Nyai Sinta Nuriyah: Jaga Persaudaraan Wujud Nilai-nilai Agama

Jakarta, NU Online
Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa keberagaman merupakan sunnatullah dan menjadi garis perjuangan dari bangsa Indonesia. Kenyataan tersebut diyakini para pendiri bangsa, sehingga menerimanya sebagai kenyataan dan menjaganya dalam suatu spirit kebangsaan yang tercermin dalam bentuk NKRI yang berdasarkan Pancasila.
“Menjaga dan mempertahankan persaudaraan adalah kebutuhan demi terwujudnya kedamaian dan ketenteraman bangsa Indonesia yang beragam,” kata Sinta Nuriyah pada acara Forum Titik Temu di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (10/4) siang.
Menurutnya, menjaga persaudaraan pada hakikatnya merupakan perwujudan atas spirit pengamalan ajaran dan nilai-nilai agama. Pasalnya, agama memerintahkan manusia untuk menjaga dan melindungi semua ciptaan Tuhan yang beragam jenisnya sebagaimana yang ada dalam diri bangsa Indonesia.
Sebaliknya, sambung Sinta, upaya menolak keberagaman dengan menghancurkan persaudaraan merupakan pengingkaran terhadap nikmat Allah, sekaligus pengingkaran terhadap nilai-nilai dan ajaran agama, realitas sosial politk, dan budaya Indonesia yang beragam.
Ia mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini muncul gerakan yang mengarah pada penghancuran rasa persaudaraan, hingga menyebabkan keretakan sosial dan perpecahan sesama saudara sebangsa. Gerakan tersebut semakin marak karena adanya tarikan kepentingan politik.
Berbagai fitnah, hoaks, caci maki, dan ujaran kebencian yang bertebaran di masyarakat, telah menghancurkan rasa persaudaraan dan persatuan antara sesama warga bangsa yang bisa mengancam sendi-sendi kehidupan. “Jika hal ini dibiarkan bisa mengancam keberagaman dan mengikis semangat persaudaraan,” sesalnya.
Meski demikian, ia berkeyakinan bahwa masih banyak warga bangsa yang peduli pada keutuhan bangsa dan memiliki komitmen untuk menjaga NKRI dan Pancasila yang tidak terpengaruh oleh suasana politik dan berbagai fitnah yang ada di media sosial.
“Mereka tetap menjaga persaudaraan secara tulus dengan sesama,” katanya.
Sayangnya, mereka yang memiliki komitmen menjaga persaudaraan dengan tulus, belum memiliki cara dan sarana yang efektif serta momentum yang tepat untuk mengekspresikan rasa persaudaraan mereka. Maka diperlukan suatu kegiatan yang bisa menjadi sarana yang bisa mengekspresikan semangat persaudaraan, sekaligus menjadi momentum pengikatan kesadaran bersama agar menjadi gerakan persaudaran dan kebangsaan yang lebih massif.
Ia pun mengimbau kepada seluruh anak bangsa untuk tetap mempertahankan persaudaraan dengan bersama-sama menjaga perdamaian dan persatuan menjelang dan paska pemilu.
“Mari bersama-sama kita bangkitkan kembali semangat persaudaran dan persatuan warga bangsa yang terkikis oleh maraknya fitnah, caci maki, dan ujaran-ujaran kebencian,” tegas Nyai Sinta. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)
Sumber : NU Online
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



