The news is by your side.

Korelasi Hadis dengan Fenomenal Budaya Carok

Korelasi Hadis dengan Fenomenal Budaya Carok | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Mohammad Fadhil Febryansyah – Budaya carok yang memiliki akar dalam kekerasan dan konflik seringkali dikaji dalam konteks kehidupan masyarakat yang melibatkan tradisi budaya dan nilai-nilai lokal. Dalam melihat korelasi antara hadis Islam dengan budaya carok, perlu dicatat bahwa Islam mendorong perdamaian, keadilan, dan penyelesaian konflik dengan cara yang damai.

Ada dua riwayat hadis yang konteksnya relavan dengan budaya carok, dua hadis tersebut berbunyi:

حدثنا عبد الرحمن بن المُبارَكِ حدثنا حَمَّادُ بن زيد حدثنا أيوب ويُونُسُ عن الحسن عن الأَحْنَفَ بنِ قَيْسٍ قال ذَهَبْتُ لأَنْصُرَ هذا الرَّجُل ، فَلَقِيَني أبو بكرة فقال : أين تريد؟ قلت : أنصُرُ هذا الرَّجُل . قال : ارْجِعْ ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رسولَ اللهِ ﷺ يقول : إِذَا الْتَقَى المُسْلِمَانِ بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار ، فقلت : يا رسول الله هذا القاتل ، فما بال المقتول؟قال : إنه كان حريصاً على قتل صاحب

Artinya:
Telah diceritakan kepada kami oleh Abdul Rahman bin Al-Mubarak yang mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid yang menceritakan kepada kami Ayyub dan Yunus dari Hasan dari Ahnaf bin Qais, ia berkata: “Aku pergi untuk membantu pria ini, lalu Abu Bakrah bertemu denganku dan berkata: kemana kamu pergi? Aku berkata: Aku ingin membantu pria ini. Abu Bakrah berkata: kembalilah, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: jika dua orang muslim bertemu dengan membawa pedangnya maka, pembunuh dan yang dibunuh berada dalam neraka. Aku bertanya: wahai Rasulullah, ini adalah pembunuh, bagaimana dengan yang dibunuh? Beliau bersabda: dia juga berusaha untuk membunuh temannya. (Hadis Riwayat Imam Bukhari nomor: 31)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُرَّةَ يُحَدِّثُ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالتَّارِكُ دِينَهُ الْمُفَارِقُ أَوْ الْفَارِقُ الْجَمَاعَ.

Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syubah dari Sulaiman ia berkata, Aku mendengar Abdullah bin Murrah menceritakan dari Masruq dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga sebab; Membunuh jiwa (dibalas) dengan jiwa, orang tua yang berzina dan orang yang meninggalkan agamanya.” Atau “Memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin. (Hadis riwayat Ahmad Nomor 4197)

Hadis ini menunjukkan bahwa baik yang membunuh dan yang dibunuh itu keduanya masuk neraka. Hadis ini memberikan nilai yang penting bahwa membunuh ataupun menyebabkan kekerasan itu harus dihindari. Dengan demikian, budaya carok cenderung melibatkan pertumpahan darah dan konflik tanpa jalan keluar yang damai dapat dianggap tidak sepadang atau menyeleweng dengan ajaran Islam. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa interpretasi hadis dapat bervariasi, dan ada perbedaan pendapat dikalangan Ulama tentang bagaimana mengaplikasikan ajaran Islam terkait kekerasan dalam konteks budaya tertentu. Beberapa masyarakat mungkin memiliki tradisi lokal yang memengaruhi cara mereka memahami dan menerapkan ajaran agama.

Dalam menghadapi tantangan budaya carok, masyarakat perlu mencari solusi yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, seperti dialog, mediasi, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Pendidikan agama dan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran Islam dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi konflik dan mempromosikan perdamaian dalam masyarakat. Secara keseluruhan, korelasi antara hadis Islam dan budaya carok mencerminkan ketegangan antara nilai-nilai agama yang mengajarkan perdamaian dan keadilan dengan praktik lokal yang mungkin melibatkan kekerasan.

Pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam dan dialog antarbudaya dapat membantu merumuskan solusi yang menghormati nilai-nilai agama dan mempromosikan harmoni dalam masyarakat.

Referensi:
Henry Arianto and Krishna, ‘Tradisi Carok Pada Masyarakat Adat Madura’, Forum Ilmiah, 2011.
Abi Muhammad bin Ismail Al-Bukhari ‘Shahih Bukhari’ Addar Al-Katsir cetakan Beirut
Aplikasi Ensiklopedia Hadis

Penulis
Mohammad Fadhil Febryansyah
Leave A Reply

Your email address will not be published.