Gema Cinta Tanah Air di Gunung Kareumbi
Halaqah Spiritual Kebangsaan mengambil tema “Membangun Kekuatan Spiritual Melalui Cinta Tanah Air dan Bangsa” menghadirkan pembicara Ust. Ayik Heriansyah dari Lembaga Dakwah PW NU Jawa Barat dan Ust. Dedi Cahyadi yang juga pernah aktif di PCI NU Australia khusus nya di kota Melbourne . Dalam pemaparannya kepada sekitar 100 orang lebih jamaah yang hadir, Ust. Ayik Heriansyah mengingatkan bahwa sebagai seorang muslim, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjadi aqidah dan syariah Islam sebagai landasan untuk merespon setiap peristiwa. Ini menjadi prinsip di mana dan kapanpun.
Tiga prinsip dasar tersebut: Pertama, Islam agama rahmatan lil ‘alamin. Rahmat artinya kasih sayang, love and care, welas asih, silih asah, silih asuh dan silih wangi. Sebab itu jika ada orang yang mengajarkan kebencian kepada orang meskipun dengan sambil bertakbir maka sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam. Kedua, semua orang mukmin itu bersaudara. Ikatan persaudaran yang hakiki adalah ikatan iman bukan suku bangsa. Berbagai macam suku bangsa merupakan kehendak Allah Swt agar kita saling mengenal. Dengan saling mengenal kita akan menjadi ‘arif. Dari sifat ‘arif lahir sikap sabar terhadap perbedaan. Sabar terhadap perbedaan inilah yang disebut toleransi. Ketiga, taat kepada pemimpin. Adanya seorang pemimpin membuat terwujudnya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mentaati pemimpin hukumnya wajib kecuali pemimpin memerintahkan melakukan maksiyat.
Sedangkan Ust. Dedi menyampaikan pentingnya bersyukur atas nikmat yang Allah Swt berikan kepada negara kita yang kaya akan sumberdaya alam dan budaya dibanding negara lain. Di Indonesia semua hal bisa dengan mudah didapatkan. Karena itu semua harus dijaga. Tapi semua akan rusak apabila orang mengikuti hawa nafsunya termasuk nafsu yang halus atau samar seolah-olah menyuarakan kebenaran padahal ada kepentingan hawa nafsunya. Menanggapi kondisi bangsa Indonesia saat ini yang sudah dikategorikan darurat hoax penyebaran berita bohong dan cenderung provokatif, ustadz Dedi mengingatkan kepada para jamaahnya untuk puasa bicara karena jika kita dan setiap orang bicara serta berkomentar kita menjadi sulit ‘hening’ hingga sulit mendengarkan kata hati nurani.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



