Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari Perajut Jaringan Ulama Diponegoro

17

Tangerang, NU Online

Para dzuriyah Diponegoro berlari ke daerah Jawa bagian selatan selepas perang Diponegoro berakhir tahun 1830. Sementara pasukan Diponegoro yang terdiri dari para ulama menyebar ke seantero Jawa dan Madura dan mendirikan berbagai pesantren.

Adalah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, tokoh ulama yang merajut kembali pasukan para ulama yang sempat terpisah itu.

“Beliau menjadi figur utama yang mengumpulkan kembali jaringan ulama Diponegoro tersebut menjadi kekuatan besar,” kata sejarahwan Zainul Milal Bizawie saat mengisi kajian rutin Islam Nusantara Center (INC), Jalan Ir H Juanda, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (11/5).

Kakek Gus Dur itu, kata Gus Milal, membangkitkan kembali semangat juang para ulama, keturunan pasukan Diponegoro yang tersebar di berbagai daerah. Mbah Hasyim juga merupakan keturunan pasukan Diponegoro dari kakeknya.

Gus Milal menjelaskan bahwa Mbah Hasyim mulai merajut kembali jejaring yang sempat terputus itu di Mekah saat menempuh studi di sana beberapa tahun. “Sudah membangun semua itu di Haramain,” katanya.

Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang itu tidak hanya mengandalkan para ulama dan santri jejaring Diponegoro, akan tetapi tetap bergotong royong dalam meraih kemerdekaan bersama pasukan Kesatria lain. 

Bahkan, meskipun banyak tawaran kekuasaan diserahkan kepadanya, ia menolak hal tersebut. Justru, kekuasaan tersebut ia pasrahkan kepada kelompok kesatria yang juga turut berjuang bersama.

“Satu abad kemudian, Mbah Hasyim Asy’ari meskipun banyak iming-iming tetap memberikan kepada kesatria yang ikut berjuang,” pungkas Gus Milal pada kajian bertema Ziarah Intelektual: Ketika Jejaring Ulama Jawi Menusantara di Haramain itu. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here