Peran Kiayi Menembus Lintas Zaman

63
peran kiayi menembus lintas zaman - WhatsApp Image 2019 06 30 at 11 - Peran Kiayi Menembus Lintas Zaman

Kiyai merupakan tokoh Agama yang disegani dan dihormati di kalangan masyarakat karena pada dasarnya bahwa peran Kiyai bukan hanya memberikan pengaruh besar dalam  berbagai aspek, termasuk dalam dunbia politikdan tentunya dalam aspek Agama, pendidikan dan  sosial. Karena mereka mempunyai posisi yang strategis dan sentral dalam masyarakat. Kiyai merupakan tokoh sentral dalam masyarakat dimana ia selalu memberikan suri tauladan terhadap masyarakat dan tentunya untuk bangsa ini.

Apabila kita kaitkan Kiyai dengan pengikut masyarakat maka Kiyai dapat diklasipikasikan kedalam dua kategori yaitu; 1). Kiyai yang mempunyai pengikut lebih banyak dan luas. Ini dapat dikategorikan sebagai Kiyai Pesantren, beliau memusatkan perhatiannya untuk mengajar dipesantren untuk meningkatkan sumber daya masyarakat melalui pendekatan pendidikan sehingga disitu terjadi transfer moral dan pengetahuan islam dari Kiyai kepada santri dan begitu juga terhadap masyarakat. Ada juga Kiayi yang mempunyai banyak pengikutnya yang disebut dengan Kiayi Tarekat, beliau memusatkan kegiatannya pada pendekatan bathin (pensucian hati). 2). Kiayi yang memusatkan kegiatannya melalui pendekatan dakwah. Belaiu disebut juga dengan Kiyai panggung,beliau memusatkan dakwahnya di daerrah dengan berceramah dan mempunyai pengikut di daerah, beliau hanya dikenal oleh umat Islam di daerah saja. Ada juga yang disebut dengan Kiyai politik (Kiayi Struktural), beliau mempokuskan kegiatannya pada organisasi Islam terkait dengan isu-isue soisal, Agama, pendidikan dan politik dan insfrastruktur kebudayaan lain.Imam Al-Ghazali mengklasifikasikan Kiyai kedalam dua kategori yaitu Kiyai Dunia dan Akhirat. Pada dasarnya istilah Kiyai semuanya itu memfokuskan pada kegiatan yang bersentuhan dengan nilai spiritual dan soisal Maka dalam hal ini Kiyai harus bijak dalam menghadapi dialektika perbedaan dan problematika yang dihadapi di masyarakat tentunya di bangsa ini. Karena peran Kiyai secara ideal harus mengedepankan kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, serta mengembalikan peran Kiyai sebagai pemimpin yang seutuhnya termasuk problematika yang mengancam Agama dan Bangsa maka disitulah kiayi berada maka hal yang wajar beberapa Kiayi terjun dan ikut berperan baik dalam eksekutif begitu juga legistlatif. Karena untuk memehami suatu bangsa tidak cukup harus berada dalam luar lingkaran melainkan ia harus ada didalmm lingkaran pula sehingga ia bisa mewarnai situasi yang ada demi kemaslahatan bangsa dan Agama.

Banyak Guru kita tokoh NU dan Pendiri NU yang terlibat langsung dalam dunia pemerintahan seperti halnya K.H. Idam Halid, K.H. Wahid Hasyim, K.H. Abdurrohman Wahid, masih banyak tokoh-tokoh NU yang mengabdikan dirinya untuk Negara. Seperti halnya K.H. Ma’ruf Amin yang merupakan Wakil Presiden Terpilih mendampingi Presiden Joko Widodo priode 2019-2024, beliau mengabdikan diri untuk Negara. Karena beliau selalu mengaktualisasikan 4 empat konsep “Ukhuwah Nahdliyah, Islamiyah, Wathoniyah dan Basyariah” konsep ini digunakan oleh beliau karena pada dasarnya kita semua sama merupakan anak bangsa jadi tidak ada hal yang harus diperbincangkan justru yang membedakan hanyalah paradigma kita dalam memandang segala sesuatu sehingga menyebabkan sikap dan aksi yang berbeda tanpa di kontrol dengan nilai-nilai tasamuhiyah, tawasutiyah, tawajuniyah, tarhamiyah dan islahiyah.

Inilah yang disebut dengan kiayi menembus lintas zaman, dimana perannya selalu dikenang, diperbincangkan, di panuti dan di ikuti oleh umat karena ia selalu ikhlas dan produktif dalam melakukan berbagai aktifitas termasuk ia harus mengorbankan diri untuk negara dengan ikut terlibat dalam penentu kebijakan Negara tanpa  mengenyampikgkan kegiatan spiritualistasnya, itu semata untuk menjaga, membina, dan membangun keutuhan Bangsa ini karena ia selalu mengaktualisasikan konsep Ukhuwah Nahdliyah, Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah dan Ukhuwah Basyariah dengan pendekatan nilai-nilai tasamuhiyah, tawasutiyah, tawajuniyah, tarhamiyah dan islahiyah.

Konsep-konsep yang di aktualisasikan oleh K.H. Ma’ruf Amin dan Founding Fathers of Nahdliyin tersebut disampaikan kembali oleh Penulis pada kegiatan Halal bi Halal yang diselenggarakan oleh MWC NU Cibiuk & Banom NU Cibiuk di Kompleks Makam Syekh Ja’far Sidik Kecamatan Cibiuk, kab. Garut dengan peserta lebih dari 800 jama’ah itu semata untuk menumbuhkan dan menguatkan kembali Ukhuwah Nahdliyah, Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah dan Ukhuwah Basyariah untuk merumuskan masa depan Bangsa dan Agama sehingga menjadi “the center of Islamic thought and civilization” di dunia. Seperti halnya apa yang telah disampaikan oleh Sekretaris PC NU Kab. Garut yang menyatakan bahwa kekuatan suatu Bangsa itu ada dalam ikatan Ukhuwah Nahdliyah, Islamiyah, Wathoniyah, & Insaniyah dimana disitu tidak melihat perbedaan tapi melihat persamaan bahwa kita merupakan Anak Bangsa

Penulis; Hapid Ali (Aktif di PW Lakpesdam NU Jawa Barat & sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Cibiuk, Kab. Garut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here