan dari Guru Bangsa, yaitu alm Gus Dur yang sangat berjasa untuk negri ini, terutama dalam pendidikan dan persatuan, serta amat banyak pelajaran yang sampai saat ini masih perlu di kaji tentang sosok alm Gus Dur, ujar Abdullah.

Diskusi usai jam 4 sore di saat rintik hujan pun terhenti setelah mengguyur Margonda dan sekitarnya.

Diskusi ini sejatinya diulas dari buku M Hanif Dhakiri yang berjudul 41 warisan kebesaran Gus Dur, yang telah beberapa kali cetak ulang oleh penerbit Lkis Jogja, penting untuk menjadi bahan diskusi rutin dikalangan pemuda dan Aktivis umumnya, ujar Hakim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here