Guru Bahasa Sunda Ajak Lestarikan Bahasa Ibu

11

Bandung, Setiap tanggal 21 Februari kita memperingati hari bahasa ibu Internasional. Peringatan hari bahasa ibu ini, bukan hanya menjadi momentum perayaan semata. Akan tetapi terus terintegrasi setiap saat.

Eksistensi bahasa daerah ditengah gempuran bahasa asing di era globalisasi perlu mendapat perhatian, khususnya dari lembaga pendidikan. Selain mampu membawa siswa beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, siswa juga bisa melestarikan budaya nenek moyang mereka, salah satunya adalah bahasa.

Seperti dilasir dari kbr.id, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah mengidentifikasi 652 bahasa daerah. Dari jumlah itu, sebanyak 71 bahasa telah dipetakan vitalitasnya. Sebanyak 11 bahasa punah, 4 bahasa berstatus kritis, dan 19 terancam punah. Sebelas bahasa yang punah tersebar di Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Adapun bahasa yang direvitalisasi dan dikonservasi sebanyak 16 bahasa.

Berangkat dari hal tersebut, tentunya pelestarian bahasa ibu khususnya bahasa Sunda perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu pengajar bhs Sunda di MTs. Nurul Iman. Eva Siti Nurjanah, SS.

Alumni Universitas Padjajaran ini menilai, eksistensi bahasa Sunda hari ini telah mengalami penurunan. Hal tersebut dilihat dari kurangnya para siswa dalam menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasi dengan sesama.
” Penggunaan bhs Sunda sendiri dilingkungan siswa kurang eksistensinya, hal tersebut dikarenakan takut salah atau berbicara kasar jika menggunakan bahasa Sunda.” Jelasnya Eva ketika ditemui di Kantornya.

Padahal menurutnya, para siswa ataupun siapa saja yang ingin berbicara menggunakan bahasa Sunda tidak perlu merasa takut salah, ia menilai hal tersebut bisa dijadikan sebagai proses belajar bersama. Dimana jika ada yang kurang pas dalam berbicara bahasa Sunda, dikoreksi bersama.

Iapun mengajak seluruh dewan guru, siswa siswi MTs Nurul Iman untuk terus berkolaborasi dalam melestarikan bahasa Sunda. Minimal dengan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa komunikasi dengan sesama, dengan begitu kemampuan berbahasa Sunda bisa terlatih dengan sendirinya.

“Saya berharap, pelestarian bahasa Sunda bukan hanya tugas pengajar bahasa Sunda saja. Akan tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama. Sayapun berharap dukungan dari semua pihak untuk menggunakan bahasa Sunda.” Tutupnya.

Diapun menambahkan kalau bukan kita sebagai orang Sunda yang melestarikannya mau siapa lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here