Kata dan Makna: Gonggongan dan Suara Adzan

Srie Muldrianto – Setiap kata yang kita ucapkan biasanya memiliki makna tertentu. Bagi pengucap atau orang yang menyampaikan pesan (komunikator) makna ada terlebih dahulu dibanding kata. Sementara bagi si pendengar atau komunikan kata hadir terlebih dahulu dibanding makna. Makna ada karena produk berpikir. Oleh karena itu kadang, kata bagi setiap orang memiliki makna yang berbeda tergantung pola pikir orang yang memberi makna pada kata.
Makna lahir dari hasil pemikiran seseorang tentang sebuah kata atau makna diwadahi oleh sebuah kata. Sementara pemikiran dipengaruhi oleh pengalaman, emosi seperti cinta atau benci, situasi, kondisi, dan lain sebagainya. Ketika kita memaknai sebuah kata, sebelumnya kita telah memiliki mindset (pola pikir) tertentu terhadap komunikator atau yang menyampaikan pesan. Oleh karena itu dapat berdampak pada makna berbeda yang ditangkap komunikan. Apa yang terjadi pada Pak Dudung (KASAD), Pak Yaqut (Menteri Agama), Pak Ahok, Pak Ferdinan Hutahean dan kasus sejenis lainnya adalah contoh hubungan kata, makna, dan pemikiran. Terlebih beberapa kasus tersebut dapat dikaitkan dengan tunggangan politik.
Sebenarnya apa yang disampaikan Pak Yaqut, yang tahu makna sesungguhnya adalah Beliau. Sebelum berbicara (kata) beliau telah memiliki makna tentang kata yang diucapkannya. Berbeda dengan kita, kita mendapatkan kata terlebih dahulu baru kita memaknainya. Oleh karena itu seorang pejabat harusnya bijak dalam memilih diksi kata agar tidak terjadi kegaduhan di tengah masyarakat.
Berpikir setiap orang tidak bisa kita atur. Berpikir adalah ciri manusia. Cara berpikir seseorang tergantung tingkat pemahaman dan pengalaman belajarnya. Ragamnya tingkat pendidikan dan latar belakang komunikan dapat menyebabkan beraneka ragamnya makna yang ditangkap dari sebuah kata.
Sebuah kata atau ujaran yang disampaikan memiliki nilai tertentu. Paling tidak ada tiga nilai sebuah ujaran atau bahasa yang disampaikan yaitu bahasa atau ujaran seseorang dapat bernilai benar, baik, dan indah atau sebaliknya. Ujaran atau bahasa yang disampaikan dapat bernilai benar jika kaitan kata yang satu dengan yang lainnya ada relasi yang logis atau sesuai fakta. Misalnya hari ini hujan, Kita harus lihat faktanya! Atau kita katakan yang besar mencakup yang kecil (rasional). Suatu kalimat dapat benilai baik jika kalimat tersebut bermanfaat bagi komunikan dan bernilai jelek jika tidak bermanfaat baginya. Ini terkait etika. Sedangkan suatu kalimat dapat disebut indah kalau kalimat tersebut membuat komunikannya terhibur serta mengandung estetika atau seni. Apa yang terjadi pada Pak Yaqut dapat dianalisa dari ketiga nilai tersebut di atas. Apakah mengandung nilai logika, etika, atau estetika? Layakkah Suara adzan dibandingkan dengan gonggongan anjing? Atau Pak Yaqut tidak sedang membandingkan? Tapi hanya menyebutkan dua konteks yang berbeda? Tentu kita tidak tahu, yang tahu pasti tentang makna dari kata atau kalimat tersebut hanyalah yang berbicara.
Tapi menurut hemat saya adanya kegaduhan seperti yang sekarang terjadi adalah dampak adanya politik identitas dan polarisasi yang justru dipelihara oleh para politisi. Kasus Pak Yaqut bukan kasus pertama tapi kasus yang berulang seperti film berseri agar ada hiburan bagi rakyat sehingga rakyat lupa akan dirinya tentang penderitaan yang sedang dialaminya. Oleh karena itu kita sebagai rakyat jangan terpancing oleh keadaan yang terus digoreng sehingga mengahabiskan energi kita untuk berbuat produktif bagi bangsa dan Negara. Atau memang jangan-jangan kondisi semacam ini sengaja diciptakan demi tujuan tertentu?
Seorang pejabat publik harusnya berbicara dan mengambil kebijakan dengan jernih dan tenang, agar keputusan dan kebijakannya tepat. Kejernihan dan ketenangan hanya dapat diraih ketika kita memiliki kesadaran. Jadi kesadaran adalah kunci dari ketenangan dan kebijakan yang benar, baik dan mungkin indah. Kita harusnya memiliki Kesadaran sebagai sebuah bangsa yang memiliki Agama, bahasa, latar belakang budaya, tingkat ekonomi, pendidikan, dan pemahaman berbeda.
( Dr. Srie Muldrianto MPd, Ketua PC MATAN (Mahasiswa Akhli Thoriqoh An Nahdliyah) Purwakarta dan Pengurus HIPAKAD (Himpunan Putra Putri TNI AD), Purwakarta.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



