Keunikan Mama Muhammad Faqih Lemburawi

135

“Keunikan” lainnya, Mama menurut penuturan para saksi hidup, beliau tidak pernah marah, berjalan pun selalu melihat ke bawah. Nada suara yang tenang. Tutur kata yang jelas dan lembut. Murah senyum. Tidak pernah mengaku sebagai kiai dan selalu mendarmakan harta bendanya untuk masyarakat. Pantas kalau setiap ada serangan para penjajah semua masyarakat di kampung selalu berkumpul (bersembunyi) di pesantren. Penenang batinnya di kala itu ke Mama. 

Bagi masyarakat, Mama tidak hanya sebagai kiai (guru ngaji), tapi beliau seperti orang tua tempat berlabuh seluruh hajat masyarakat, dan penjaga dari para penjajah.

Masyarakat sekitar kampung Lemburawi menyebutnya dengan Mama, karena sebutan itu bagi masyarakat adalah sebagai sebuah potret penghargaan atas sosok kharismatik dan dituakan.

Iklan Layanan Masyarakat

Pada masa DI/TII (1949-1962) daerah Pacet menjadi tempat “persinggahan” DI/TII. Di tempat inilah Kartosuwiryo ditemukan dan ditangkap. Lebih tepatnya di wilayah Gunung Rakutak pada tahun 1962. 

Pembakaran oleh “gerombolan” (sebutan masyarakat kepada kelompok DI/TII) di hampir semua tempat yang ada di Pacet. Salah satu tempat yang dibakar adalah Pangauban, Salawi, Cipadali, Cinanggela termasuk hampir nyaris Lemburawi. Namun pesantren Lemburawi tidak tersentuh bahkan dianggap “leuweung” (hutan) oleh para “gerombolan”, karena tak terlihat. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here