The news is by your side.

Radikalisme dan Terorisme di Indonesia, Akademisi: Selip Sedikit, Tamat Kita

Bandar Lampung, NU Online
Di tengah paham radikal dan praktik terorisme yang terjadi di Indonesia, seluruh elemen bangsa mempunyai tanggung jawab dalam mencegahnya. Karena menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Prof Muhammad Mukri, sedikit lengah, bisa jadi nasib bangsa ini sama seperti negara-negara di Timur Tengah, perang suadara tak berkesudahan.
“Terorisme sudah nyata di Indonesia. Polisi melihat tapi tidak bisa menangkap langsung. Selip sedikit, tamat kita,” kata Mukri saat hadir pada Acara Dialog Ormas Islam yang diselenggarakan oleh MUI Provinsi Lampung di Aula Universitas Malahayati Bandar Lampung, Kamis (20/7).
Berbagai kelompok radikal yang mengarah kepada teroris ini menggunakan berbagai cara untuk memaksakan konsep aliran mereka digunakan di Indonesia yang merupakan negara penuh dengan kebhinekaan.
“Bangsa Indonesia sudah sepakat bahwa kita adalah Negara Kesatuan dengan Ideologi Pancasila yang di dalamnya berbagai macam Agama,” kata pria yang juga Mustasyar PWNU Lampung ini pada dialog yang mengangkat tema Mengembangkan Islam Washatiyyah untuk Meneguhkan Komitmen Bersama Terhadap Pancasila dan NKRI.
Ia mengatakan, membuat organisasi diperbolehkan selama tidak menimbulkan perselisihan. “Dalam Al Quran disebutkan bahwa berbeda agama saja boleh apalagi berbeda kelompok. Yang tidak boleh adalah berselisih,” tegas Ketua Dewan Pertimbangan MUI Provinsi Lampung ini seraya mengajak kepada umat Islam untuk memegang prinsip washatiyyah (moderatisme) dalam beragama.
Prinsip washatiyyah ini, lanjutnya, memiliki arti berada diposisi tengah dengan tidak condong kekiri ataupun condong kekanan. “Kalau condong kekanan akan gampang memperbolehkan banyak hal dan cenderung liberal. Kalau terlalu kekiri akan sering melarang, menyalahkan dan membid’ahkan,” katanya.
Dengan sikap washatiyah inilah yang menjadikan Indonesia menjadi sorotan dunia karena mampu mengelola keberagaman yang ada. Indonesia mampu menjadi model bahwa di tengah kebhinekaan yang ada, kerukunan masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan berbagai aspek lainnya dapat tumbuh dengan baik.
Berbeda dengan Negara-Negara Timur Tengah yang selalu dilanda konflik dan peperangan walaupun didalamnya banyak kesamaan yang ada seperti kesamaan Agama dan Bahasa.
Ia mengajak kepada umat Islam di Indonesia untuk menjaga dan mempertahankan kondisi ini dengan terus menyamakan gelombang serta frekwensi pemikiran agar tidak mudah dipecah belah. (Muhammad Faizin/Fathoni)
Sumber : NU Online

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.