JARANG NGAJI DIRI, KAUM RADIKAL JADI SOK SUCI

117
JARANG NGAJI DIRI, KAUM RADIKAL JADI SOK SUCI

Oleh Ayik Heriansyah, Pengurus LD PWNU Jabar – Radikal yang dimaksud di sini adalah dalam konteks sosial dan politik bukan teologis dan filosofis. Sebab radikalisme yang mendorong aksi terorisme tidak memiliki basis teologis dan filosofis yang memadai pada semua agama.

Kaum radikal berpendapat, realitas sosial dan politik sekarang, “salah”, karena itu harus “dibenarkan” secara mendasar dan menyeluruh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Motivasi mereka mau mengubah realitas sosial politik sekarang menjadi suatu realitas yang ideal diambil dari ajaran agama yang mereka terima.

Kaum radikal menyimpan konsepsi dan persepsi diri yang ditanamkan saat proses indoktrinasi yang mereka terima dalam per-halaqah-an. Tersimpan di alam bawah sadar. Lalu doktrin-doktrin itu menjelma menjadi dogma yang terpancar dalam jiwa, mendarah daging dan mengeluarkan aura khas radikal yang termanifestasi waktu mengeluarkan berpikiran, ketika bicara dan dari sorot mata.

Iklan Layanan Masyarakat

Konsepsi dan persepsi diri mereka sendiri yang paling mendasar adalah, tidak ada kebenaran dan keselamatan di luar kelompok mereka. Semua anggota kelompok pasti benar dan selamat dunia dan akhirat. Tanpa melihat amal orang per orang, pokoknya langsung masuk surga tanpa hisab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here