26.7 C
Bandung
Selasa, Agustus 16, 2022

teras islam moderat online NU Jawa Barat

Must read

Menjadi Sederhana

Menjadi Sederhana

LTN NU Jawa Barat, Bambang Melga Suprayogi M.Sn – Para sahabat Nabi itu adalah sosok-sosok teladan, yang sikap, pikiran, dan karakternya terus mencoba menyelaraskan semuanya dengan karakter Nabi, mereka betul-betul meng-copy paste pribadi Nabi dalam keseluruhannya untuk mereka tiru.

Abu bakar adalah salah satunya, ia seorang kaya, pengusaha handal, yang hartanya berlimpah ruah, sama seperti Nabi saat Nabi di topang oleh Istrinya Khodijah ra, dua pasangan ini adalah orang yang terkenal akan kekayaannya, dan Nabi sendiri adalah seorang yang memiliki strategi jitu dalam melakukan perniagaan yang mampu membawa keuntungan berlimpah untuk istrinya, setiap kali beliaunya melakukan perjalanan perdagangan.

Harta yang Nabi miliki, harta yang Abu Bakar Ash Shiddiq punyai, begitupun dengan harta Usman bin Affan, adalah harta yang menjadi modal besar bagi mereka untuk mencapai ridho illahi, dalam membangun dan membiayai perjuangan Islam, yang saat itu perlu biaya tidak sedikit, dan pastinya sangat besar, dalam membangun kebesaran agama Allah yang mereka harapkan, dan Allah inginkan.

Dan untuk tujuan mulia itulah mereka sadar, perjuangan tampa di sokong oleh adanya bentuk pengorbanan dengan taruhan harta, adalah hal semu, kepura-puraan, omong besar, dan tidak menunjukan totalitas sebagai manusia yang mencintai kholiqnya, Allah SWT.

Bagi mereka, para sahabat Nabi, Abu Bakar, Usman bin Affan, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, harta bisa menjadi penjara kemuliaan, penjara keagungan, penjara kesolehan, dan penjara ketaatan yang mampu mengalihkan cinta mereka pada Allah.

Sehingga cara mereka memanfaatkan harta, semuanya benar-benar digunakan untuk kemaslahatan umat, memajukan perjuangan Islam, dan para sahabat, mereka total mengikut cara hidup Nabi sepenuhnya.
Dalam kesederhanaan, dalam membangun kemulyaan ahlaq, cinta umat, dan mementingkan umat dibanding diri dan keluarganya sendiri.

Sampai-sampai Putri Abu Bakar Ash Shiddiq, yakni Aisyah, ia tak mendapat sepeserpun harta yang diwariskan dari Abu Bakar Ash Shiddiq, yang terkenal kaya raya itu.
Bahkan untuk kain kafan ayahnya pun, Aisyah bingung !
Aisyah adalah putri Abu Bakar Ash Shiddiq, istri dari Nabi kita Muhammad SAW.

Ia penuh kekhawatiran, saat Abu bakar masih hidup, Ia bingung dengan keadaan ‘papa’ yang dipilih Abu Bakar Ash Shiddiq dalam hidupnya, sehingga kain apa nanti untuk mengkafani ayahnya jika wafat, itu sampai ia pikirkan, karena ia melihat ayahnya sudah tidak memilik harta samasekali.

Aisyah yang juga istri Rasulullah shallallahuallaihi wasallam sempat menanyakan hal itu kepada sang ayah.
Jawab Abu Bakar Ash Shiddiq;
“Dengan baju yang biasa aku pakai saat makmum shalat bersama Rasulullah shallallahuallaihi wasallam,” jawab Abu Bakar.

Aisyah tahu, baju itu sudah usang. Maka ia pun menawarkan untuk membeli kain kafan baru. Namun, Abu Bakar menolaknya. Menurut Abu Bakar, orang yang hidup lebih berhak menggunakan barang yang baru ketimbang orang yang meninggal.

Itulah pilihan hidup para sahabat, harta tak membutakannya.
Mereka menggunakan harta yang di miliki, untuk perjuangan Islam, dan membantu umat, di banding diri mereka sendiri.

Pada harta ada keburukan yang bisa muncul !
Harta bisa menjadi virus mematikan yang bisa melegamkan hati !
Harta adalah musuh yang kita pelihara yang mampu membuat kita
takut jatuh miskin, takut kehilangan dunia, takut kehilangan kehormatan dari sesama, yang pada akhirnya harta terus digemgam, dan kita lebih cinta harta di banding Allah !
Takut kehilangan harta, dibanding takut kehilangan Allah !

Dan itu lah penyakit hati yang nyata, yang kita hadapi pada masa kini, dan itu jadi problem umat yang sangat mendasar.

Harta bagi mereka yang kesadaran imannya besar, dan peka terhadap tipu daya syetan, mereka mampu melihat, pada harta ada hal yang bisa menganjal keimanannya pada Allah.

Karena pada harta, bisa terbangun cinta dunia (Hubbud Dunya)
Menumbuhkan kekirkiran.
Membangun sikap ujub, sombong
Menjadikan ria
Dan segala hal buruk lainnya, yang pada akhirnya bisa memalingkan manusia dan menjerumuskan dirinya pada ketidakselamatan hidup di akheratnya kelak.

Sekarang adakah umat yang mau meniru keseluruhan pribadi Nabi ?
Keseluruhan totalitas para sahabat mengikuti cara Nabi, untuk tak gila harta dunia ?

Yaa …
Umat kita masih pada hal tertentu saja, mencoba meniru dengan memilih apa yang mereka katakan sebagai Sunnah Nabi, dari Sunnah yang paling mudahnya saja !

Bangga dengan hal seperti itu, namun lupa membentuk karakter, lupa membentuk sikap dan kepribadiannya untuk jauh menjadi lebih baik, lebih santun, berbudi, dan berahlaq mulia !

Yang ada, saat ini, mereka kikir pada sedikit harta yang mereka miliki !

Sangat takut miskin sehingga membuat mereka menutup mata dan tidak mau membantu saudaranya yang sedang dalam keadaan perlu bantuan.
Mementingkan diri sendiri.
Mementingkan hidupnya, gaya hidupnya, dan cinta dunyanya.

Sosok-sosok teladan yang meniru cara Nabi dalam hal kesederhaan, kontribusi dengan harta benda, minim dari umat Rosululloh ini, hanya cara berpakaiannya saja yang nampak, perilakunya sangat menunjukan Hubbud Dunya !

Itu tak hanya penyakit diumatnya saja, tapi juga para pemimpin keagamaannya, ulamanya, Khyainya, para Ustadnya, semua hampir terlena dan mengejar harta dunia, minim kontribusi besar dengan hartanya !

Begitupun dengan para umaranya !
Saat jadi pemimpin dan berkuasa, ia tak bisa berkontribusi dalam betul-betul memanfaatkan kekuasaan bagi kemaslahatan keseluruhan umat, baik yang Islam maupun yang non Islam, yang ada yaa, gila harta, meraup sebanyak kesempatan dalam menimbun harta, sehingga tak aneh, mereka memainkan proyek, memainkan kesempatan dalam memotong anggaran bagi pembangunan, untuk kepentingan diri sendiri, memperkaya diri mereka.

Kita melihat fenomena itu!
Itu sangat riil nyata ada di depan mata kita !
Kesalahan mereka sangat mencolok mata telanjang kita !
Lantas apakah kita mau juga seperti itu ?

Maka belajarlah sedikit demi sedikit meniru cara Nabi dengan hidup sederhana, dan mau berkontribusi dengan sedikit harta yang kita miliki.

Dalam kesederhanaan ada keanggunnan, dalam kesederhanaan ada kewibawaan, dan dalam kesederhanaan ada kemaslahatan yang Allah simpan baginya untuk bergairah membesarkan agama Allah di wilayahnya masing-masing.
Alhamdulillah

Semoga bermanfaat
Bambang Melga Suprayogi M.Sn

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article