Peran Penting Kyai-Santri Dalam Perjalanan Panjang Indonesia

31

Muhammad Maksugi, S.Hum – Kyai, santri, dan kebangsaan adalah tiga elemen yang merekat didalam perjalanan panjang sejarah Indonesia yang terepresentasikan didalam sebuah lembaga pendidikan pesantren. Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, nyatanya pesantren tidak hanya mengajarkan muatan ajaran agama semata, tetapi juga mengajarkan tentang arti penting kehidupan yang menghargai kedamaian, dan kebebasan yang semuanya telah mencapai sedemikian rupa hingga sekarang. Namun pencapaian-pencapaian tersebut bukan tanpa perjuangan sama sekali, para Kyai dan santri terdahulu telah ikut mengorbankan darah dan air mata nya untuk kehidupan Indonesia yang damai seperti sekarang ini.

Untuk merefleksikan kembali bagaimana perjalanan panjang kalangan pesantren atau yang dikenal sebagai kaum sarungan dalam mencapai kedamaian di bumi Pertiwi, juga demi menyambut Hari Raya kemerdekaan Indonesia yang ke-76, Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Al-Islamy Bandung menyelenggarakan “Istighosah Kemerdekaan RI ke-76 & Kajian Sejarah Bangsa” yang diselenggarakan secara virtual tepat pada hari kemerdekaan Indonesia itu juga yaitu pada tanggal 17 Agustus 2021.

Didalam agendanya, Kajian Sejarah Bangsa yang bertemakan “Perjuangan Santri-Kyai Mempertahankan Setiap Jengkal Tanah Pertiwi.” Sebagai upaya menggali kembali perjalanan panjang kaum muslim Indonesia di pantik oleh Dr. Wahyu Iryana, M.Hum salah satu Dewan Asatid Pondok Pesantren Mahasiswa Universal yang sekaligus saat ini menjadi dosen SPI di UIN Raden Intan Lampung. Agenda kajian sejarah bangsa virtual tersebut dihadiri oleh para santri Ponpes Universal dan para akademisi sejarah.

Iklan Layanan Masyarakat

Dr. Wahyu memulai perjalanan panjang sejarah Islam saat pedagang-pedagang Portugis mulai berdatangan ke kawasan Nusantara hingga kemudian menguasai kawasan pelayaran paling penting, yaitu Malaka pada tahun 1511. Malaka ditangan Portugis membuat perdagangan di Nusantara tidak stabil akibat pemberlakuan bea cukai di Malaka yang terlalu tinggi. Hal tersebut memicu bersatunya tiga kekuatan Islam di pesisir Jawa bagian utara yaitu Demak, Cirebon, dan Banten untuk menghalau Portugis.

Ketika Cornelis De Houtman bersama pasukan dagang VOC nya datang ke Nusantara pada abad ke-16, jalur perdagangan rempah berhasil ia buka untuk kepentingan Belanda. Melalui proses yang panjang VOC akhirnya menguasai sebagian besar kepulauan Jawa, Sumatera, dan kepulauan-kepulauan lain disekitarnya. Penjajahan yang dilakukan oleh Belanda tersebut pada gilirannya memicu berbagai pemberontakan diwilayah-wilayah secara terpisah, menariknya perlawanan-perlawanan yang menentang penjajahan tersebut banyak muncul dari kalangan muslim.

Pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Diponogoro dengan dibantu Kyai Mojo sebagai pemimpin spiritual misalnya, dikenal sebagai perang Diponogoro yang berlangsung selama lima tahun yaitu antara tahun 1825-1830 dan menjadi perang Jawa paling banyak menghabiskan biaya bagi Hindia-Belanda pada saat itu. Kemudian ada Perang Aceh yang begitu sengit terjadi masih di abad ke-19, perang tersebut melahirkan sosok Cut Nyak Dien pejuang perempuan yang begitu gigih melawan Belanda berasal dari keluarga bangsawan yang taat beragama. Dan berbagai deretan perlawanan lain, hingga pemberontakan yang dilakukan di level paling kecil sekalipun masih dipelopori oleh Kyai seperti yang terjadi pada Pemberontakan Petani Banten pada tahun 1888.

Memasuki abad ke-20 ketika dunia mulai mengalami banyak perubahan, bentuk perlawanan terhadap Belanda sudah tidak lagi dilakukan melalui pemberontakan-pemberontakan kecil di daerah-daerah terpisah, melainkan melalui sebuah perkumpulan yang memiliki visi yang sama, yaitu organisasi. Pada era ini umat Islam menjadi pionir organisasi dengan berdirinya Syarekat Dagang Islam. SDI sebagai sebuah organisasi digenerasi awal telah melahirkan gelombang masyarakat Indonesia untuk mendirikan organisasi-organisasi lainnya yang hingga kini bahkan masih berdiri seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lain sebagainya.

Di era kemerdekaan, perlawanan kaum Santri di Surabaya terhadap agresi Militer Belanda bahkan diperingati sebagai simbol kepahlawanan dengan peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November. Simbol perlawanan kaum santri dan nasionalisme digambarkan jelas dalam resolusi Jihad oleh KH. Hasyim Asy’ari yang salahsatu poin pentingnya adalah menegaskan bahwa hukum membela tanah air adalah fardhu a’in bagi setiap muslim di Indonesia.

Dari perjalanan panjang umat Islam di Indonesia tersebut Dr. Wahyu merefleksikan kembali khususnya kepada santri bahwa eksistensi kaum santri dewasa ini adalah menjaga dan merawat kedamaian dan kebebasan yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pendahulu. Perjalanan panjang itu pula memperlihatkan betapa eksistensi umat Islam di Indonesia begitu berperan penting dalam menentukan kearah mana Indonesia di masa depan. Oleh sebab itu santri sebagai generasi muda Islam yang menentukan masa depan Indonesia, harus menanamkan rasa memiliki dan menjaga untuk Indonesia yang damai dan bebas ini untuk masa depan yang lebih cerah.

Previous articlePemuda Kedai Ide Pancasila merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-76
Next articleOH TALIBAN KEMBALI MENANG
Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Universal al Islami Bandung yang aktif di LTN PWNU Jawa Barat. Mengembangkan website Pesantren yang tergabung dalam Jaringan Media Online Pusat Studi Pesantren. Santri yang terdampar minatnya pada sastra dan konten kreator saat ini sedang mengekspresikan minatnya melalui visual media bernama Kopi Sajak yang sedang di rintisnya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here