Hubungan Mesra Kamasan dan Cireungit Akibat Mengaji

180
- WhatsApp Image 2019 07 12 at 6 - Hubungan Mesra Kamasan dan Cireungit Akibat Mengaji

Pada awal abad 20, sekitar tahun 1920 desa Cireungit Kecamatan Banjaran terdapat kelompok-kelompok kecil pengajian di Surau-Surau (Tajug) yang ditokohi seorang ulama yang bernama KH. Ma’mun yang terkenal dengan nama Ajengan Cireungit.

Pada tahun itu desa Cireungit dikenal sebagai kampung santri. Para santrinya kebanyakan berusia muda. Mereka mengaji kitab-kitab madzhab Imam Syafi’i dengan menggunakan metode sorogan atau bandongan. Kitab yang diaji seperti kitab Safinah dan kitab Fathul Mu’in
Ketokohan Ajengan Cireungit sangat melekat erat dalam kehidupan masyarakat. Segala persoalan yang dialami masyarakat selalu ditumpahkan kepada beliau sebagai sumber solusi. Perkataan beliau pun menjadi acuan dan rujukan pertama masyarakat.

Salah satu murid beliau adalah mama H Ahmad Siradj. Seorang pelopor berdirinya madrasah pertama kali di daerah Banjaran tepatnya daerah Kamasan. Yang bernama Madrasah Manahidlul Huda. Yang dikemudian hari madrasah ini bertranformasi menjadi Pesantren Mubarokulhuda Banjaran.

Ada yang unik dari hubungan kiai dan santri ini. Ketika muda mama H Ahmad Siradj berguru kepada Ajengan Cireungit. Dan setelah mama H Ahmad Siradj mendirikan madrasah Manahidlul Huda sekitar tahun 1939/1940 masyarakat Cireungit banyak yang mengaji di Madrasah Manahidlul Huda.

Jumlah santri madrasah Manahidlul Huda ketika itu berjumlah sekitar 100 orang. Dan ketika Imtihan santri memakai seragam, untuk putri berkebaya hijau dan berkerudung hijau dan untuk putra berseragam drill-khaki dengan Badge ANSOR.

Sekarang daerah Cireungit sudah berbeda kecamatan dengan Kamasan. Cireungit kecamatan Cangkuang dan Kamasan tetap kecamatan Banjaran. Kemesraan keduanya pun telah hilang dilekang waktu. Entah kapan kemesraan itu mulai pudar.

Cireungit yang dahulu kampung santri sekarang pengajian kitab kuning pun jarang terdengar. Entah kapan hal itu mulai terjadi.

Tadi malam tanggal 11 juli 2019, cucu dari mama H Ahmad Siradj yang bernama KH. Ayi Abdul Halim salah satu pengasuh pesantren Mubarokulhuda di undang untuk mengisi pengajian di daerah Cireungit yang dipelopori alumni ponpes Lirboyo ajengan Khoer.
Kiai Halim bercerita bahwa 2 daerah ini, Kamasan dan Cireungit punya hubungan emosional yang dibalut dengan mengaji ketika zaman dahulu.

Harapan beliau semoga hubungan keduanya bisa terjalin kembali dengan mengaji. Untuk menguatkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang dibawa para wali songo.

Dan beliau mengingatkan masyarakat Cireungit apapun yang dihadapi, harus kembali kepada ulama. Seperti halnya Cireungit sebagai kampung Santri pada zaman dahulu. Ulama menjadi rujukan dan acuan pertama masyarakat.

Serta berpesan pentingnya mencari ulama yang mumpuni sehingga bisa membimbing masyarakat secara lahir dan batin. Ulama yang memiliki bashiroh. Agar kita mengenal kekurangan kita, tidak sibuk dengan kekurangan orang lain. Tentunya agar menjadi manusia yang beruntung di dunia dan akhirat.

Ajengan Cireungit dan mama H Ahmad Siradj adalah sebuah cermin bagaimana 2 daerah mempunyai hubungan mesra karena mengaji. Cerminan bagi kita sekarang sebagai generasi penerus. Untuk melestarikan budaya leluhur. Dimana mengaji adalah budaya leluhur kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here