Maunah dan Kesederhanaan KH. Amin Halim Pendiri Pesantren Mualimin Babakan Ciwaringin Cirebon

148

oleh: Wahyu Iryana

Kiai Amin Halim (Ahal) adalah bapak kandung Kiai Zamzami dan Kiai Marzuki. Kiai Amin Halim adalah sosok kiai yang sederhana. Nasab keilmuan dan nasab silsilahnya sangat jelas beliau keturunan para penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejak kecil Kiai Amin Halim di didik nilai-nilai keagamaan (Islam) oleh keluarganya, hingga remaja beliau masih tetap ngangsu kaweruh dan berkeliling ke pesantren pesantren di wilayah Cirebon untuk mengaji di beberapa kiai hingga beliau belajar langsung ke Pesantren Tebu Ireng.

Setelah pulang kembali ke Babakan Ciwaringin Cirebon beliau dinikahkan dengan Ibu Nyai Hj. Masturoh, keinginan Kiai Amin Halim yang tinggi untuk membangun dasar dasar ilmu agama bagi generasi penerus memunculkan keinginan untuk mendirikan Pesantren Mualimin. Beliau juga ikut membantu berdirinya Madrasah Aliyah yang akan dijadikan model pendidikan oleh Kementrian Agama (duku Depag), maka berdirilah sekolah aliyah di Babakan MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon (MAN Cirebon), beliau juga merupakan dewan asatidz Ponpes Asalaffi.Di luar kesibukannya mengasuh Pesantren beliau juga masih sering diundang ceramah oleh masyarakat wilayah Cirebon, Indramayu, maupun daerah Jatitujuh Majalengka.

Kisah Maunah Kiai Amin Halim

Suatu ketika beliau diundang untuk berceramah ke wilayah Indramayu. Karena dahulu belum banyak mobil atau pun motor maka untuk berceramah sampai ke pelosok pelosok desa Kiai Amin Halim menggunakan sepeda ontel. Jalur yang harus dilewati beliau ternyata jalur rawan begal. Untuk perjalanan dari Cirebon-Indramayu pada waktu itu kalau menempuh jalan menggunakan sepeda pada umumnya membutuhkan waktu kurang lebih harus menempuh waktu 2 jam setengah.

Singkat cerita Kiai Amin Halim setelah selesai shalat Isa berjamaah dengan santrinya beliau langsung menghadiri undangan ceramah di wilayah Indramayu dengan naik sepeda ontel seorang diri. Di tengah jalan beliau dicegat oleh gerombolan begal (para pemabuk), mereka berjumlah 5 orang. Para pemabuk ini meminta paksa sepeda Kiai Amin Halim. “Oh… Jadi njenengan pengen sepeda saya, mangga…mangga…ini silahkan pegang saja sepeda nya.”Sergah Kiai Amin Halim sembari memberikan sepedanya.

Sepeda ontel yang dinaiki oleh Kiai Amin Halim diserahkan kepada para begal tersebut. Namun berkat maunah Kiai Amin Halim para begal yang memegang sepeda itu berdiri tegak tidak bisa bergerak, mematung memegangi sepeda Kiai Amin Halim. Karena ditunggu panitia dan dikejar waktu akhirnya Kiai Amin Halim bergegas menuju Indramayu dengan jalan kaki dan ajaibnya beliau datang tepat waktu sesuai undangan panitia. Idealnya jarak tempuh dengan bersepeda 2 jam setengah ini malah kurang dari dua jam beliau sudah sampai di Indramayu. Setelah pulang lagi ke Cirebon beliau memilih jalan yang sama ketika beliau berangkat, hebatnya sepeda dan para begal masih mematung ditempat semula.

Kemudian beliau membangunkan para begal dengan menyentuh pundaknya. Mereka para begal akhirnya bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, mereka kembali menjadi petani hidup wajar pada umumnya. Itulah kisah Kiai Amin Halim yang diceritakan oleh banyak santri-santri senior dan para alumni Pesantren Mualimin Babakan Ciwaringin Cirebon.

Ada satu kisah lain yang sangat unik atas kesederhanaan Kiai Amin Halim. Suatu ketika beliau sedang mencangkul di sawah selain mengurus pesantren beliau juga bertani sebagaimana umumnya masyarakat Cirebon pada waktu itu. Karena sudah masuk bulan Jumadil Awal maka banyak orang tua yang mengantarkan anaknya untuk mondok ke Pesantren Babakan. Suatu ketika ada keluarga yang tampak bingung seolah mencari suatu alamat pesantren yang mereka tuju ternyata adalah ndalem (rumah) Kiai Amin Halim.

Pada waktu itu Kiai Halim sedang asik mengolah sawah karena akan memulai tandur padi. Keluarga tersebut tidak mengetahui kalau orang yang sedang mencangkul adalah Kiai Amin Halim yang mereka akan sowani. Singkat cerita salah satu orang dari keluarga ini bertanya kepada orang yang sedang mencangkul sawahnya itu dalam bahasa Cirebon. ” Punten mang…, kalau ndalem (tempat tinggal) Kiai Amin Halim teng pundi ya? “Oh… Bade teng griyanipun pa Kiai? Monggo saya antar. ” Kiai Amin Halim yang masih berlumur lumpur mengantar tamunya ke depan rumah kediaman beliau. “Niki griya pa Kiai nipun, monggo ditunggu saja?”jawab petani tersebut. “Matur suwun mang?” Jawab tamu yang akan mengantarkan anaknya mesanten itu. “Punten niki mang sekedar ucapan terima kasih.” Tamu tersebut nampak memberikan uang sebagai bentuk balas jasa karena sudah mengantar. “Oh…mboten… Mboten nopo nopo, ga usah” Balas petani menolak secara halus pemberian tamu.

Sambil pergi mengitari rumahnya dari belakang. Setelah bersuci membersihkan diri dan berganti baju petani yang merupakan Kiai Amin Halim ini akhirnya menemui tamunya dari dalam ndalem. Berapa kagetnya sang tamu kalau Kiai Amin Halim yang akan menjadi guru anaknya adalah petani yang mengantarkan tadi sampai ke rumah. Namun Kiai Amin menenangkan, kemudian menanyakan maksud kedatangan tamunya, Kiai Amin Halim tetap menghormati tamunya tanpa rasa sungkan.

Penggalan kisah ketawaduan Kiai Amin Halim tersebut adalah bentuk kearifan etika sosial yang lebih mengedepankan sikap dan akhlakul karimah seorang Kiai.Wallahualam.

(Diambil dari cerita santri dan alumni Pesantren Mualimin-Mualimat Babakan Ciwaringin Cirebon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here