Menutup Keran Oligarki Politik di Indonesia
Lebih dari menjelaskan oknum-oknum yang melengserakan Gus Dur dengan berbagai macam cara, buku Menjerat Gus Dur juga upaya perlawanan terhadap oligarki politik yang selama ini juga menjerat kehidupan sosial-masyarakat melalui kepentingan kekuasaan. Hal ini sesuai dengan semangat Gus Dur yang menjadi icon perlawanan oligarki pada masa rezim Orde Baru Soeharto.
Politik Gus Dur dan politik NU secara umum ialah politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan politik yang penuh dengan etika. Ketiga konsep politik ini digagas oleh Almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh sebagai politik tingkat tinggi (siyasah ‘aliyah samiyah). Roda pengelolaan negara ini harus diperkuat dengan prinsip kebersamaan dari seluruh elemen bangsa. Upaya tersebut juga harus seiring dengan langkah konkret mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat dan persamaan di hadapan hukum. Inilah yang ditekankan Gus Dur, selain humanisme dan prinsip-prinsip kesalehan sosial dan intelektual.
Sebagai seorang santri sekaligus ulama pesantren yang lekat dengan seluruh lapisan kehidupan masyarakat, Gus Dur mengajarkan orang-orang untuk berani dan kritis serta tidak apolitis terhadap kehidupan bernegara. Karena dalam masyarakat yang apolitis, persekutuan antara negara dengan para oligarkh dapat menyebabkan persoalan genting yaitu sulitnya membentuk pergerakan progresif yang mampu memobilisasi massa atau, minimal, menawarkan wacana politik alternatif.
Lebih-lebih secara mendasar tidak semua mobilisasi dapat berhubungan langsung dan mampu menjawab problem dan kontradiksi yang terjadi di masyarakat. Pada masa Orde Baru, Gus Dur membentuk wadah Forum Demokrasi (Fordem) yang didirikannya pada 1991 setahun setelah Soeharto dan pendukungnya mendirikan ICMI. Gus Dur ingin menegaskan identitas bangsa Indonesia dalam wadah tersebut.
Pembentukan Forum Demokrasi bagi Gus Dur bukan hanya sekadar membentuk ‘parlemen jalanan’, tetapi juga upaya mobilisasi politik tingkat tinggi dengan basis material yang kokoh, yakni pemetaan jaringan yang berisi masyarakat dan para intelektual dengan ‘warna-warni’ yang berbeda dengan pencanangan target perbaikan kehidupan sosial-politik. Gus Dur melakukan langkah strategis tersebut, sebab hanya dengan seperti itulah bangsa Indonesia dapat memenangkan pertarungan atas ruang politik yang telah terkontaminasi kepentingan oligarki.
Penulis adalah Redaktur NU Online
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



