KH. Sa’dulloh : Ibadah Qurban Bukan Tontonan Kesalehan Orang-Orang Kaya

10
KH. Sa’dulloh : Ibadah Qurban Bukan Tontonan Kesalehan Orang-Orang Kaya

Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah, KH. Sa’dulloh, menyampaikan bahwa beribadah memotong hewan qurban bukan hanya untuk mempertontonkan kesalehan orang-orang kaya, Namun ibadah kurban adalah dalam rangka memperkuat kepekaan sosial, menyantuni fakir miskin dan membuat gembira orang yang sengsara.

Hal tersebut disampaikan dalam khutbah sholat idul adha di Lapangan Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Desa Sukamantri Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang Jawa Barat, Ahad, 11 Agustus 2019.

Lebih jauh lagi KH. Sa’dulloh menyampaikan ibadah kurban merupakan bentuk solidaritas atas sesama yang tercecer dari mobilitas sosial. Semakin sulitnya kehidupan saudara-saudara kita, adalah kewajiban bagi kita semua untuk membantu mereka. Kurban mencerminkan pesan Islam bahwa seseorang hanya dapat taqarrub pada Allah SWT bila ia sebelumnya telah dekat dengan saudara-saudaranya yang kekurangan.

Selain itu, KH. Sa’dulloh juga menyampaikan ada pelajaran yang bisa dijadikan hikmah dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Yaitu tujuan tertinggi manusia adalah seperti doa Nabi Ibrahim. Rabbi hab li minasshalihin. Ya Allah berilah kami anak-anak yang soleh.

Nabi Ibrahim meminta anak yang soleh. Bukan anak yang pintar. Bukan anak yang kaya raya. Bukan anak yang punya jabatan luar biasa. Bukan anak yang punya pangkat setinggi langit. Karena apalah arti anak kaya, anak berpangkat dan jabatan, anak yang pintar tapi mereka tidak soleh. Karena itu, kata kuncinya adalah “anak soleh”.

Untuk mewujudkan anak yang soleh, tentu bukan hal yang mudah.

Pertama, keluarga adalah hal utama dan pertama dalam mewujudkan anak soleh. Jangan remehkan peran keluarga. Anak yang soleh dan solehah, pasti tidak luput dalam pendidikan keluarga sejak dini seperti dilakukan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Keduanya berjibaku membentuk karakter Ismail sedemikian rupa. Mereka mengajarkan pendidikan agama pada Ismail sejak dini.

Ini sama dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mendidik anak-anak muslim, “Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai ahlu baitnya, dan membaca al-Qur’an”.

Dan Nabi juga bersabda, “Didiklah anak-anakmu karena mereka hidup di zaman yang tidak sama dengan zamanmu.”

Kedua, memberi keteladanan (uswah) pada anak-anak kita. Bagaimanapun, keteladanan merupakan dakwah yang sangat manjur dalam mengarahkan anak-anak kita. Dengan keteladanan yang ditampakkan sehari-hari, maka yang demikian ini akan mempengaruhi anak-anak kita.

Keluarga yang mempertontonkan kejujuran dan kedermawanan akan berpengaruh bagi anaknya. Sebaliknya, keluarga yang mempertontonkan kedustaan dan kebakhilan juga akan anaknya meniru.

Ketiga, kumpulkan anak-anak kita dengan teman-teman yang baik atau teman yang soleh atau solehah. Almarhum KH. Abdul Muchith Muzadi, selalu memberi nasihat pada orang-orang, “Lebih baik sekolah yang berakhalkul karimah meskipun ‘tidak bermutu’ daripada ‘bermutu’ tapi tidak berakalakul karimah”.

Tempat di mana kita berada, sangat berpengaruh pada manusia, pada anak-anak dan juga pada adik-adik kita. Carilah lembaga pendidikan yang baik-baik. Jangan terjerumus pada lembaga pendidikan yang kurang baik sehingga menyebabkan kita masuk dalam pendidikan yang kurang baik tersebut, tutup KH. Sa’dulloh. (Ayi Abdul Kohar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here