The news is by your side.

Perjalan Kang Bambang Melga Mampir ke Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islami Babakan Ciwaringin Cirebon

Perjalan Kang Bambang Melga Mampir ke Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islami Babakan Ciwaringin Cirebon | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa BaratSelama bulan Puasa ini, insyaallah akan hadir tulisan penulis, dari hasil blusukan penulis ke beberapa Pesantren di wilayah Jawa Barat, yang akan mengupas profil dari Pesantren dan Kiai sepuhnya, baik ajaran yang beliaunya sampaikan, maupun amalannya yang biasa ia jalankan, sehingga kita semua bisa membaca suatu perjalanan kehidupan seorang kiai yang layak untuk di ikuti, dicontoh dan menjadi teladan buat kita semuanya.

Perjalanan awal penulis menuju Cirebon terhenti di Gerbang masuk menuju daerah Babakan Ciwaringin yang daerahnya sangat legendaris menurut penulis, karena satu daerah yang di sebut daerah Babakannya saja, ada terdapat puluhan Pesantren yang ada disana, yang pada akhirnya Babakan ini menjadi kampung Santri, dengan keseluruhan Santri mukim di daerah Babakan, yang bertebaran di semua pesantren itu mencapai kurang lebih 10.000 santri di daerah tersebut.

Desa Babakan terletak di kecamatan Ciwaringin, kabupaten Cirebon, provinsi Jawa Barat. Desa seluas sekitar ± 174,175 Ha dengan medan datar, dengan luas wilayah pemukiman penduduk sebesar 50 Ha ini, terletak di perbatasan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Majalengka, berjarak sekitar 30 km dari pusat kabupaten Cirebon.

Ada 37 Pesantren besar dan kecil di wilayah Babakan Ciwaringin ini tak terlepas dari kesejarahannya di masa lalu, di mana pesantren-pesantren tersebut memiliki ikatan keluarga satu sama lainnya, karena merupakan Keturunan dari Kiai Nawawi yang hidup pada tahun 1756.

Seperti biasa, untuk mendapatkan informasi terkait pesantren yang ada di sana, penulis mencoba mengali informasi dari siapapun yang sekiranya bisa penulis tanya, dan Alhamdulillah, walau jam telah menunjukkan pukul 22.00, saat penulis sampai di gerbang Masuk ke wilayah Ciwaringin, hati penulis seperti berkata, perjalanan ini akan dimudahkan.

Dua orang tampak asik ngobrol, diantara mereka, ternyata ada kerabat dari salah satu Pesantren yang ada disana, maka penulis pun berkenalan dengan kang Kiai Sodikin Ali, yang ternyata Beliau masih kerabat dengan pemilik pondok pesantren Kebon Jambu al-Islami yang didirikan oleh K.H. Muhammad.

Yaa, melalui beliaulah penulis bisa datang ke Pesantren Kebon Jambu Al Islami, diwaktu malam, satu waktu yang tak mungkin buat bertamu, jika saja Allah tak menghadirkan kang Kiai Sodikin yang seakan sedang menunggu penulis, hingga ia harus ada di depan gerbang Masuk, dan melalui perantaraan itu, Allah mudahkan urusan penulis untuk bisa bersilaturahmi dengan siapapun kerabat dari pesantren disana, Alhamdulillah.

Berjarak hanya puluhan meter dari gerbang Masuk ke babakan Ciwaringin, penulis diantar Kang Kiai Sodikin menemui Pemilik Pondok, yang ternyata Ibu Nyai Hj. Masriyah Amva, sedang melaksanakan Umroh ke tanah suci, yang akhirnya wawancara dilanjutkan mengali informasi dari Ibu Nyai Awenillah Amva, adik dari ibu Nyai, yang merupakan dewan pengasuh dari Pondok pesantren Kebon Jambu Al Islami ini, juga dari informasi Kang Kiai Sodikin.

Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy didirikan oleh K.H. Muhammad (Alm) yang wafat pada tahun 2006, dan Nyai Hj. Masriyah Amva pada 20 November 1993 di bawah naungan Yayasan Tunas Pertiwi. Perkembangan pondok pesantren Kebon Jambu, terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun, dan pada tahun 1444 H, santrinya telah mencapai 1700 orang, dengan komposisi santri putra 1000 orang, dan santriwati 700 orang.

Pondok pesantren ini terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon, dan berada di wilayah perbatasan, antara Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Majalengka.

Keberadaan banyak pondok pesantren di daerah Babakan Ciwaringin, tak terlepas dari ketokohan seorang ulama saat itu yang bernama Kiai Jatira, atau Syech Hasanuddin seorang tokoh agama yang berasal dari Desa Pamijahan Plumbon, Cirebon.

Dalam sejarahnya, Babakan sering disebut sebagai babak awal perkembangan pendidikan Islam di wilayah Cirebon pada abad XVI dengan tokoh pejuang pertamanya Kyai Jatira, atau Syech Hasanuddin, dan Beliau adalah putra dari KH Abdul Latief, tokoh agama yang bermukim di Desa Pamijahan Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon.

KH Muhammad atau biasa di panggil “Akang,” merupakan pendiri Pondok pesantren Kebon Jambu ini, pesantren Kebon Jambu berada di desa Babakan bagian selatan, dan pertama di dirikan pada tahun 1993. Pondok pesantren yang selanjutnya diberi nama Kebon Jambu Al Islamy ini, ada dalam pengasuhannya, dan beliau mengajarkan kitab-kitab klasik atau kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan.

Kiai Muhammad sendiri berasal dari Kabupaten Kuningan, tepatnya orang Windu Haji Kuningan, adapun sanad keilmuannya berasal dari gurunya, Mbah Sanusi, dan Mbah Sanusi gurunya adalah KH. Amien sepuh, dari Pamijahan Plumbon Pesantren Marikangen, dan tokoh KH Amien sepuh ini, merupakan tokoh utama yang bersama Kiai Abas Buntet, yang komandonya ditunggu KH. Hasyim Asy’ari dalam pertempuran melawan agresi militer Belanda di Surabaya, yang akhirnya melahirkan hari santri, karena adanya resolusi jihad, yang di gaungkan KH. Hasyim Asy’ari itu.

Adapun KH. Amien Sepuh bin KH Arsyad masih merupakan Ahlul Bait dari garis keturunan Sunan Gunung Djati sebagaimana dijelaskan dalam silsilah KH Amin Sepuh, yang disusun oleh KH Mudzakkir.

Kiai Muhammad merupakan seorang yang berkarakter alim, sifatnya santun, ramah, pengajar yang baik, lebih banyak porsi hidupnya untuk mengaji, Beliau seseorang yang menerapkan hidup istiqomah. Menurut Beliau, “Santri harus punya amalan atau bacaan yang di-istiqomah-kan, dan itulah amalan terbaik, walau yang di wiridkan hanya cuma Bismillah.”

“Rajin mengaji, menyebabkan santri pintar, rajin sholat berjamaah menyebabkan seseorang jadi benar.” Itu merupakan wejangan yang seringkali beliaunya sampaikan.

Amalan Kiai Muhammad yang sering beliau lakukan semasa masih hidupnya, adalah ; Wiridan selesai sholat, sholat malam dengan bertahajud, sholat Dhuha saat fajar mulai meninggi di pagi hari.

Bisa dikatakan Kiai Muhammad merupakan sosok yang menjauhi keramaian, Ia lebih banyak berkecimpung dengan para santrinya, tidak suka berurusan dengan dunia luar dan lebih memilih untuk menyibukan dirinya sendiri dengan berkhidmah melalui pesantrennya, khususnya dalam membangun karakter para santriwan dan santriwatinya untuk menjadikan mereka untuk bisa meraih kesuksesan, dan keunggulan dalam kehidupan kedepannya.

Kiai Muhammad juga memberikan wiridan khusus, yang di laksanakan oleh para santri yang menjadi pengurus pondok pesantrennya, adapun wiridan ini manfaatnya adalah, meminta untuk dimudahkan semua urusan, agar dibukakan mata hati, dipintarkan pemahamannya dalam mendapatkan ilmu, dan diberi kebaikan dunia dan akhiratnya.

Adapun wasiat yang harus dipegang teguh para santrinya adalah ;
1. Tidak boleh banyak jajan.
2. Tidak boleh banyak tidur.
3. Tidak boleh banyak keluyuran.
4. Tidak boleh melihat tontonan.
5. Tidak boleh ikut dalam permainan.
6. Tidak boleh Jambulan.
7. Tidak boleh sering pulang.
8. Tidak boleh pindah sebelum 7 tahun.
9. Tidak boleh Boyong sebelum Pandai.

Kiai Muhammad, atau biasa di panggil Akang ini, wafat pada tahun 2006, meninggalkan 2 putra dan 4 orang putri.

Sekarang kepengurusan pesantren Kebon Jambu al Islamy diasuh oleh putera bungsu dari Akang, yakni Kiai Hasan Rohmat Muhammad yang akrab dipangil Ang Omat.

Perjalan Kang Bambang Melga Mampir ke Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islami Babakan Ciwaringin Cirebon | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Ponpes Kebon Jambu memiliki Visi, “Terwujudnya manusia pandai, terampil dan berakhlaqul karimah agar menjadi orang shaleh yang mulia, dan beramal ikhlas.” Sementara misi yang dibangunnya, mencetak insan berpengetahuan luas dalam rangka pembangunan nasional, Mewujudkan manusia berwawasan kebangsaan dan keagamaan, berakhlaqul karimah, menciptakan lembaga yang berkualitas, nyaman dan agamis.

Ponpes ini memiliki bidang Pendidikan mencakup : SMP, MA, MTAS, Ma’had Aly. Adapun Fasilitas pesantren yang dimilikinya berupa masjid pesantren, asrama santri, kantor, asrama pengasuh, dapur, gedung sekolah, lapangan, koperasi santri, perpustakaan, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, gudang, kamar mandi/wc, klinik kesehatan.

Sebagai pengayaan dalam wawasan, minat dan bakat, Ponpes Kebon Jambu memiliki kegiatan ekstrakurikuler untuk para santrinya,di antaranya Kajian kitab-kitab kuning (kitab salaf), Pembinaan Tilawatil Qur’an Latihan berpidato dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Arab), berbahasa Arab dan Inggris sehari-hari, Diskusi dan Penelitian Ilmiah, Kepramukaan Pengembangan Olahraga, Pengembangan Seni Drumband, Qashidah dan Marawis, Pengembangan Seni Beladiri (Tapaksuci); Tahfidzul Qur’an, Pengembangan jurnalistik dan publisistik, Pengembangan Exacta (Lab Skill).

Kehidupan dunia pesantren, merupakan kehidupan para pencari ilmu, dan para santri berkhidmah untuk ketinggian agamanya, tiada yang yang harus dilawan selain kemalasan, dan berjuang hidup untuk bekal masa depan, harus dengan ilmu, dan untuk mendapatkannya harus dengan kegigihan. Semoga para santri di pesantren Kebon Jambu Al Islami ini semuanya mampu menggapai cita-citanya, dan berhasil kehidupan dunia dan akhiratnya, aamiin.

Pewarta Bambang Melga Suprayogi M.Sn
Ketua LTNNU Kabupaten Bandung.

Leave A Reply

Your email address will not be published.