LPBI PBNU Latih Santri Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Mengelola Sampah

28

LPBI PBNU Latih Santri Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Mengelola Sampah

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan pelatihan pesantren hijau, manajemen bank sampah, dan pengelolaan sampah kepada santri Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Desa Sukamantri Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang Jawa Barat, Selasa (16/5).

Rombongan LPBI PBNU yang datang ke Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyaj berjumlah lima orang, yaitu: Ai Rosita yang menjabat sebagai kepala sekretariatan LPBI, Yusuf Dullah sebagai Wakil Ketua LPBI, Ersuwanda sebagai anggota tanggap darurat LPBI, M Lukman sebagai anggota perubahan iklim LPBI, dan Binti Soleha sebagai anggota tanggap darurat lPBI.

Iklan Layanan Masyarakat

Lurah Santri Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah, Dede Rohmat Apandi, mengatakan hal yang melatar belakangi kegiatan ini dilaksanakan yaitu sampah yang ada di pesantren saat ini sudah semakin banyak dan belum ada solusi yang tepat bagaimana cara pengelolaan sampah tersebut.

“Seiring dengan berjalannya waktu, santri Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah saat ini semakin banyak. Sekitar 700 santri setiap hari mengonsumsi makanan yang berpotensi menyisakan sampah. Sampah ini manjadi masalah utama di pesantren dan sampai sekarang belum ada solusi yang tepat untuk menyelesaikannya,” kata Dede.

Solusi saat ini yang dilakukan yaitu semua jenis sampah dikumpulkan disuatu tempat dan di bakar. Ketika sampah dibakar, asap yang dikeluarkannya malah memunculkan masalah baru. Saya yakin jika sampah-sampah tersebut dimanfaatkan dengan baik bisa dijadikan sebuah produk yang lebih bermanfaat. Mudah-mudahan pelatihan ini bisa menjadi solusi yang tepat. Sampah uang asalnya selalu jadi masalah bisa membawa berkah, tutup Dede.

Semantara perwakilan dari LPBI PBNU, M Lukman, mengatakan tujuan kami datang ke pesantren-pesantren untuk melatih santri-santrinya mengolah sampah menjadi barang baru yang bermanfaat. Mereka dilatih membuat bros, kerajinan, membuat tempat duduk, membuat meja untuk mengaji, membuat pupuk kompos, dan lain-lain yang bahan dasarnya dari sampah yang berada di pesantren.

Kami berharap, lanjut Lukman, Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah menjadi contoh pesantren-pesantren lain yang ada di Sumedang dalam hal mengelola sampah. Semoga manajemen bank sampahnya juga berjalan. Jika produk-produk hasil dari pengolahan sampahnya sudah layak jual, LPBI LBNU siap menampung hasilnya. (Ayi Abdul Kohar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here