NU Kota Bekasi Kenalkan Pesantren Kepada Masyarakat
Bekasi, NU Online
Tanggal 26 Juni 2018 lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melalui Dinas Tata Ruang telah menerbitkan dokumen Keterangan Rencana Kota (KRK).
Terbitnya dokumen tersebut merupakan proses realisasi program Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bagi Pondok Pesantren, yang diinisasi dan difasilitasi oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi.
Terkait hal itu, Sekretaris PCNU Kota Bekasi, Ayi Nurdin angkat bicara bahwa selama ini, hampir semua Pondok Pesantren di Kota Bekasi tidak memiliki IMB. Sebab, sebagian besar orang NU itu selalu berpikir untuk berkarya terlebih dulu, baru kemudian memikirkan soal labelisasi atau legalitas.
“KRK itu adalah bagian dari tanggung jawab moral NU, untuk memfasilitasi pesantren-pesantren di Kota Bekasi untuk mendapatkan akreditasi. Kita juga mendorong dan mendukung pesantren-pesantren untuk mendapatkan legalitas,” kata Ayi, kepada NU Online, Kamis (28/6).
Menurut Ayi, pesantren merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari NU. Keduanya seperti dua sisi mata uang, bahkan bisa dikatakan rahim NU ada di pesantren.
“Selama ini kan baru badan hukum yayasannya saja. Nah, tujuan dari NU adalah sebenarnya adalah agar bangunan pesantren itu mendapatkan legalitas yang selama ini nyaris belum ada IMB. Dari sini, kita bisa belajar untuk taat hukum,” ungkap pria yang berprofesi sebagai pengacara ini.
Di luar dari itu, lanjutnya, NU Kota Bekasi punya mimpi yang besar. Yakni memperkenalkan pesantren ke masyarakat. Sebab jumlah pesantren di Kota Bekasi sangat banyak, tapi seperti ada jarak dengan masyarakat.
“Jarak itu adalah soal informasi. Belum ada media yang mengangkat pesantren yang ada di Kota Bekasi. Selama ini, para orang tua yang berpikir bahwa pondok pesantren adalah alternatif pendidikan yang sangat baik, tidak menempatkan anaknya di pesantren yang ada di Kota Bekasi,” katanya.
Banyak orang tua yang lebih memilih untuk memesantrenkan putra-putrinya di luar Kota Bekasi. Padahal menurut Ayi, di Kota Bekasi ada banyak sekali pesantren yang juga tak kalah saat bicara soal kualitas dan mutu pendidikan.
“Di hari santri, saya itu ingin adakan pameran pesantren yang berfungsi untuk memperkenalkan pesantren ke masyarakat. Dampak baiknya orang tua akan memesantrenkan anak-anaknya ke pesantren di Bekasi, tidak lagi ke luar,” pungkas alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung ini. (Aru Elgete/Muiz)
Sumber : NU Online
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



