Syekh Tolhah bin Tolabudin Sebagai Pejuang Bangsa

483

Oleh Sa’dun

Menjelang acara Haul Syekh Tolhah yang tahun sekarang akan diadakan hari Selasa (17 Juli), banyak sekali aspek yang menjadi renungan bagi penulis terkait perjuangan beliau pada masa hidupnya (1825-1935). Lahir di Desa Trusmi dengan setting sosial bangsa yang sedang berada dalam situasi penjajahan, beliau mengambil peran sangat mendasar dalam proses transformasi bangsa.

Sempat menjadi santri Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon serta Lirboyo Kediri Jawa Timur, beliau kemudian menimba ilmu di Makkah serta menjadi murid Syeikh Ahmad Khatib Sambas bin Abdul Gaffar –pendiri anumerta Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) bersama-sama dengan Syeikh Abdul Karim Banten serta Maulana Kholil Bangkalan.

Tahun 1873 beliau kembali dari Makkah serta tahun 1876 mulai merintis Pesantren Begong di daerah Kalisapu Cirebon sekarang dalam posisi wakil Talqin TQN untuk wilayah Cirebon.

Tahun-tahun tersebut adalah tahun-tahun yang sulit serta pengembangan tarekat sangat diawasi oleh pemerintah kolonial. Fakta menunjukkan bahwa kalangan tarekat adalah pejuang bangsa paling tangguh. Di Cirebon sendiri antara tahun 1802-1818, Belanda sudah sangat direpotkan oleh perlawanan Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Jabin serta Ki Bagus Serit. Mereka semua adalah orang-orang tarekat. Alkisah, perang Jawa yang dipimpin seorang pertapa asketik sekaligus pejuang heroik dari Gua Selarong, Pangeran Diponegoro, tersulut bara semangatnya oleh perjuangan Ki Bagus Rangin, Kyai serta santri-santri Ciwaringin.

Awal menyebarkan TQN di Cirebon berhadapan dengan situasi sangat genting. Pada tahun tahun tersebut perlawanan orang-orang tarekat, khususnya di Jawa Bagian Barat semakin meluas serta berpuncak pada Geger Cilegon pada tahun 1888 yang digerakkan santri-santri Syeikh Abdul Karim Banten. Berselang masa 1 tahun dari Geger Cilegon, Syeikh Tolhah Kalisapupun ditangkap pemerintah kolonial serta dipenjara atas tuduhan makar serta penghinaan terhadap Ratu Minhelmina di Belanda.

Dari konteks ini kita bisa paham, karena keluarga dalam situasi sangat ketat diawasi Belanda, Syeikh Malawi, putra Syeikh Tolhah, menolak estafet kemursyidan yang akan diberikan ramandanya, karena akan susah berkembang kehidupan tarekat itu, kalau beliau sendiri yang memegang. Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammadlah –ayahanda Abah Anom yang kemudian terpilih sebagai Mursyid dengan basis gerakan Pondok Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya. Syeikh Tolhah juga yang memberi nama Suryalaya bagi keberadaan pondok tersebut.

Sementara Suryalaya mengukir sejarah perkembangannya sendiri, dari sumber KH. Zamzami Amin, pada jalur keluarga pun garis kemursyidan itu tetap berlangsung. Dari Sheikh Tolhah, Syeikh Malawi, KH. Zainal Abidin, KH. Muhammad Qosim serta pada KH. Zamzami Amin sendiri sekarang.

Demikianlah sepenggal kisah perjalanan hidup Syeikh Tolhah yang terus bisa diteladani generasi milenial sekarang. Posisi beliau sebagai transformator besar, harus kita ambil spiritnya sesuai the spirit of the age abad ke-21.

Tanah Keramat Kedokanbunder Indramayu , pada Ahad pagi yang cerah, 15 Juli 2018. (Sa’dun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here