Keunikan Mama Muhammad Faqih Lemburawi

124

Pada waktu itu, masyarakat umumnya, setiap sore memasak nasi dan lauk pauk. Lalu disimpan di pelataran rumah. Malam harinya makanan tersebut diambil oleh “gerombolan”. Kalau tidak melakukan itu semua, rumah pasti dibakar. Kalau ketemu penghuninya pasti “digorok”. Kondisi yang sangat menakutkan, tentunya.

“Kiai anu teu ingkah balileuhan,” (kiai yang tidak lupa diri/menjunjung purwadaksi). 

Pada masa kondisi seperti itu, Mama sama sekali tidak meninggalkan pesantren. Hampir semua kiai meninggalkan Pacet untuk menghindarkan diri dan keluarga dari kondisi yang teramat mencekam. Sementara Mama tetap tinggal, dan menjadikan masjid dan madrasah yang sekarang dijadikan masjid khusus “santriyat”, tempat bersembunyi masyarakat Pacet, khususnya masyarakat Lemburawi, dari keganasan “gerombolan”.

Iklan Layanan Masyarakat

Urang salamet, tapi tong nyilakakeun batur,” (diri kita selamat tapi jangan mencelakakan orang lain).

Setiap terjadi suara ledakan, Mama selalu menutup rapat mesjid atau madrasah, yang di dalamnya terdapat keluarga, masyarakat dan santri. “Gerombolan” yang lewat dengan memakai senjata lengkap, berlalu begitu saja, seakan tidak menemukan apa pun, terkecuali hanya pepohonan.

Penulis: Ahmad Fuad Ruhiyat
Editor: Abdullah Alawi 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here