Mengembangkan Sikap Optimisme

7

Kematangan kehidupan sebagai orang tua yang anak-anak-nya telah berkeluarga sebagai bukti, apakah ia sukses dengan “caranya” atau tidak.
Para orang tua akan menuai dari anak2-nya yg telah membuahkan “sukses” dalam bahteranya.

Ada pula yg menyesali dengan masa tuanya, karena “salah” mendidik anak-anak-nya. Tinggallah kenangan pahit dan merintih tertatih-tatih pada masa tuanya. Seolah penyesalan tak ada gunanya. Padahal segala upaya dan harta telah diberikan kepada anak2-nya saat dalam belaiannya.

Generasi milenia yg telah dan akan berkeluarga sebenarnya tidak sulit untuk meng- copi paste orang yg “sukses” dunia dan akhirat (berakhlak dan beradab dengan baik).

Memberikan dan menebarkan rasa optimisme, menyebarkan virus optimisme adalah salah satu tugas dan kewajiban seorang pemimpin yang transformatif; seorang pemimpin yang akan membawa keluarga, bangsa dan negaranya menuju suatu zaman baru yang berkemakmuran dan berkeadilan.

Bagaimana akan mengembangkan dan menyebarkan rasa optimistik dalam keluarga, jika dirinya “belum bisa” mempraktikannya di lingkungan terkecil (keluarga)?

Seperti dikatakan oleh salah seorang pendiri Intel, yakni Robert Noyce, optimisme adalah resep inovasi. Sebab, optimisme membuat orang mau menerima perubahan dan menerebos hal-hal baru daripada sekadar bertahan di tempat yang aman. Kepemimpinan yang dipenuhi nuansa optimistis juga akan menginspirasi bawahan untuk terus bertahan atas persoalan-persoalan yang dihadapi.

Banyak ahli dan orang-orang sukses yang menjelaskan tentang arti penting optimisme. Optimisme adalah keadaan selalu berpengharapan baik. Misalnya, Henry Thomas Segerstrom (1923 – 2015), seorang filantropis, entrepreneur, juga tokoh budaya AS, yang mendirikan Orange County Performing Arts Center mengatakan optimisme adalah cara berpikir yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah.

Sementara Jay Belsky (1999), guru besar psikologi dari Universitas Birkbeck, London berpendapat bahwa optimisme adalah menemukan inspirasi baru. Kekuatan yang dapat diterapkan dalam semua aspek kehidupan, sehingga mencapai keberhasilan.

Dua pakar psikologi Shane J Lopez dan CR Snyder (2003) berpendapat optimisme adalah suatu harapan yang ada pada individu bahwa segala sesuatu akan berjalan menuju ke arah kebaikan.

Perasaan optimisme membawa individu pada tujuan yang diinginkan, yakni percaya pada diri dan kemampuan yang dimiliki. Sikap optimistis menjadikan seseorang keluar dengan cepat dari permasalahan yang dihadapi karena adanya pemikiran dan perasaan memiliki kemampuan, juga didukung oleh anggapan bahwa setiap orang memiliki keberuntungan sendiri-sendiri.

Sampai di sini, jelas bahwa bukan tanpa alasan dan bukan tanpa dasar kalau seorang pemimpin negara menawarkan optimisme. Sebab, ia ingin tidak sekadar mengajak masyarakat, tetapi bahkan membawa negara memasuki zaman baru, keluar dari berbagai persoalan yang selama ini menghimpit antara lain kemiskinan, kebodohan, kekurangan papan, sandang, dan pangan, keterbatasan akses jalan, kurang terpenuhi kebutuhan kesehatan, ketidakadilan, dan juga perlakuan yang tidak manusiawi.

Sejak awal, langkah-langkah berbagai kebijakan yang dibuat mampu menerbitkan harapan baru pada banyak kalangan di masyarakat. Langkah politik dan jabatan publik yang digenggam pemimpin, lalu berhasil menyatu dengan harapan masyarakat banyak, yang lalu membuatnya menjadi pusat pemberitaan sekaligus media darling.

Bisa dilacak ulang sejak pemimpin (calon pemimpin) Ia selalu bekerja keras untuk kepentingan masyarakat. Ketika seorang pejabat publik dinilai telah bekerja baik dan benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat, tentu hal itu akan mampu menerbitkan harapan dan optimisme di hati rakyat. Harapan dan optimisme atas kehidupan yang akan jauh lebih baik.

Optimisme akan menjadikan orang berkeyakin bahwa setiap permasalahan ada solusi, bahwa kesulitan pasti berakhir, dan bahwa kemenangan akan tiba. Harapan inilah yang membuat orang bertahan, menjadikan orang jatuh cinta, dan mendorong orang membuat pilihan dan memperjuangkannya.

Oleh karena itu, optimisme itu sangat penting bagi penggerak perubahan. Pernahkah membaca dan mendengar, banyak tokoh besar dikisahkan berhasil karena optimisme dan keberanian yang dimilikinya. Keberanian tidak akan muncul tanpa rasa optimis, dan rasa optimis tak berarti jika tanpa keberanian mewujudkannya.

Bukankah bertemu dengan orang yang menyebarkan optimisme selalu menyenangkan? Apalagi bagi orang-orang yang kehilangan harapan. Itu bisa dipahami mengapa banyak orang bersedia membayar mahal untuk mengikuti sesi pendek yang disampaikan para motivator.

Apalagi, sikap optimisme itu didasarkan pada alasan-alasan yang mendasar dan fakta yang ada. Kalau optimisme itu diteriakkan, disebar oleh seorang pemimpin yang tidak jelas kerjanya, tentu tidak akan dipercaya.

Akan tetapi, yang dibutuhkan bukan sekadar pemimpin yang sederhana dan merakyat dari segi fisik dan penampilannya, namun juga dinilai benar-benar merakyat, karena mau terjun langsung ke masyarakat. Ia pemimpin yang bekerja, bekerja, dan bekerja.

Mengutip pendapat pakar manajemen dan pendidik dari AS, Peter F Drucker, pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai; kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya.

Disadari atau tidak, tipe pemimpin flamboyan dan parlente secara penampilan yang cukup banyak mengisi ruang-ruang politik nasional, yang melulu bicara gagasan-gagasan besar yang melangit, dengan sisipan bahasa asing yang sulit dipahami rakyat, namun kerap kedodoran dalam detail maupun pelaksanaan gagasan-gagasan besarnya akan selalu ada di antara kita.

Juga ada lagi pemimpin yang menebarkan rasa pesimistis pada rakyatnya, yang memberikan gambaran galau, suram, gelap akan masa depan bangsa dan negara.

Perjalanan hidup peminpin ada yang memberikan gambaran jelas dan memberikan keyakinan bahwa di tangan pemimpin yang optimistik disertai dengan kerja keras akan membuahkan hasil. Hasil seperti yang diharapkan semua orang, bukan sekadar mimpi.

Benar yang dikatakan oleh kanselir Jerman Otto van Bismarck (1815-1898) “Orang-orang hebat bisa dikenali melalui tiga hal: murah hati dalam perencanaan, humanis dalam pelaksanaan, dan tidak berlebihan dalam keberhasilan.”

Kesemua itu dapat ditemukan dalam sosok pemimpin yang mumpuni yang membawa semangat optimisme di negeri ini.

Pikirkan kembali jalan mana yg akan Anda tempuh, sebelum semuanya menjadi hal yg mengecewakan. Tinggalkan kehidupan yang mengandalkan “kelinci percobaan” seorang pemimpin pilihan Anda. Tetaplah kepada yang sudah teruji. (Pasovi Mangkoesorga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here