The news is by your side.

Menawar NU, Masih Seputar Politik Identitas

Detik.com, Jakarta, Ishaq Zubaedi Raqib – Kalau Anda datang menemui para pemimpin agama-agama dunia dan menawarkan Fukuyama, mereka akan memberi Anda kitab suci-kitab suci. Kumpulan firman tempat mereka menyerap spirit ketuhanan, keilmuan, diamalkan dalam ritual dan praksis. Di-ittiba’ oleh puluhan hingga ratusan juta umat. Jika Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, menyodorkan teori Joan Scott atau Linda Martin Alcoff, maka Marry Ann Glandon, hanya akan mengangguk.

Tapi begitu Gus Yahya–sapaan KH Yahya, menawarkan “muqtathofat ruhaniyah” Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi landasan legitimasi profetik muassisnya, dengan segera mereka memberinya ruang dan tempat duduk. Para pendiri NU itu adalah raksasa-raksasa ilmu yang sudah melampaui teori ilmu profan. Cahaya ilmu mereka diyakini akan mampu mengirim sinyal ilahiyah yang “tremendum mysterium”. Menyelinap di antara banyak celah di ruang batin.

NU sudah beyond identitas-identitas. Ia merupakan sebuah kumparan besar yang tidak akan memadai rumusan tertentu untuk memaknai entitas raksasa ini hanya dengan identitas relatif. NU adalah worldview yang meniscayakan semua identitas lebur di dalamnya. Menarik NU dari status ini, sama dengan melepas premis-premis mayor sebagai unsur utama pembentuknya. Premis mayor itu adalah kumpulan para pewaris Nabi.

Mengarustamakan NU

Menjelang detik-detik lepas landas, meninggalkan satu abad pertama menuju abad kedua masa khidmah, NU mengepakkan sayap besarnya di fora internasional. Merangkum di bawahnya kekuatan dunia, menuju bentuk baru peradaban manusia. Sebagai Ketua Umum, Gus Yahya telah menyiapkan semua ini dengan rapi, terencana, dan terukur. Bahkan, jauh sebelum estafet ia terima dari KH Said Aqil Siradj, akhir Desember 2021 lalu di Bandar Lampung.

Arif Afandi, salah seorang sahabatnya saat kuliah di UGM Yogyakarta, sudah menangkap tanda-tanda “nubuat” itu, hanya dari cara cucu KH Bisri Mustofa tersebut menerjemahkan pikiran-pikirannya dalam bentuk tulisan dan lisan. “Gus Yahya itu rapi mengabstraksi pikiran-pikirannya. Tulisan dan tutur lisannya sama baiknya,” kenang Arif. Bertaklid kepada Gus Dur, salah seorang ideolog Ansor “modern” ini melahap teori-teori ilmu sosial dari sosiolog besar sejak di awal masa-masa kuliah.

Dari Marx hingga Weber. Dari Khaldun hatta Shariati dan Jamal Afghani. Maka, kalau dia mampu sampai di titik ini, persis kesan Bob Hefner di sela-sela helat R20 di Nusa Dua Bali tempo hari, maka itu adalah bukti bahwa Gus Yahya memperoleh sukses ini bukan semata karena suratan alam. Gus Yahya merangkai sendiri “kaifiyat” sukses NU ketika mampu menusuk-nusuk batin terdalam para pemimpin agama dunia.

Begitu pataka R20 diserahterimakan kepada tokoh agama Hindu dari India, HH Mahamahopadhyaya Swami Bhadreshdas, maka sejak itu pula NU sudah menjelma arus utama “harokah” kemanusiaan menuju peradaban baru. Sebagai tuan rumah R20 kedua tahun 2023, nilai moralitas dan humanitas NU sebagai bagian dari ajaran ulama seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, akan jadi rujukan dan bahan renungan para pemimpin dunia dari tengah-tengah umat Hindu, di India.

Saat menandai berakhirnya forum pengakuan dan “pertaubatan” para “ulama” agama-agama dunia itu, Gus Yahya tampak sekali tersentuh batin dan jiwanya. Ia menegaskan bahwa Forum R20 merupakan awal dari perwujudan harapan yang telah dilakukan NU selama ini. Dari waktu ke waktu, dia berkisah, NU mencoba menjangkau dan menemukan orang-orang untuk menjadi mitra agar bisa menghasilkan satu gerakan global.

“Juga berkontribusi aktif dan positif terhadap pembangunan manusia dan masa depan yang lebih baik bagi peradaban manusia. Kami membuat satu panggilan universal dan Anda telah menjawab panggilan kami,” ujarnya disambut gemuruh tepuk tangan. “Dan di titik ini, saya meyakini bahwa kita semua setuju dan sepakat untuk R20 bukan semata satu acara saja, tetapi mengembangkannya menjadi pergerakan global,” tegasnya.

Melebur dalam NU

Ketika sampai kabar bahwa NU mengajak semua pemimpin agama duduk bersama, mereka mulai merasakan ada semacam aliran arus lembut dari medan elektromagnetik raksasa. Kalau tidak, bagaimana bisa tempurung-tempurung yang berisi identitas-identitas purba itu tersentuh untuk datang ke Indonesia. Datang dari belahan lain di bumi ini. Ke Bali, pulau dewata menurut umat Hindu dan bisa jadi pulau sebaliknya bagi yang lain.

Tak kurang dari 338 partisipan hadir. Berasal dari 32 negara. Sebanyak 124 datang dari luar negeri. “Multaqa religi” ini diramaikan oleh 45 pembicara dari lima benua. Marry Ann Glendon, salah satunya, Yahudi berpengaruh di USA. Paolo Benanti,Guru Besar Universitas Kepausan Gregoriana (Italia), Peter Berkowitz (USA),Mahamahopadhyaya Swami Bhadreshdas (India), Rabbi Alan Brill, Ketua Studi Yahudi-Kristen, Universitas Seton Hall, (USA).

Rabbi Silvina Chemen (Brazil), Wu Chengzhen (Tao China), Emmanuel Chouraqui, Sri Swapan Dasgupta (India), Alexandre Brasil Fonseca (Brazil), Andres Pastrana Arango (Kolombia), Swami Govinda Dev Giri Ji (India), Rabbi Arthur Green (USA), Rev Thomas K Johnson (Vatikan), Uskup Matthew Kukah (Nigeria), Sant’Egidio Community & Pontifical Council for Interreligious Dialogue, serta ada pula nama Valeria Martano.

Hamdan Musallam Al-Mazrouei (UEA), Alberto Melloni, UNESCO Chair on Religious Pluralism and Peace, University of Bologna (Italia), Swami Mitrananda, All India Chinmaya Yuva Kendra (India), Rt Rev Yoshinobu Miyake (Jepang), Uskup Agung Henry Ndukuba, Gereja Anglikan (Nigeria), Imam Yahya Pallavicini,Chairman EULEMA (European Council of Ulema) (Italia), Stephen Rasche (Irak), Jacqueline Rivers (USA).

Uskup Thomas Schirrmacher,Sekjen Aliansi Evangelis Dunia (Jerman), Elder Gary Stevenson, Quorum of Twelve Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints, Rev Christopher Sugden, Marcela Szymański, EU & UN Advocacy Director Aid to the Church in Need, Prof Kotapitiye Rahula Thera (Sri Lanka), Sri Ram Madhav Varanasi, Former BJP National General Secretary Governor (India); dan Uskup Agung Bashar Matti Warda (Irak).

Para agamawan itu berangkat dengan identitas tidak sama. Hal itu dengan mudah dapat dilihat dari cara mereka berpakaian. Ada busana khas Hindu, ada yang berpakaian dengan identitas Kristen Orthodok, ada pula utusan dari Gereja Anglikan. Ada ulama Yahudi. Tentu juga ada yang mengenakan gamis khas semenanjung Arabia. Dengan identitas-identitas itu, mereka datang ke salah satu negara demokrasi besar, berpenduduk muslim terbesar dunia.

Tiba dengan kesadaran penuh. Penuh dengan rasa takzim pada NU sebagai salah satu simpul penjaga moderasi Islam. Datang ke Indonesia sebagai simbol besar terlindunginya banyak unsur, identitas dan entitas kebhinnekaan. Unsur dan indentitas yang melebur dalam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia lewat bingkai ideologi Pancasila. Ajaran Islam Ahlus Sunnah Waljama’ah yang tersimbolkan bola dunia terikat tali dan dikelilingi sembilan bintang.

Akhirulkalam

Setelah sukses meyakinkan ratusan delegasi yang datang dengan identitas berbeda, rasa-rasanya sudah tiba saat bagi semua untuk tidak lagi setting-back. Menapaki tilas-tilas sejarah yang tuntas dilewati NU. NU pernah mengambil sebagian misinya sebagai gerakan politik. Pernah menjalankan peran sebagai lumbung pendidikan dan dakwah. Tetapi NU dengan pesantren-pesantrennya, akan terus berkhidmah demi menjaga nilai-nilai tasamuh, tawassuth, dan tawazun serta i’tidal.

Ajaran dan nilai yang sudah sangat kuat dihafal dan diamalkan warga NU. Dari jama’ah hingga jam’iyyah. Dari madrasah hingga pesantren dan ma’had aaly. Hingga menjelang berakhir Satu Abad pertamanya, NU di bawah duet Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf, akan menapak Abad Kedua khidmahnya dengan misi “Merawat Jagat Membangun Peradaban” atas dasar kesetaraan yang berkeadilan.

NU sudah selesai dengan identitas itu semua. Terlebih dengan identitas pseudo di dunia politik praktis. Mari berbesar hati, memberi NU kesempatan untuk menunaikan pesan sejarahnya. Pesan peradaban untuk semua manusia. Yang dengan pesan itu, Rais Aam KH Ahmad Siddiq bersama KH Abdurrahman Wahid, pada tahun 1984, mengakhiri peran sejarah NU di dunia politik praktis. Kini, pesan profetik itu dilegitimasi oleh para agamawan dari agama-agama dunia lewat R20 Pertama. Wallahu Waliyyut Taufiq (*)

Ishaq Zubaedi Raqib

Penulis adalah Jurnalis senior, partisipan R20 Pertama, Ketua LTN–Infokom dan Publikasi PBNU

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

Source Detik.com
Leave A Reply

Your email address will not be published.