The news is by your side.

Menakar Respon Instan Atas Trailer Film The Santri

Film The Santri sudah memenuhi kategori sebagai Seni Islam, yaitu at-ta’bir al-jamil ‘an haqoiqul wujud min zawiyatut tashawwur islami, mengekspresikan keindaham tentang kebenaran-kebenaran wujud dengan cara yang Islami (Qutub, Minhajul Fann, 1983: 171). Olahraga, pendidikan karakter, nasionalisme, pluralisme, dan ukhuwah (friendship) adalah hakikat-hakikat kebenaran yang merupakan inti dari estetika Islam.

Anwar al-Jundi dalam Kitab Kaifa Yahtafizhul Muslimun biz Dzatil Islamiyah mengatakan, kesenian dalam Islam itu adalah upaya transformasi nilai (qiyam), gagasan (afkar), dan empati (masyair) kepada orang lain, dengan cara-cara estetis, membekas dalam jiwa audiens (al-Jundi, Kaifa Yahtafizhu, Beirut: Tsaqafiyah, 1985). Bagaimana cara hati audiens tersentuh? Tentu saja relatif, sesuai spirit jaman. Jika roman dan drama adalah cara yang populer di suatu jaman maka drama pun bisa dipakai sebagai wasilah. Dan hal itu tidak menyalahi aturan Islam.

Penulis yakin, tidaklah elok kita mengkritik sebuah karya seni berupa film hanya bermodalkan “cangkeman” menurut istilah orang Jawa. Yaitu, justifikasi-justifikasi tidak bermodal dan receh. Jika memang kelompok yang suka menghujat kesenian ini punya versi sendiri, tampilkanlah dalam wujud karya nyata. Buatlah film tandingan. Di sanalah kita akan bangun perdebatan tentang esensi dan substansi karya seni Islam.

Terlepas dari kekurangannya, Film The Santri sedang memperjuangkan spirit nasionalisme, pluralisme, inklusifitas, persaudaraan, dan kerukunan antar iman. Selebihnya, hanyalah tafsir yang berlebihan dan ketakutan tak beralasan. Kesimpulan ini didapatkan, karena misalnya, ketika film Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Pesantren Rock’N Roll dan, 212 The Power of Love, yang adegannya lebih vulgar, mereka justru antusias mengapresiasi, tetapi giliran THE SANTRI, yang sebenarnya masih dalam batas kewajaran, mereka memberi cap liberal dan tidak syar’i!? Sesunguhnya kalian ini ada apa? Apakah ‘benci’ pada Kiai NU? Atau mungkin ada sesuatu yang kami tidak tahu? Wallahu’alam bishawab.

*Alumni Universitas al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia; Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.