PBNU Imbau Masyarakat Tetap Tenang Terkait Masalah Puisi Sukmawati

21

Jakarta, NU online

PBNU Imbau Masyarakat Tetap Tenang Terkait Masalah Puisi SukmawatiSekretaris Jenderal (Sekjend) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA Helmy Faishal Zaini berkeyakinan Sukmawati tak ada niatan menghina Islam.

Sekjend PBNU berharap kepada semua pihak agar lebih mengutamakan prinsip tabayun. Sikap dan langkah ini penting sebagai bagian dari kehati-hatian dan juga agar lebih jernih melihat persoalan.

Iklan Layanan Masyarakat

“Terkait puisi Sukmawati Sukarnoputri, hendaknya kita mengedepankan tabayyun, karena sangat mungkin pemahaman atau penyampaian Bu Sukmawati terhadap makna syariat Islam tidak utuh,” jelas Helmy di Kantor PBNU, Selasa (3/4) kemarin.

Terhadap adanya upaya beberapa pihak agar masalah ini dibawa ke ranah hukum, Sekjen PBNU mengimbau agar masalah ini dapat diselesaikan dengan terlebih dahulu melakukan dialog dan silaturahmi.

“Cukup dengan tabayyun, saya berkeyakinan tidak ada niatan dari Sukmawati untuk melecehkan Islam,” jelas Helmy.

Kendatipun demikian, Helmy Faishal juga berpendapat, hendaknya para tokoh bisa secara tepat dan lebih hati-hati ketika menggunakan kalimat atau diksi dalam berinteraksi, utamanya dalam ruang publik. Para tokoh hendaknya tidak menggunakan kalimat yang dapat berpotensi mengganggu bangunan ke-Indonesiaan kita.

“Menjadi Indonesia seutuhnya adalah bagian dari bersyari’ah. Seluruh nilai Pancasila adalah Islami. Maka tak perlu dipertentangkan. Banyak yang tidak utuh memahami makna syari’ah. Syari’ah tidak identik dengan khilafah (negara agama). Menjadi warga negara Indonesia yang taat itu juga sudah bersyariah,” imbuh Helmy.

Lebih lanjut Pria asal Cirebon ini mencontohkan dalam konteks berlalu lintas saat menjumpai lampu merah kendaraan yang kita kendalikan turut berhenti, dengan demikian lalu lintas menjadi lancar dan teratur. Seandainya kita melanggar pasti akan menimbulkan kekacauan atau kemudharatan. Ini kan jelas syariah, menegakkan yang ma’ruf (baik), dan menjauhkan dari munkar (keburukan).

Maka, tandas Helmy, Pancasila yang indah, janganlah diganggu dengan akrobat kata-kata yang berpotensi mengganggu kerukunan.

Untuk itu pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mengambil tindakan-tindakan yang justru akan memperkeruh keadaan.

“Mari tetap kita sikapi dengan tenang dan kepala dingin,” pungkas Helmy. (Muiz)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here