PSIKOLOG : Ssistem Full Day School yang Salah, Sebabkan Anak Emosional

18

PSIKOLOG : Ssistem Full Day School yang Salah, Sebabkan Anak EmosionalRMOL. Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menerapkan sistem belajar full day school (sehari penuh) untuk sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) terus mendapat sorotan. Salah satunya dari Joni Setiawan pakar psikolog di Kota Prabumilih.

Menurutnya, sistem belajar full day school (FDS) sangat baik diterapkan, mengingat konsep dasar dari sistem belajar tersebut berorientasi pada prestasi belajar siswa yang mencakup 3 ranah yakni kognitif,efektif dan psikomotorik.

“Karena pada dasarnya proses sistem pembelajaran FDS tersebut berlangsung secara aktif, kreatif, transformatif sekaligus intensif. Namun, metode belajar ini harus dikemas dengan sistem yang relaks serta jadwal yang tidak membosankan,” ungkapnya.

Iklan Layanan Masyarakat

Lebih lanjut, Joni menyampaikan, sebelum sistem FDS ini diterapkan pemerintah dalam hal ini Kemendikbud harus benar benar mempersiapkan segala sesuatunya secara matang sehingga sistem FDS tersebut betul betul bermanfaat bagi siswa.

“Yang pertama dan utama Pemerintah harus menyiapkan SDM tenaga pengajar yang handal serta menyiapkan sarana dan prasarana pendukung. Selain itu, peran orang tua juga  harus dimaksimalkan seperti tetap menjaga komunikasi dengan anak, tetap memberikan perhatian, pendampingan dan bimbingan ketika anak berada dirumah. Jadi harus tetap ada keseimbangan antara apa yang mereka dapat di sekolah dengan dirumah,” ujarnya.

Namun apabila hal tersebut tidak dilaksanakan secara benar, sambung Joni, maka akan berdampak buruk pada psikologi anak itu sendiri. Anak anak juga akan kehilangan banyak waktu di rumah dan belajar tentang hidup bersama keluarganya.

“Nantinya bukan membawa manfaat, malah membebani siswa. Sistem belajar yang monoton juga secara tidak langsung akan membunuh kesegaran berpikir dan akhirnya menyebabkan kejenuhan serta kelelahan pada si anak, membuatnya malas bercengkrama bersama keluarga. Anak juga bisa menjadi mudah emosional karena stres memikirkan pelajaran,” terangnya.

Joni menuturkan sistem belajar FDS tersebut tidak bisa sepenuhnya diterapkan didaerah. Mengingat, program tersebut biasa diterapkan pada kota kota besar, dimana para orang tua sibuk bekerja dan tidak memiliki cukup waktu untuk anak.

“Metode ini merupakan siasat bagi orang tua yang minim waktu buat anak. Sehingga sebagai bentuk pengawasan dari pengaruh luar, orang tua menekankan pada pembelajaran anak disekolah,” tuturnya menambahkan. [yip]

Sumber : RMOL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here