Tanggapi Pertanyaan Maulid Nabi Bid’ah, Mahfud MD: Jangan Memprovokasi
Jakarta, NU Online
Perayaan Maulid Nabi sudar berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun. Maulid Nabi dirayakan dengan cara meriah pertama kali pada zaman Dinasti Abbasiyah. Khususnya pada masa kekhalifahan Al-Hakim Billah. Pada saat itu, Khalifah Al-Hakim Billah keluar dari istana bersama permaisurinya dengan memakai pakaian yang indah.
Sejak saat itu, perayaan Maulid Nabi terus berkembang hingga hari ini. Tergantung adat istiadat dan ‘kreasi’ komunitas Muslim setempat. Pada era sekarang, Maulid Nabi hampir diselenggarakan di semua negara Muslim atau pun negara-negara yang memiliki populasi Muslim cukup signifikan seperti Kanada, Amerika, India, Inggris, Prancis, dan lainnya.
Meski demikian, ada saja sekelompok Muslim yang anti terhadap Maulid Nabi. Mereka menganggap Maulid Nabi sebagai bid’ah karena tidak ada dalilnya. Selain itu, mereka juga berargumen kalau Nabi Muhammad dan para sahabat tidak ada yang merayakan Maulid Nabi.
Pandangan kalau Maulid Nabi bid’ah masih saja menggejala di Indonesia. Ada saja yang mempertanyakan hal itu. Salah satunya seorang warganet @rezkymustikap. Ia mempertanyakan pandangan yang menyebut Maulid Nabi Bid’ah kepada Mahfud MD di media sosial.
“Bagaimana pandangannya terhadap Maulidan yang dikatakan bid’ah?” tanya @rezkymustikap.
Mendapat pertanyaan tentang hal itu, Mahfud MD meminta agar tidak memprovokasi umat dengan isu Maulid Nabi bid’ah. Menurut dia, isu tersebut sudah usang dan tidak perlu untuk didiskusikan lagi.
“Jangan memprovokasi dengan isu bid’ah. Itu sudah kuno dan tidak laku untuk didiskusikan,” tulis Mahfud MD di akun Instagramnya, Selasa (20/11).
Mahfud MD kemudian menyebut salah satu ormas Islam yang dulunya memang ‘alergi’ dengan Maulid Nabi, namun saat ini tidak mempermasalahkannya lagi.
“Muhammadiyah pun sekarang sudah tak lagi ribut dengan isu bid’ah. Itu tak menarik lagi untuk dibahas,” jelasnya.
Mahfud MD lalu meminta warganet tersebut untuk mendiskusikan isu lain yang memang perlu didiskusikan seperti radikalisme.
“NU & Muhammadiyah sekarang sama-sama menghadapi radikalisme. Isu lain saja, Rezky,” kata Mahfud MD. (Red: Muchlishon)
Sumber : NU Online
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.



