The news is by your side.

Madrasah Merupakan Misbah bagi Tradisi Khazanah Pendidikan Islam yang Ramah Anak

Madrasah Merupakan Misbah bagi Tradisi Khazanah Pendidikan Islam yang Ramah Anak | NU Online Jawa Barat
Madrasah Merupakan Misbah bagi Tradisi Khazanah Pendidikan Islam yang Ramah Anak | NU Online Jawa Barat

LTN NU Jawa Barat, Abdul Majid Ramdhani – Pergulatan umat Islam Indonesia khususnya di Jakarta, dalam mengembangkan dan mengelola sarana serta prasarana lembaga pendidikan Islam berbasis madrasah saat ini berada pada titik yang cukup memprihatinkan. Hal ini dibuktikan dengan minimnya minat para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah madrasah, atau wadah lembaga pendidikan non formal seperti; TPA / TPQ.

Acapkali yang lebih terdengar para orang tua pada era kemajuan teknologi dan globalisasi atau istilahnya “Jaman Now” begitu, orang tua kini menginginkan anak-anaknya dapat bersekolah di tempat pendidikan Islam modern dengan tampilan konstruksi gedung terlihat lebih modern, eksklusif serta megah membahana pandangan mata, dimana pada jam masuk sekolah nampaklah berderet mobil – mobil berbagai merek terlihat mengantri di depan pintu gerbang masuk sekolahan yang berbasis Boarding School tersebut.

Dari dua fakta diatas dapat dimaknai sebagai bentuk urgensi atas kemunduran pendidikan Islam berbasis madrasah di Jakarta yang signifikan. Kemunduran ini terjadi akibat banyak hal. Selain berbagai persoalan dalam diri umat Islam sendiri (seperti lemahnya kepercayaan) ada persoalan lain yang cukup serius, yaitu eksistensi madrasah di era kekinian mengalami persoalan cukup serius dan harus dilakukan perubahan-perubahan yang signifikan.

Dikarenakan metode pembelajaran secara klasikal dan serba era pendidikan virtual. ‘Peristiwa-peristiwa zaman kini’, serta gempuran fenomena pendidikan secara virtual di ranah sosial media, juga informasi yang up to date dari internet dapat memudarkan komponen-komponen mutu pembelajaran secara klasikal yang selama ini telah menjadi ciri khas pendidikan Islam berbasis madrasah akan terhalau oleh semua masuknya berbagai informasi dan opini publik yang akan mempengaruhi eksistensi sebuah madrasah.

Eksistensi madrasah berbarengan dengan pesatnya dan meningkatnya mutu pembelajaran secara virtual di lembaga pendidikan serupa. Karena itu madrasah agar senantiasa secara sukarela membukakan pintunya untuk setiap orang tua yang membutuhkan tempat berlindung bagi anak-anak mereka yang ingin menyekolahkan. Agar tak terjadi lagi ketakutan atau kekhawatiran terhadap perilaku tindak asusila yang terjadi belum lama ini di beberapa sekolah berbasis keislaman yang menjadi sorotan media massa dan meramaikan televisi.

Tentu saja hal ini menghambat berkembangnya sistem pendidikan Islam di madrasah. Semisal, rendahnya sumber daya manusia (SDM) kependidikan, serta rendahnya rasa kepercayaan diri dalam berkemampuan manajerial mengelola lembaga madrasah. Meskipun begitu, keberadaan madrasah yang mayoritas dikelola secara mandiri oleh sebuah yayasan dan tidak menggantungkan diri pada subsidi dari pemerintah.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa madrasah amat sangat berperan dalam menumbuh-kembangkan perilaku ahlaqul karimah, serta merawat persatuan dan pembangunan bagi karakter generasi bangsa yang begitu khas dengan pola asuh keberagaman masyarakat Indonesia yang toleran dan moderat dapat terbentuk.

Dalam konsep pendidikan, Islam sangatlah mementingkan peran agama (Al Qur’an) dalam pembangunan karakter dan perilaku seorang anak. Otoritas ulama sangat penting dalam pengambilan peran di kalangan masyarakat yang mana di daerahnya terdapat lembaga madrasah.
Relativisme pandangan sebagian orang tua terhadap masa depan anak-anaknya sangat mempengaruhi pilihan dalam mencari tempat sekolah yang layak juga memiliki dasar ilmu agama yang kuat.

Kendatipun demikian masih lebih banyak lagi yang meyakini bahwa lembaga pendidikan Islam di madrasah dinilai memiliki kelebihan dalam urusan mendidik moral (akhlak) dibandingkan lembaga pendidikan konvensional. Karena madrasah merupakan wadah lembaga pendidikan Islam yang sama penting keberadaannya selain Pondok Pesantren yang jauh lebih dahulu menjalani pola asuh dalam mendidik pengajaran Ilmu Agama Islam yang ramah.

Perkembangan informasi dan komunikasi dalam skala massal di era digital telah merubah tatanan sosial masyarakat dari masyarakat lokal menuju masyarakat global. Kondisi ini disebut Cyber Society. Pada era kita sekarang masyarakat terkena dampak dari kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi. Sehingga situasi tersebut sulit diatasi, sebagaimana penyebaran pemberitaan di televisi dan informasi tertentu di ranah sosial media. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya ‘filterisasi informasi’ berupa opini, esai atau berbasis fakta juga hoaks. Tak dapat dipungkiri teknologi merupakan kekuatan yang turut berperan di dalam globalisasi sosial media dan media massa. Teknologi memberikan dorongan kuat terhadap pesatnya peradaban keilmuan di era kekinian termasuk didalamnya kemajuan pengajaran Ilmu Agama Islam.

Namun metode pengajaran klasikal yang telah menjadi ke-khasan pendidikan di ranah madrasah mesti dipadu-padankan dengan kemajuan teknologi yang menurut penulis, bahwa madrasah menjadi semacam ‘Misbah’ bagi khazanah pendidikan islam yang “rahmatan lil’ alamin” dengan tetap mempertahankan kultur madrasah yang menanamkan pola; “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat”.

Madrasah adalah ‘sumber wadah’ yang senantiasa mengaliri arus-arus Ilmu Agama dalam berkehidupan. Serta menjadi hilir perilaku generasi bangsa yang memberikan keteladanan juga merawat persatuan dan pembangunan karakter.

Sehingga dewasa nanti dan terjun ke dalam masyarakat, tak hanya memiliki kecerdasan intelektual namun jiwa mereka ditenagai juga oleh ghirah kesalehan sosial. Dengan begitu semangat juang untuk dapat bermanfaat bagi orang lain, “khoirunnas anfauhum linnas,” tetap menjadi motivasi mereka.

Tangerang Selatan, 21 Januari 2022.

Abdul Majid Ramdhani, panggil saja Ramdhani. Lahir di Jakarta, 05 Mei 1989. Penulis memiliki nama pena, Ramdhani Sastra Negara. Penulis suka sekali segala aliran musik bergenre rock dan gemar minum kopi. Kebetulan, penulis adalah lulusan Program Studi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) Tahun 2016 di Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia Jakarta (STAIINDO JAKARTA). Bagi diri penulis, “Menulis bisa menjadikanmu lebih romantis dan humanis.”

Penulis
Ramdhani
Leave A Reply

Your email address will not be published.