Jaga Akhlak, Pesan Penting dari Risalah Sarang

22

Jaga Akhlak, Pesan Penting dari Risalah SarangRembang, NU Online
Pesan paling ditekankan dari Risalah Sarang yang dihasilkan dari Silaturahim Alim Ulama Nusantara adalah menjaga akhlak. Penekanan itu ada pada muqaddimah maupun dalam dua dari lima poin risalah. Dan tampak sekali ditekankan dengan intonasi yang jelas dan tegas oleh pembaca naskah Risalah, yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri.

Kata kunci akhlak mulia, berbuat baik, mengasihi dan menyayangi, menjauhi permusuhan, terus tampak dominan dari isi risalah. Kutipan lima ayat dan dua hadits di kalam muqaddimah, jelas sekali menekankan soal akhlak.

Pesan itu masih diulangi lagi dalam naskah risalah. Poin nomor satu dan empat menyebut dengan jelas tentang perlunya menjaga akhlak, baik oleh para pemimpin masyarakat mapun pemimpin NU sendiri. Sedangkan dua poin risalah adalah imbauan kepada pemerintah, dan satu poin yaitu poin teakhir, nomor lima, adalah rencana tindak lanjut sebagai solusi. Yakni mengusulkan diselenggarakannya forum silaturahim antara seluruh elemen bangsa untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada.

Iklan Layanan Masyarakat

Hadirin tertunduk syahdu kala Gus Mus membacakan kata demi kata Risalah itu. Meski diselingi canda, namun tampak penuh energi dan penuh emosi ketika membacakan dalil dan seruan tentang akhlak.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Ayat ke 125 dai Surat An-Nahl ini dibacanya dengan napas panjang dan penuh penghayatan.

Lebih tampak dan lebih terasa intonasi Gus Mus ketika membacakan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al Baihaqi: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”

Seperti ketika membaca puisi, mustasyar PBNU ini menyorotkan mata lurus ke depan dengan kepala serta bahu diangkat saat membacakan hadits yang artinya ini: “Orang-orang yang menyayangi sesama, Sang Maha Penyayang menyayangi mereka. Sayangilah semua penduduk bumi niscaya penduduk langit akan menyayangimu” (HR. At-Tirmidzi).

Terlerbih ketika membaca poin pertama Risalah Sarang. Dia bacakan dengan suara yang penuh penghayatan perasaan.

“Nahdlatul Ulama senantiasa mengawal Pancasila dan NKRI serta keberadaannya tidak dapat bisa dipisahkan dari keberadaan NKRI itu sendiri. Nahdlatul Ulama mengajak seluruh ummat islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah. Toleransi, demokrasi dan terwujudnya akhlakul karimah dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat harus terus diperjuangkan bukan hanya demi keselamatan dan harmoni kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di Indonesia ini saja, tetapi juga sebagai inspirasi bagi dunia menuju solusi masalah-masalah peradaban yang dihadapi dewasa ini.”

Puncaknya adalah ketika membacakan poin keempat. Ribuan orang hadirin yang berada di luar ruang pertemuan dan hanya mendengarkan lewat perangkat sound sistem pun bisa merasakan betapa kuat pesan yang hendak disampaikan dari intonasi bacaan yang begitu menggetarkan.

“Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, temasuk pemimpin Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat dengan senantiasa arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab adil dan amanah dengan menomorsatukan kemaslahatan masyarakat dan NKRI,” ucap Gus Mus dengan intonasi nada yang kuat.

Simpulan atas rasa penekanan itu diungkapkan oleh beberapa orang yang diwawancarai NU Online, usai penutupan. Di antara yang menyatakan demikian adalah Mung Paryono (53), seorang santri asal Semarang yang duduk persis di depan pintu masuk ruang pertemuan.

“Saya benar benar merasakan betapa kuat topik akhlak ditekankan dalam Risalah Sarang. Intonasi Gus Mus saat membaca begitu terasa penekanannya,” tutur warga NU yang rajin menghadiri setiap perhelatan ulama ini.

Hal senada disampaikan Triwibowo (44), penulis sastra asal Yogyakarta yang hadir sejak sehari sebelum acara. Warga NU yang biasa dipanggil Mbah Kanyut ini mengatakan, Risalah Sarang sesungguhnya adalah wujud nasihat para ulama untuk seluruh keluarga besar NU maupun umat Islam pada umumnya agar kembali ke ajaran sejati Kanjeng Nabi. Yaitu berakhlak mulia, sebagaimana misi diutusnya Rasulullah Muhammad di dunia.

“Isi Risalah Sarang sesungguhnya nasehat agar kita semua instrospeksi. Para kiai telah memberi nasehat untuk NU maupun bangsa,“ ujarnya. (Ichwan/Mahbib)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here