19.3 C
Bandung
Friday, May 27, 2022

Sebuah perkumpulan yang tak memiliki media, sama dengan perkumpulan buta tuli - KH Abdul Wahab Chasbullah

Must read

Dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad dalam Persepsi Awam

Srie Muldrianto – Fenomena pengobatan DSA yang dilakukan oleh dr. Terawan menjadi viral di berbagai media. Alternative pengobatan atau terapi yang dilakukannya telah banyak membantu pasien yang terkena stroke. Sayangnya alih-alih mendapat penghargaan dari rekan sejawatnya dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Pak Terawan malah dapat peringatan sementara dari IDI dan Majelis Etik IDI agar dikeluarkan dari IDI secara permanen. Mengapa? Dan apa dampaknya?

Majelis etik (MKEK: Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) IDI mengumumkan keputusannya pada muktamar IDI ke XXXI di Aceh telah mendapat tanggapan yang beragam dari berbagai pihak baik yang pro maupun yang kontra. Yang pro menganggap bahwa IDI sebagai organisasi profesi keilmuan memiliki standar dan norma tertentu yang harus diikuti oleh seluruh anggota dan bila melanggarnya maka ada sanksinya.

Terawan sebagai dokter radiologi intervensi dianggap telah melanggar kode etik kedokteran karena melakukan tindakan tanpa melibatkan dokter spesialis lain sesuai bidangnya. Sebagai dokter radiologi intervensi harusnya dia bekerja sesuai bidangnya jadi jika ada kasus penyakit yang tidak terkait bidangnya hendaknya dia meminta dokter terkait untuk menangani dan atau memberikan referensi agar ada tindakan sesuai petunjuk dokter terkait. Nah hal inilah yang dianggap melanggar prosedur atau birokrasi kedokteran disimpulkan dari pendapat Dr. Ryu Hasan Sp. BS (https://youtu.be/yeZdSLL)05sE).

Sedangkan hasil sidang MKEK adalah sebagai berikut:

Pertama, mantan Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) itu disebut belum menyerahkan bukti telah menjalankan sanksi sesuai SK MKEK No. 009320/PB/MKEK-Keputusan/02/2018 tertanggal 12 Februari 2018 sampai hari ini.

Kedua, Terawan disebut telah melakukan promosi kepada masyarakat luas tentang Vaksin Nusantara sebelum penelitian mengenai vaksin itu selesai.

Ketiga, “Yang bersangkutan bertindak sebagai Ketua dari Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Klinik Indonesia (PDSRKI) yang dibentuk tanpa melalui prosedur yang sesuai dengan Tatalaksana dan Organisasi (ORTALA) IDI dan proses pengesahan di Muktamar IDI,” dikutip dari surat MKEK tersebut, Senin (28/3).

Keempat, Terawan menerbitkan Surat Edaran (SE) nomor 163/AU/Sekr PDSKRI/XII/2021 pada tanggal 11 Desember 2021, yang memuat instruksi “Kepada seluruh ketua cabang dan anggota PDSKRI di seluruh Indonesia agar tidak merespons ataupun menghadiri” acara PB IDI.

Terakhir, Terawan mengajukan permohonan perpindahan keanggotaan dari IDI Cabang Jakarta Pusat ke IDI Cabang Jakarta Barat.( https://www.cnnindonesia.com/nasional/20220328160718-20-777080/5-alasan-terawan-direkomendasikan-untuk-dipecat-dari-idi)

Pendapat yang Kontra

Sebagai rakyat awam kita tentu merasakan tingginya biaya pengobatan dan tindakan kedokteran. Kekecewaan ini hampir dirasakan bukan hanya oleh rakyat miskin tapi juga oleh orang yang mampu secara ekonomi. Apa untungnya kita mendukung keputusan MKEK IDI? Rakyat tahu bahwa mafia obat-obatan sudah sedemikian parahnya membebani biaya kesehatan. Belum lagi ketidak jujuran rumah sakit dan para dokter dalam menjalankan praktiknya.

Tunggakan BPJS yang meningkat dari tahun ke tahun, meningkatnya kecemasan terhadap berbagai penyakit terutama di era pandemic ini menjadi kekecewaan rakyat. Di samping itu profesi dokter yang prestisius dengan bayaran yang mahal dan menjadi profesi elit di negeri ini. Padahal sebagian mereka mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri dengan subsidi dari pemerintah. Rakyat kecewa dengan ketidakadilan seperti ini. Mungkin inilah sebab utama kekecewaan rakyat pada institusi kedokteran IDI.

Perlawanan rakyat atas pemecatan yang dilakukan IDI sementara dan yang dilakukan MKEK merupakan suara kekecewaan rakyat atas ketidakadilan pelayanan kesehatan yang dilakukan paramedic khususnya dokter. Oleh karena itu hendaknya IDI dapat merespon reaksi rakyat ini secara bijak. Rakyat sudah kesal dan jengkel atas ketidak-adilan ini.

Perbaiki layanan kesehatan dan layanan para dokter lihatlah manusia dari sisi kemanusiaan. Manusia bukan hanya sebagai obyek perasan hingga satu golongan kuat dan golongan lain lemah. Profesi dokter adalah profesi mulia dan bukan profesi yang bebas dari nilai kemanusiaan. Rakyat rindu dokter yang manusiawi. Dr. Terawan dapat dianggap mewakili suara hati rakyat. Terawan beberapa kali menyatakan tentang pentingnya pengobatan murah dan simple.

Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah kreativitas dan inovasi dalam dunia kedokteran yang perlu mendapat perhatian agar rakyat mendapat manfaat dari kreativitas dan inovasi yang dilakukan para dokter. Dalam tradisi keilmuan kita mengenal ada contex of discovery dan contex of justification. Mungkin saja dalam contex of discovery Dr. Terawan telah menyalahi aturan dan kaidah ilmiah tapi dalam hal contex of justification ternyata temuan Terawan telah membawa perubahan dan kesembuhan bagi pasien dan berbiaya murah.

Kritik terhadap keajegan metode ilmiah pernah dikritik oleh Karl Feyerabend melalui karyanya Against Methode (1975). Bukankah banyak temuan ilmiah tidak melalui metode ilmiah seperti penemuan gelombang elektromagnetik oleh Michael Faraday, tabel unsur kimia oleh Dmitri Mendeleev, juga karya Srinivasa Ramanujan yang diperoleh melalui mimpi dewa-dewi. Dalam ilmuwan Islam juga Prof Abdussalam pemenang hadiah Nobel yang diilhami oleh Al Qur’an (Bagir,H. 2020, Sain”Religius” Agama”Saintifik”mizan: Bandung).

Dukungan rakyat pada Terawan seperti Dukungan pada Rusia atas tindakannya melawan Barat bukan dukungan rakyat atas invansi Rusia pada Ukraina. Semoga perlawanan rakyat atas keputusan IDI dan MKEK IDI menjadi momentum bagi harmonisasi kehidupan terutama di bidang kesehatan.

Penulis: Dr. H. Srie Muldrianto, MPd, Ketua PC. Mahasiswa Ahlu Thariqoh An-Nahdliyah (NU Purwakarta) dan Pengurus HIPAKAD (Himpunan Putra Putri Keluarga TNI AD) Purwakarta.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article