Habib Syech

29
Habib Syech

Rusdian Malik – Ustadz dai penceramah yg jadi idola masyarakat Muslim milenial zaman sekarang adalah ustadz Abdus Somad & Ustadz Adi Hidayat. Jemaah penggemar beliyau berdua sangat banyak jumlahnya. Di kalangan NU ada pula yaitu Gus Miftah, Gus Baha serta Gus Muwafiq. Sayang, tiga nama terakhir populernya masih di sekitaran Jawa sana saja.

Kenapa ustadz Somad banyak yg suka, adalah karena ceramah beliyau bisa diterima oleh semua golongan, yg Aswaja merasa cocok, yg salafi cocok juga, yg HTI pun merasa aman & nyaman dengan beliyau. Ditambah penampilan beliyau yg sederhana & bersahaja, suara lantang & jelas, serta sering disisipi humor semakin menambah kecintaan umat pada beliyau.

Adapun ustadz Adi Hidayat disukai adalah karena beliyau mewakili sosok ulama muda yg berwawasan luas, cakap, moderat, ganteng, gaul & modern. Sangat cocok bagi kalangan menengah ke atas, yg suka suasana pengajian ala perkuliahan, ilmiah, cocok buat kalangan modernis seperti warga Muhammadiyah atau kalangan aswaja tradisional muda-mudi serta ibu-ibu yg suka onlen ngeyutup pesbuk serta was’ap. Saya pun mengagumi keilmuan beliyau meski entah kenapa saya tidak memfavoritkan beliyau (mungkin saya yg kebanyakan dosa neh).

Ada satu lagi yg kalau beliyau datang slalu banyak membludak jemaahnya, yakni habib Syekh (bin Abdul Qodir As-Segaf). Saya lebih tertarik pada habib Syekh ini. Beliyau ceramah/tausiahnya tidak provokatif, tidak membahas hal-hal yg sensitif, tidak agresif. Malah ya nasihat saja. Nasihat kebaikan. Ciri khas beliyau adalah tidak mengisi sepanjang acara dengan ceramah, tapi lebih banyak bersenandung kasidah & sholawatan. Inilah yg membuat jemaah jadi lebih semarak & antusias. Hadirin jadi diajak dlm suasana keceriaan, bersemangat, berbaur sama rata, lebih merakyat, semua ikut bersenandung, bapak ibu semua senang, anak-anak para bocah pun hepi juga, riang gembira sambil berdiri-diri joget-joget ngacung-ngacungkan tangan sambil ngibarin bendera. Serius ini, begitu mereka para bocah, yg tua ada juga malah. Asek.

Yg jadi penilaian plus saya pada tabligh atau sholawatan habib Syekh ini adalah beliyau slalu menyenandungkan (kasidah) yg berjudul “NKRI Harga Mati” itu. (Bagi yg pernah hadir atau liat di tv pasti tau ini).

Bagi saya, lagu itu bukan sekadar hiburan, tapi memang sebuah doktrin identitas yg sengaja beliyau gaungkan ke khalayak. Nanti di lirik-lirik selanjutnya akan ada yg NU-Nu-nya, NU cinta ulama, TNI Polri bersama NU, NU cinta bangsa, Bangsa perlu NU, dst, sampai-sampai lagu Yahlal Wathan & lagu Garuda Pancasila pun dibawakan beliyau juga. Dan ada banyak Banser yg hadir.

Bukan sekedar senandung & sholawat. Lihat, ada banyak sekali bendera merah putih & bendera NU bersanding dikibarkan oleh hadirinnya (ditambah bendera syekher-mania hehe). Ada kegiatan keislaman tapi tetap menampilkan jati diri keindonesiaan bagi saya adalah suatu hal yg mengagumkan di era Indonesia zaman sekarang yg mana radikalisme & paham-paham anti Pancasila slalu gencar bikin tipu daya. 

Dengan adanya syiar-syiar bendera putih, bendera NU, lagu NU, lagu-lagu kebangsaan saya ga tau gimana perasaan akhirnya ukhti Ikhwan Hizbut Tahrir kalau hadir di sana. Berharap sih mereka tetap ngefens dan rajin ikut agar kelak mendapat hidayah. 

Spesial apresiasi buat habib Syekh yg pernah saya dengar, yaitu saat kedatangan beliyau di Pelaihari, Tanah Laut, Kalsel. Di saat panas-panasnya musim pilpres kemaren, beliyau memilih posisi sebagai penenang. Nasihat beliyau agar umat jangan terjerumus saling menghina, mencela, putus tali persaudaraan hanya gara-gara pemilu, serta ikhlas menerima hasil, itulah sudah takdir Allah tak perlu ngamuk ngotot demo-demo lagi, kata beliyau (silahkan bagi yg ada rekaman, silahkan dikoreksi kalau saya salah dengar).

Kembali ke perihal strategi dakwah Habib Syekh tadi. Mungkin dlm tausiah habib syekh tidak vulgar & gamblang soal ke-Nu-an seperti Gus Muwafiq atau kyai-kyai NU, habib Syekh juga tidak membawa materi yg membuat panas kuping para kaum radikal acara langsung, sebab bliyau dlm posisi dai, bukan “aktivis”. Dai lebih disukai ketimbang aktivis. Juga, en’uisasi secara terang-terangan di jaman naw ini agak susah, sebab NU terkena fitnah macem-macem, tapi kalau tabligh dengan ada menyisipkan nilai-nilai kebangsaan maka ini bisa jadi metode dakwah dlm bentuk lain yg lebih halus yg semoga hasilnya juga sama insyaallah walaupun hasilnya agak lebih lambat.

Ya jujur saja, jaman naw ini sudah mulai langka ada pengajian yg terpadu dengan wawasan kebangsaan. Kebanyakan ya ngaji agamaaaaaa aja, urusan bangsa & negara ga dibahas sama sekali. Susah dicari majlis taklim yg di setiap pengajiannya tidak lupa ngajak tetap setia pada Pancasila & NKRI (palingan doa agar dosa diampuni selamat dunia akhirat saja, tidak tegas, akibatnya malah ajaran khilafah yg masuk di celah itu, khilafah nanti solusinya).

Jadi, Habib syekh ini dengan kapasitas sebagai habib, berdarah biru, dzurriyat rasulullah, ganteng, santun & simpatik, punya potensi kuat dlm menggalang massa lebih banyak (terutama dari kalangan santri, ustadz non-habaib, & habaibnya sendiri) kembali mengajak masyarakat Islam kembali ke jalan yg benar, ke jati diri sebagai bangsa Indonesia, menjadi umat yg islami sekaligus nasionalis.

Sudah maklum acara jamak bahwa respek umat kepada seorang habib sangat kuat, habib sangat dihormati. Kalau orang lain sih bisa “lihat dulu, baru suka atau nggak”, tapi faktanya masyarakat banyak itu kalau kepada habib adalah “pasti suka, kalau suka ya ngikut”. Mungkin ada tokoh agama yg dicintai secara fanatik membabibuta entah salah apa benar, nah jika ada kalangan habaib yg tampil santun & membawa misi kebangsaan (habib Lutfi Pekalongan misalnya) maka ini wajib sangat diperlukan & diapresiasi, karena insyallah umat pun akan banyak nurut.

Maka, di sisi demikian Habib Lutfi & Habib Syekh (dlm tampilan polesan dakwah sdkit berbeda) punya kelebihan & maqom yg khusus di antara dai-dai ulama penceramah lainnya (dalam hal syiar hubbul Wathon minal iman).

Semoga habib Syekh senantiasa diberi kesehatan & panjang umur. Berharap suatu saat nanti habib Syekh perlu juga tausiahnya lebih greget, bertarget & agak tajam kepada mereka yg berpaham relijiyus tapi radikalis anti NKRI itu bib hehe. Kumandangkan terus, bib!

Sumber : Status Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here