Ketangguhan Santri: Ilmu, Fisik dan Ruhaniyyah

67

Andri Nurjaman – Santri merupakan salah satu dari elemen-elemen pesantren, yang menurut Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya yang berjudul Tradisi Pesantren, elemen-element pesantren terdiri dari lima elemen yaitu pondok, masjid, pengajaran kitab Islam klasik, kyai dan santri. Sebutan santri ditunjukan kepada orang yang sedang mencari ilmu di lembaga pendidikan pesantren. Literasi yang lain juga mengatakan bahwa kata santri berasal dari kata sastri (bahasa sansakerta) yang artinya orang yang sedang belajar kitab suci, sedangkan tempat belajarnya disebut pesastrian selanjutnya disebut pesantren. Dalam dunia pesantren, santri ini terbagi menjadi dua golongan, yaitu pertama santri mukim yang biasanya golongan santri ini berasal dari daerah yang jauh dan menetap di pondok pesantren, dan yang kedua santri kalong yaitu santri-santri yang berasal dari lingkungan sekitar pesantren, biasanya santri golongan kedua ini tidak menetap di pondok pesantren dan pulang pergi dari rumah ke pesantren untuk mengikuti pengajian di pesantren. (Zamakhsyari Dhofier: 89)

Santri dicetak dan dikader oleh kyai untuk menjadi penerus perjuangan kyainya bagi agama, nusa dan bangsa. Santri dibekali oleh kyainya tidak hanya mengenai ilmu agama, melainkan juga dibekali dengan ilmu-ilmu yang lain, seperti ilmu bercocok tanam. Hal ini sering kita lihat di lembaga pondok pesantren salafiyah, yang kyainya menugaskan kepada santri-santrinya (biasanya santri yang sudah lama mondok) untuk sambil bercocok tanam baik padi sebagai bahan makanan pokok ataupun sayur-sayuran. Hal ini merupakan bagian dari pendidikan kyai bagi santri-santrinya yang bertujuan untuk kemandirian santri, artinya jika santri tersebut sudah lulus dari pondok pesantren dan sudah siap mengabdian dan mewakafkan dirinya untuk masyarakat, santri tersebut tidak hanya mengamalkan dan memamfaatkan ilmu agama yang didapatnya dari kyai bagi masyarakat setempat, santri tersebut juga bisa hidup secara mandiri dengan mengolah sawah dan berkebun.

Salah satu Kyai karismatik asal Tasikmalaya yaitu Alm. KH Khoer Afandi yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya mempunyai syairan berbahasa sunda mengenai hal diatas, yaitu sebagai berikut:

Iklan Layanan Masyarakat

“Masing loba pepelakan, masing loba tatanceban
Ameh loba ala-alaeun, lamun nyesa loba bikeuneun”

Santri didik oleh Kyai untuk tidak minder dalam urusan kasab yang penting halal, santri dibekali ilmu bercocok tanam dimulai dari awal mengolah tanah, menanam sampai panen. Hal ini juga memiliki hal yang tersirat, yaitu jika kita menanam padi kita akan panen padi, jika kita menanam kebaikan didunia maka kita akan panen pahala di akherat kelak sebagai tempat kembali yang abadi.

Seiring berkembangnya zaman, santri pun dididik oleh kyai tidak hanya dibekali ilmu agama atau ilmu akherat, tidak hanya juga dibekali ilmu mengolah sawah/ladang ataupun berternak, santri juga dituntut agar memiliki wawasan yang luas dan menguasai ilmu umum yang mapan, sehingga banyak kita jumpai di lembaga pondok pesantren yang mempunyai atau berdampingan dengan madrasah, baik madrasah ibtidaiyyah, madrasah tsanawiyyah, madrasah aliyyah bahkan sampai perguruan tinggi. Hal ini bertujuan untuk menyiapkan generasi yang unggul, yang mampu menjawab dan menyelesaikan masalah pada zaman sekarang yang serba komplek.

Untuk memperkuat hal ini, pendiri pondok pesantren Baitul Hikmah Haur Kuning Tasikmalaya alm. KH Saefudin Zuhri mengatakan bahwa : “haram sakola, kudu dua kola” artinya beliau mengatakan bahwa dilarang untuk hanya bersekolah saja namun harus mondok di pesantren sambil sekolah (dua kola). Ini bertujuan agar santri memiliki keseimbangan intelektualitas didalam dirinya, yaitu memiliki pemahaman ilmu agama yang mapan dan memiliki wawasan ilmu umum yang luas. Dalam kitab Ta’lim Muta’alim pun dikatakan bahwa jika kita ingin mendapatkan akherat harus dengan ilmu, jika kita ingin mendapatkan dunia harus dengan ilmu dan jika kita ingin mendapatkan keduanya (akherat dan dunia) harus dengan ilmu juga.

Keseimbangan intelektualitas santri ini akan menimbulkan sikap yang bijak, berpikir dari berbagai sudut pandang, tidak akan gampang terprovokasi dan diadu domba oleh pihak lain, tidak akan mudah menuduh orang lain yang berbeda dengannya dengan sebutan kafir, bid’ah dan ucapan-ucapan kotor lainnya. Bahkan dalam menjawab pandemi Covid-19 ini yang telah melanda bangsa Indonesia bahkan dunia, santri memiliki dua pandangan, yaitu pandangan melalui kacamata agama dan pandangan melalui kacamata ilmu pengetahuan. Sampai solusinya pun juga memiliki dua dimensi yaitu solusi dari pandangan agama dan solusi dari pandangan ilmu pengetahuan.

Adapun wabah pandemi Covid-19 ini menurut agama ya tentunya semuanya dari Allah SWT baik ataupun buruk, khoerihi wa sarrihi minallahi ta’ala. Santri berkeyakinan bahwa apapun yang terjadi semuanya sudah tertulis, adanya Covid-19 harus dijadikan sebagai media untuk lebih dekat dengan Allah SWT dengan meningkatkan peribadahan seperti membaca Al-qur’an, berdzikir dan lain-lain.

Jika negera melalui hasil penelitiannya untuk melakukan isolasi mandiri dan jangan keluar rumah yang bertujuan untuk membunuh mata rantai penyebaran wabah ini, santri sudah dari dulu melalukan konsep isolasi mandiri tersebut. Santri selama dia mondok dan belajar di pesantren dilarang untuk pergi keluar meninggalkan wilayah pondok pesantren jika tidak ada kepentingan yang mendesak, aktifitas santri hanya mengaji dan sholat berjamaah.

Negara juga memerintahkan untuk berolahraga dalam rangka menjaga ketahanan tubuh dan imun, santri dengan bekerja bercocok tanam di sawah/ diladang, dengan kerja bakti dalam rangka pembangunan pondok pesantren yang semuanya merupakan perintah dari kyai ini hemat saya lebih dari olahraga. Santri sudah biasa berkeringat, daya tahan tubuh santri sudah kuat dan imun pun stabil, karena karakter santri ini santai dalam mengahadapi apapun, jauh dari sikap panik yang merupakan sifat syaiton.

Negara juga memerintahkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan rajin cuci tangan, santri di dunia pesantren mempunyai kebiasaan untuk melakukan bersih-bersih lingkungan pondok pesantren yang minimalnya dilaksanakan seminggu sekali, karena santri tahu betul bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah sebagian dari iman. Selanjutnya bagi santri cuci tangan ini adalah hal yang sudah biasa, ya minimal dilaksanakan lima kali sehari dalam berwudhu untuk melaksanakan sholat 5 waktu berjamaah, tapi santri juga diajarkan dan dididik oleh kyainya untuk menjaga wudhunya, artinya setiap kali batal harus memperbaharui wudhu sehingga setiap waktunya santri selalu dalam keadaan suci. Didalam wudhu pun tidak hanya cuci tangan, tapi juga ada berkumur-kumur ke mulut dan memasukan air ke hidung (nyingreup cai), kita tahu betul bahwa mulut dan hidup merupakan sarana bersarangnya virus sehingga dengan wudhu khususnya dalam berkumur-kumur dan memasukan air ke hidung ini akan membersihkan segala virus dan bakteri.

Tidak hanya itu, setiap santri pasti memiliki wirid khusus yang dimiliki, baik bacaan sholawat, tasbih atau bacaan lainnya, ini merupakan bagian yang penting, karena wiridan-wiridan tersebut berkat izin Allah mampu menjaga santri dari hal-hal negatif termasuk penyakit. Riyadhoh seperti ini sudah biasa dilakukan oleh seorang santri.

Ini semua adalah sebuah ketangguhan dari kebiasaan santri, baik dari sisi kafasitas ilmu, fisik dan dimensi ruhaniyyah. Oleh karena itu pada saat ini ketika bangsa Indonesia sedang diuji dengan pandemi Covid-19 yang belum reda, mari kita tingkatkan kebiasan-kebiasaan santri tersebut untuk semata-mata mendekatkan diri kepada Allah SWT agar senantiasa kita selalu diberi kesehatan, keselamatan dan keberkahan.

Wallahu a’lam.IMG-20190425-WA0006.jpg

Penulis
Andri Nurjaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here