Keputusan Keliru, Mengapa?

176
Keputusan Keliru, Mengapa?

Nasib kita hari ini merupakan hasil keputusan kita di masa lalu. Keputusan menjadi sangat penting bagi kehidupan kita. Keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu berdampak pada nasib kita kini dan di masa depan. Keputusan dapat berupa aturan, perintah, wejangan, kebijakan atau pilihan tindakan. Semakin besar kekuasaan dan pengaruh kita maka semakin penting keputusan yang kita ambil. Oleh karena itu kita perlu memahami apa dan bagaimana keputusan itu kita ambil. Keputusan lahir dari proses berpikir. Oleh karena itu berpikir itu menjadi sangat penting dalam kehidupan kita. Berpikir adalah proses mengolah data dan informasi yang masuk pada pikiran kita untuk menjawab masalah atau persoalan yang kita miliki. Ada dua akhli terkenal yang membahas tentang berpikir, yaitu Daniel Kahneman dan Edward De Bono.

Daniel Kahneman menulis sebuah buku Thinking Fast and Slow tentang system berpikir . Menurutnya manusia memiliki dua system berpikir yaitu berpikir cepat (Fast Thinking) dan berpikir lambat (Slow Thinking). Berpikir cepat adalah berpikir yang berasal dari naluri dan emosi manusia. Sistem berpikir seperti ini hanya menyeleksi data atau informasi yang mudah dan cepat di olah. Ketika kita menemukan masalah yang rumit dan komplek maka system berpikir pertama mengirim pada system berpikir kedua untuk diolah dan dibuat keputusan. Sistem berpikir kedua biasanya system berpikir yang butuh waktu untuk mengolahnya. Seperti ketika kita diminta untuk menganalisa dan mengevaluasi sesuatu.

Penelitian memerlukan system berpikir tingkat ini. Kekurangan system berpikir ini manusia menjadi malas. Berpikir tingkat inipun memerlukan banyak energy dibanding berpikir tingkat pertama. Tapi hasil berpikir lambat ini lebih dapat dipertanggungjawabkan dan bersifat rasional. Berpikir lambat sangat dibutuhkan bagi pengambil keputusan terutama keputusan yang berdampak luas atau keputusan yang berdampak jangka panjang.

Iklan Layanan Masyarakat

Edward de Bono dalam buku Six Thinking Hats menyebutkan bahwa manusia memiliki enam tipe berpikir. Ia mengibaratkan tipe berpikir dengan 6 warna topi. Topi putih menggambarkan cara berpikir yang netral tentang data dan fakta. Cara berpikir seperti ini biasanya dilakukan dengan mengumpulkan data dan fakta sebanyak-banyaknya dan diurai menjadi sebuah pernyataan yang rasional dan obyektif. Cara berpikir ini lebih kearah kuantitatif.Yang kedua cara berpikir topi merah yaitu lebih mengutamakan perasaan dan emosi. Cara berpikir seperti ini lebih cenderung mengutamakan perasaan atau emosi misalnya karena pujian dan sanjungan maka dia membuat keputusan yang keliru dan mungkin dapat merugikan dirinya atau organisasinya. Ketiga cara berpikir topi hitam yaitu cara berpikir negative atau melihat sesuatu dari sudut pandang negative. Biasanya orang yang bertipe seperti ini cocok menjadi auditor, pengawas yang selalu mencari sisi negative suatu pekerjaan. Tipe berpikir seperti ini biasanya dapat mengambil keputusan yang kurang tepat misalnya sekarang ini tentang kasus Vaksin. Beberapa orang seperti yang dikatakan salah satu anggota dewan mengatakan dampak vaksin itu sangat berbahaya dan merugikan manusia seperti beberapa kasus yang terjadi di berbagai tempat, Dia hanya menyebutkan sisi negative dari vacsin dan tidak menyebut efek positif yang lain. Bagaimana dampaknya? Berapa persen yang gagal karena vaksin ? Keempat topi warna kuning yang berpikir secara optimis atau berpikir secara positif. Ketika mau mengambil keputusan biasanya dia focus pada sisi positifnya kebalikan dari berpikir topi hitam. Topi kelima warna hijau yaitu berpikir kreatif yaitu berpikir dengan menemukan solusi dan ide-ide baru. Cara berpikir seperti ini biasanya dibutuhkan terutama ketika kita ingin mengambil keputusan yang sulit seperti ketika pengrajin coklat diminta untuk membuat ide baru dari produk coklat. Hampir semua turunan produk coklat telah dibuat tapi ditangan seorang creator coklat bisa diubah jadi warna putih, hingga kini kita temui coklat warna putih. Dan keenam topi warna biru yaitu berpikir bijak dengan mengharmonikan tipe berpikir kesatu hingga lima topi lainnya. Keenam gaya berpikir tersebut pada hakekatnya baik, tinggal kita bagaimana menggunakannya disaat dan kondisi yang tepat.

Berpikir adalah upaya untuk memberi jawaban atau upaya untuk memecahkan sebuah atau beberapa masalah. Tujuan dari berpikir adalah untuk menemukan jawaban atau keputusan yang benar atau yang baik. Oleh karena itu kita pun perlu mempelajari tentang kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatan. Kebenaran menurut rasio disebut koherensi, kebenaran menurut rasio dan indera disebut kebenaran korespodensi dan kebenaran menurut kemanfaatan disebut kebenaran pragmatis. Namun kadang ketika kita berpikir untuk membuat keputusan kita diganggu oleh pikiran yang seolah benar atau rasional, sehingga keputusan yang kita buat menjadi keliru atau tidak rasional. Konsep seperti ini disebut bias kognitif (bias pemikiran).

Sebab-sebab Keputusan Keliru

Perbedaan pendapat di antara kita kerap diakhiri dengan debat kusir, marah, permusuhan, dan kebencian. Perbedaan pendapat diawali dengan suatu keputusan kita tentang sesuatu misalnya tentang keputusan pemerintah tentang Vacsin. Keputusan yang kita ambil kerap kita anggap keputusan yang paling rasional dan kadang kita tidak menyadari tentang keputusan kita itu salah atau irasional. Faktor psikologis dapat menentukan dalam mengambil keputusan. Sebab pengambilan keputusan keliru dapat dirinci sebagai berikut:

Anchoring bias yaitu berpikir yang dipengaruhi oleh psikologi bahwa manusia itu lebih cenderung pada informasi pertama yang ia dapatkan. Seperti ketika ada diskon atau promo harga barang yang asalnya Rp. 250.000 didiskon menjadi Rp. 100.000. Kemudian kita berebut untuk membelinya. Padahal kalau kita tahu pertama bahwa harga awalnya Rp. 90.000 kemudian jadi Rp. 100.000 kita akan berpikir ulang untuk membelinya padahal harganya tetap.

Confirmation bias yaitu berpikir bahwa ketika kita telah menentukan pilihan calon dalam PILPRES atau PILKADA pada pilihan nomer 1 misalnya, maka kita akan mencari (konfirmasi) nilai-nilai yang positif dari yang kita pilih dan sebaliknya kita akan memilih informasi atau berita , hal-hal yang negative dari lawannya. Padahal kedua kubu memiliki nilai-nilai baik positif maupun negative.

Bandwagon bias (Bias kereta) artinya kita lebih cenderung membuat keputusan yang telah dilakukan oleh banyak teman atau kerabat kita hingga kita ikut-ikutan.

Loss Aversion bias yaitu secara psikologis kita lebih takut menanggung kerugian dibanding kita akan mendapat untung.Misalnya ketika diumumkan ada sisa barang yang dijual tinggal satu atau dua lagi, ayo buruan! Kita akan buru-buru membeli barang tersebut takut kehilangan kesempatan
Framing effect yaitu kita telah membingkai efek negative atau positif misalnya biasanya ketika kita diberi kabar oleh dokter tentang keberhasilan operasi yang akan dijalankan akan berhasil 80 % dan kemungkinan gagal 20% tentu kita akan pilih operasi tapi jika dikatakan sebaliknya yaitu kemungkinan gagal 20% mungkin kita akan ambil keputusan yang berbeda?

Reactance bias yaitu keputusan yang diambil selalu didasarkan pada lawannya. Ini biasa terjadi pada anak-anak, jika kita melarang malah anak melakukan hal sebaliknya. Oleh karena itu ada peribasa melarang anak semakin keras maka semakin seperti pasir semakin digenggam semakin cair.

Status Quo bias yaitu keputusan diambil atas dasar takut kehilangan status yang ada. Orang seperti ini takut ada perubahan yang mungkin dapat mengganggu status atau jabatan dia.

Dunning-Kruger Effect yaitu ketika kita merasa hebat dibanding orang lain hingga keputusannya berbasis pada ego dirinya dan tidak menyadari bahwa dirinya bukan yang hebat dan lain-lain
Masih banyak bias berpikir lain yang belum penulis sebutkan. Dalam hal ini penulis ingin mengajak bagaimana agar kita terhindar dari bias kognitif sehingga kita dapat mengambil keputusan yang benar, baik, dan bermanfaat bagi kita atau bagi organisasi kita. Diantara cara untuk menghindari keputusan yang salah adalah:

  • Membuat keputusan saat sedang focus dan tidak terburu-buru
  • Mengumpulkan data dan fakta sebanyak-banyaknya
  • Tetap terbuka atas berbagai pendapat dan kemungkinan
  • Membuat atau mengidentifikasi dampak positif dan negative
  • Kita dapat memposisikan sebagai orang luar agar obyektif

Dari berbagai sumber

Penulis: Dr. H. Srie Muldrianto, MPd (Aktivis Pendidikan di Kabupaten Purwakarta). Ketua PC MATAN (Mahasiswa Akhli Thoriqoh Al Mu’tabaroh An-Nahdliyah) NU Purwakarta dan Pengurus HIPAKAD (Himpunan Putra-Putri Keluarga TNI AD) Purwakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here