The news is by your side.

Khofifah Jelaskan Riwayat Batik Muslimat NU

Jakarta, NU Online 
Hijau muda, kuning muda, biru, hitam, dan ungu merupakan warna di batik Muslimat NU. Warna-warna itu saling mengisi dalam bentuk daun, tangkai, bunga. Di antara bunga itu terdapat garis-garis lurus yang membentuk persegi yang beririsan. Kemudian ada garis diagonal yang lurus juga. Dengan garis-garis seperti tampak juga bentuk kerucut yang saling berdempetan. Tiap pertemuan garis dari empat arah terdapat bunga di titiknya. Dari seluruh warna yang ada, hijau yang paling dominan. 

Warna hijau itulah yang mengepung Gelora Bung Karno (GBK) Sabtu (26/1) malam. Menurut keterangan panitia, mereka datang dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia dengan menggunakan jalur darat maupun udara. Ada juga yang dari luar negeri. Diperkirakan ada 120 ribu Muslimat NU.   
Menurut Ketua Umum Pimpinan Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa batik Muslimat NU seperti yang dikenal sekarang ini mulai digunakan awal kepemimpinannya, yaitu pada 2003. Desain batik itu sendiri diciptakan Danar Hadi. 

“Jadi, seragam itu dulu kita berharap akan menjadi sesuatu borderles, tidak ada pembatas. Jangan yang kaya memakai baju apa. Yang tidak punya pakai baju apa. Jadi itu kan kemudian sama. Gitu,” katanya di GBK, Jumat (26/1) sore. 

Setelah batik itu ditentukan, lanjutnya, kemudian pasar mencium bau uang yang besar mengingat jumlah Muslimat NU yang banyak. Sehingga batik Muslimat NU diproduski dan diperjualbelikan di berbagai daerah. 
“Orang-orang Kalimantan rata-rata beli seragam di Tanahabang. Telpon, beli seragam NU, udah tahu mereka, itu artinya Muslimat NU. Dan itu murah. Hampir di semua kota bisa. Aku ke Lubuk Linggau kira-kira setahun lalu, ada toko yang jualan seragam Muslimat,” jelasnya. 

Makin banyak orang yang memproduksi, lanjutnya, makin mudah anggota Muslimat NU mendapatkannya. Karena banyak yang memproduksi, harganya pun menjadi lebih murah. 

“Tetapi akhirnya warnanya rada blontang-blontang. Kalau ada warna ungunya kuat, iki produksinya Pekalongan, saya tahu. Kalau kuningnya agak banyak, mesti produksi Semarang. Sedikit kemudian variatif, tapi kemudian ya mirip-mirip. Pokoke, tapi aku tambah seneng.” 

Desainer anggota Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Malang Elma Faricha, sebagaimana dikutip Malang Times, berpendapat padu padan busana batik Muslimat sudah tepat. 

“Kalau dari sudut pandang fashion, khususnya styling-nya, sudah pas. Pemilihan warna kerudung Muslimat sudah bagus karena dicocokkan dengan warna dominan,” ungkap Elma, Ahad (6/8/2017). (Abdullah Alawi)

Sumber : NU Online

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.