Papua dan Refleksi Kita
Semestinya kita mampu berkaca dari Timo-timur. Seperti yang dituliskan dalam harian Tirto (2019), sebelum terjadinya referendum, pada 1981 dan 1989 Prof. Dr. Mubyarto, peneliti UGM, berangakat ke Timor Leste dan mengadakan penelitian. Hasilnya, beliau mengemukakan dua alasan terciptanya keterasingan di antara orang-orang Timor Leste: pendudukan militer (yang sering dilakukan juga terhadap Papua) dan penyingkiran kelompok-kelompok sosial inti dalam masyarakat Timor Leste dari pastisipasi sosial politik, barangkali hal yang sama juga yang terjadi pada suku Amungme di Papua.
Alih-alih belajar dari sejarah Timor Leste penyakit lupa kita malah cenderung sering kambuh. Tahun 2010 proyek raksasa Merauke Integrated Food Energi Estate (MIFEE) menjadi tanda bahwa bangsa ini adalah bangsa pelupa. Proyek yang direncanakan sampai 2030 membuka lahan hingga 4,6 juta hektare ini seolah-olah memandang tanah Papua bebas dari tata ruang adat dan budaya masyarakat setempat.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



