LPBI PBNU Desak Pemerintah Hentikan Impor Sampah

9

Jakarta, NU Online

Kasus temuan timbunan sampah plastik impor dari luar negeri di Mojokerto sedang menjadi sorotan. Belum usai penanganan sampah lokal, Indonesia justru diserbu sampah pastik impor dari Eropa dan Amerika. Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi sasaran masuknya sampah-sampah berbahaya dan mayoritas tak dapat didaur ulang.

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU menilai, serbuan sampah ke Indonesia merupakan dampak dari kebijakan Pemerintah China yang menghentikan impor sejumlah jenis sampah dari luar negeri sejak akhir 2017. Total, 24 jenis sampah dari luar negeri dilarang memasuki negara itu termasuk plastik, kertas, dan tekstil.

“Memang ini dampak dari China. Selama ini pengepul sampah dunia itu China. Amerika, Australia, termasuk Indonesia sendiri itu (ekspor) ke China,” kata Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI PBNU Fitri Aryani di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (20/6).

Menurut Fitri, China memiliki mekanisme daur ulang yang canggih, tapi karena China sendirian dalam mengelola sampah dari banyak negara, akhirnya tidak mampu menampungnya. Kebijakan China itu membuat banyak negara tidak siap.

Fitri mengapresiasi sikap Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang beberapa hari lalu mengembalikan lima kontainer sampah ke Amerika Serikat karena tidak sesuai Pemberitahuan Impor Barang (PIB). Kelima kontainer tersebut berisi campuran sampah rumah tangga lainnya yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), mulai dari kemasan minyak goreng dari plastik, botol bekas infus dari plastik, sepatu bekas, kemasan oli bekas, hingga botol minum sekali pakai.

Namun, ia berharap lebih jauh ke pemerintah, yakni menghentikan impor sampah, khususnya sampah plastik ke Indonesia, seperti yang dilakukan China. “Memang dibutuhkan satu keberanian dari pemerintah, terutama Pak Jokowi sendiri untuk berbuat seperti yang China lakukan,” ucapnya.

Hingga kini, Indonesia masih mengalami persoalan sampah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ilmuwan kelautan dari University of Georgia dirilis di Science pada Februari 2015 menempatkan Indonesia sebagai penghasil dan penyumbang plastik ke lautan terbesar kedua di dunia setelah China. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here