Kiai Said: Semua Warga Indonesia Harus Sejahtera, Tidak Boleh Kaya Sendirian
Tegal, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kiai Said) menegaskan bahwa NU, masyarakat, dan Indonesia juga harus maju. Hal itu dikatakan Kiai Said saat menghadiri Halal Bihalal di Desa Penusupan, Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal, Kamis (20/7).
Kemajuan itu, kata Kiai Said, yakni maju di bidang agama, akhlak, ilmu religi, kultur, moral, kemanusiaan, dalam bahasa arabnya Tsaqafah. “Kalau masyarakat Tegal, warga NU, semuanya agamanya bagus, akhlaknya bagus, cerdas berpendidikan, namanya masyarakat itu telah maju di bidang tsaqafah,” ujar Kiai Said.
Yang kedua, lanjutnya, kemajuan dibidang ekonomi, tatanan kehidupan masyarakat, administrasi, manajemen, pembangunan fisik. “Kemajuan itu dalam bahasa arab namanya hadharah. Jika kedua-duanya maju, maka orang itu disebut tamaddun atau mutamadin. Sedangkan masyarakatnya disebut Madinah,” jelasnya
Menurut kiai kelahiran Cirebon itu, Warga NU masih bisa dibanggakan tsaqafahnya, agamanya, akhlaknya, moralnya bagus. Tetapi warga NU yang masih ketinggalan dibidang hadoroh, kesejahteraannya masih ketinggalan.
“Masih banyak warga NU yang sangat-sangat miskin, sangat-sangat fakir, menyedihkan kalau kita lihat, masih banyak warga NU yang masih berpikir besok makan apa. Hari ini tidak makan, tapi besok makan apa?? Ungkap Kiai Said
Fakir itu, kata Kiai Said, rezekinya ditentukan oleh tulang punggungnya. Kalau mau angkat-angkat dia bisa makan, kalau tidak angkat-angkat, maka tidak makan. “Kalau miskin punya sumber rezeki/gaji, punya masukkan tapi kurang mencukupi,” terangnya
Oleh karena itu, bagaimana caranya agar agamanya maju, akhlaknya baik, pendidikannya maju, ekonominya juga maju.
“Kanjeng Nabi Muhammad SAW telah berhasil 15 abad yang lalu membangun Madinah. Masyarakatnya beriman, berakhlak, berbudaya, bermoral, dan sejahtera, tidak ada yang kelaparan. Maka negaranya namanya Madinah, karena masyarakatnya cukup sandang, pangan, papan, dan agamanya bagus,” urai Kiai Said.
Ia menegaskan, tidak boleh ada orang atau sekelompok orang kaya sendiri, tidak boleh kenyang sendirian. Tidak boleh organisasi hanya memikirkan kepentingan organisasinya saja.
“Semua harus bekerja sama untuk mewujudkan itu. Kewajiban pemerintah bagaimana membangun kesehatan masyarakat, kesejahteraan, pendidikan dan lainnya agar maju semua. Negara maju bukan hanya ekonomi saja tapi juga pemerataan,” imbuhnya.
Hadir dalam kesempatan itu, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal KH Chambali Utsman, sejumlah kiai, Pemuda Ansor, Banser dan ratusan warga Nahdliyin. (Hasan/Alhafiz K)
Sumber : NU Online
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



