KH Sa’dulloh Didaulat Jadi Ketua Koordinator Nasional Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri

29
KH Sa’dulloh Didaulat Jadi Ketua Koordinator Nasional Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah juga Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang Periode 2009-2019, KH Sa’dulloh, didaulat untuk menjadi Ketua Koordinator Nasional (Kornas) Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri (Jakisan).

Penunjukan dan pelantikan pengurus koordinasi nasional Gerakan Jakisan secara resmi dipimpin oleh Rois Syuriah PWNU Jawa Barat, KH Usamah Manshur dan Wakil Rois PWNU Jawa Barat, KH Muhammad Aliyuddin di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sukamantri Tanjungkerta Sumedang Jawa Barat, Jumat Malam (23/10/2020).

Adapun susunan pengurus Kornas Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri adalah sebagian berikut. Penasehat : KH Muhammad Aliyudin dan KH Usamah Mansyur. Pengurus :
KH Sa’dulloh sebagai ketua, dan dibantu oleh Asep Rukmana, Asep Sutaryat, Jujun Juhanda, Gus Labib, dan Acep Komarudin Hidayat.

Iklan Layanan Masyarakat

KH Usamah Manshur yang menggagas Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri mengatakan bahwa Deklarasi Jaga Kyai Jaga Santri itu dilatarbelakangi atas keprihatinan dan pamikiran dalam membangun sebuah kepedulian.

Seorang muslim itu mempunyai lima kewajiban yang harus dijaga, lanjut KH Usamah. Yaitu menjaga diri sendiri, menjaga akal yang ada pada diri kita, menjaga agama yang kita anut dan yakini, menjaga keturunan, dan menjaga hartanya. Jika kelima kewajiban itu sudah dilakukan, maka langkah selanjutnya seorang muslim harus peduli terhadap orang lain. Lebih-lebih kepada para kyai dan para ulama panutan kita.

Akhir-akhir ini ada para kyai yang secara fisik ada yang dibunuh, secara fisik ada yang dibuli, dan secara fisik ada yang dihinakan. Kita sebagai santri harus tergugah dan punya kewajiban untuk menjaga mereka. Lebih-lebih seorang ulama panutan kita, guru kita, dan orang tua kita, lanjut KH Usamah.

Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa orang tua itu ada tiga, pertama ibu yang melahirkan dan bapak kita, kedua mertua kita, dan yang ketiga orang yang pernah mengajari kita (guru).

Maka dari gerakan-gerakan moral dan sosial, gerakan kepatutan, dan gerakan dari dorongan nilai keagamaan, kita sebagai para santri mulai berfikir secara konstruktif untuk membuat satu buah gerakan untuk menjaga para ulama, dan akhirnya tercetus sebuah gerakan yang dinamai Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri.

Dengan adanya Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri ini kedepannya jangan ada lagi para kyai dan para santri yang dibuli oleh pihak-pihak lain. Baik dibuli secara fisik atau mental.

Berbarengan dengan itu, lanjut KH Usamah, saat ini lagi masif-masifnya penyebaran virus covid-19. Salah satu tugas dibentuknya Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri yaitu bagaimana caranya agar virus covid-19 tidak masuk ke wilayah pesantren. Tidak kena ke Kyai dan para santri.

Semoga kepengurusan Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri ini cepat menyebar ke daerah-daerah. Dan bisa segera terbentuk korda-korda di wilayah Jawa Barat dan Indonesia, tutup KH Usamah.

Sementara ketua Koordinator Nasional Gerakan Jaga Kyai Jaga Santri, KH Sa’dulloh, mengatakan insya Alloh siap mengemban amanah ini. Apalagi amanah ini didukung langsung oleh orang tua saya sendiri, KH Muhammad Aliyuddin. Dalam waktu dekat kami semua Pengurus Kornas Jakisan akan segera bermusyawarah untuk merancang program kerja Gerakan Jakisan kedepan. (Ayi Abdul Kohar).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here